Tak semestinya air mataku ini kembali mengalir, setelah kepergianmu di
dunia ini. Tak seharusnya aku merasa sepi, tanpa kehadiranmu disampingku. Aku
selalu merindukanmu, walau kita berada di dunia berbeda. Aku akan selalu
mengingatmu, sampai akhir menutup mata.
________________________
Beribu-ribu kali Mala membaca buku diarynya dan air matanya tidak bisa
berhenti mengalir. Sejak kekasihnya yang bernama Kevin meninggal, Mala lebih
sering berdiam diri di kamarnya. Bergaul bersama sahabatnya pun jarang ia
lakukan. Pagi ini terlihat berbeda dari biasanya. Mala berangkat sekolah dengan
jalan kaki sendiri. Tanpa Kevin di sampingnya.
Sesampai di sekolah, Mala langsung berlari menuju kelasnya. Ia tak peduli
sapaan dari sahabatnya. Salah satu teman dekat Mala adalah Yeni. Yeni, cewek
tinggi dan cantik. Yeni dan Mala sudah bersahabat dari SD.
“Hai Mala!” Sapa Yeni ramah.
Mala tak menyahut. Ia masih menampilkan wajahnya yang sedang bersedih.
Sebenarnya, Yeni kasian melihat Mala yang sedang bersedih. Tapi, Yeni
sedikitpun tidak bisa mengubah wajah Mala yang sedih menjadi ceria. Hanya Kevin
lah yang bisa membuat wajah Mala menjadi ceria.
Yeni menyerah. Lebih baik ia belajar saja. Ia sudah tidak bisa lagi
menghibur Mala. Menit kemudian, Bu Asih datang dan berbicara.
“Anak-anak, hari ini kita ulangan Matematika.”
Spontan seluruh siswa di kelas XI-B kaget mendengar ucapan Bu Asih. Memang
Bu Asih sering melakukan ulangan dadakan agar siswa-siswanya tidak belajar saat
ulangan saja.
“Kalian itu kalau mau belajar jangan pas ulangan saja. Setiap harilah
kalian belajar. Satu soal cukup kalian pelajari dalam sehari saja.”
Para siswa masih terngiang dengan nasehat dari Bu Asih seminggu yang lalu.
Tentu saja ada yang menuruti nasehat Bu Asih, dan ada yang tidak menuruti. Itu
tergantung orangnya. Kalau Mala dan Yeni sih mau-mau aja. Mereka kan ingin
mendapatkan nilai yang bagus dan dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih
tinggi.
______________________________
Teng..Teng...Teng
Bel istirahat akhirnya berbunyi. Yeni, Dara, dan Erlin segera ngacir ke
kantin. Eits, bukan untuk berbelanja. Mereka pergi ke kantin demi menemui sang
kekasih. Mala bersama Irsyad, Dara bersama Rio, dan Erlin bersama Aji. Kalau
Mala... Sepertinya dia masih memojok di bangkunya. Sepi dan kosong.
Ada seorang cowok yang menduduki bangku Kevin. Mala melihat cowok itu
dengan mata yang melotot. Didekatinya cowok itu dengan tatapan muka yang tidak
senang.
“Hei Deni, ngapain Lo duduk di bangku pacar Gue? Ha?.”
“Hahahaha... Pacar Lo kan udah nggak ada. Terserah Gue sih mau duduk
disini.”
Mala semakin geram. “Lo itu nggak punya hati ya! Lo nggak kasian sama Gue.
Coba kalo Lo punya pacar, terus pacar Lo mati, gimana rasanya?.”
“Ahahaha, Gue males punya pacar. Bikin ribet aja.”
Mala tak habis diam. Jadilah pertarungan antara Mala dengan Deni. Walaupun
Mala cewek, tapi Mala jago karate. Dulu, ia pernah ngalahin cowok yang lebih
besar dari dirinya. Kalau ngalahin Deni, cowok kurus dan item, siapa takut.
“Woi!” Teriak Rifki, si ketua kelas.
“Ngapain kalian berdua berkelahi?.”
Deni dan Mala terdiam. Sepertinya Mala ingin menangis lagi. Cepat-cepat ia
berlari menuju Taman. Tempat yang sering ia kunjingi bersama Kevin.
______________________________________
“Mala itu keterlaluan. Masa’ tempat duduknya Kevin nggak boleh didudukin
orang sih?.” Gerutu Dara.
“Heh, Lo nggak boleh begitu. Mala kan teman kita, biarlah dia begitu. Mala
itu masih sedih karena Kevin meninggal.” Jelas Yeni.
“Kalo seandainya ada murid baru gimana? Masa’ murid baru itu nggak boleh
duduk di bangku Kevin?.” Tambah Dara lagi.
“Yaa, jangan sampe ada murid baru deh.” Jawab Yeni.
Tiba-tiba Mala datang dengan mata yang merah berair. Semua teman-temannya
sedih melihat Mala. Tanpa berbicara, Mala langsung pergi. Ia nggak tahan
melihat sahabatnya berbahagia dengan kekasihnya masing-masing.
“Kasian ya Mala..” Kata Erlin.
“Kita doain aja ya Mala nggak sedih lagi, gimana?.” Usul Aji
“Itu sudah pasti Ji.” Jawab Yeni.
Bel pun berdering. Semua Murid yang berada di luar langsung masuk ke
kelasnya masing-masing. Demi mendapatkan ilmu dari sang guru.
____________________________________
Hai Kevin! Sedang apa Lo sekarang? Gue bete nih sendirian. Ke rumah gue aja
ya. Love you Kevin...
Hampir sejaman Mala berbicara sendiri. Mama dan Papanya khawatir kalau Mala
menjadi stres karena meninggalnya Kevin. Pintu kamar pun terbuka. Mama memasuki
kamar Mala dan duduk di samping Mala yang masih sedih.
“Sayang, kamu nggak apa-apa?.”
“Pergi Ma, Mala mau sendiri.” Bentak Mala.
“Tapi, sahabat-sahabatmu nunggu kamu tuh di luar.”
“Mala nggak peduli. Usir aja dia.”
Mama tak bisa berkata apa-apa lagi. Mala sudah berubah total saat Kevin
meninggal. Bebagai cara telah Mama lakukan agar Mala kembali ke sedia kala.
Tapi hasilnya nihil. Mala tetap tak mau kembali ke hidupnya semula.
_______________________________
Pagi yang buruk datang juga. Sama seperti kemarin. Mala tetap berjalan kaki
sendiri tanpa adanya Kevin. Di sekolah pun Mala tetap sendiri. Tidak mau bicara
sedikitpun. Apalagi berkumpul dengan sahabatnya.
Bu Nely, wali kelas XI-B datang diiringi seorang cowok. Mungkin itu murid
baru. Dan benar saja. Cowok itu akan menjadi penghuni baru di kelas XI-B.
“Anak-anak, kita ada murid baru. Ayo, kenalkan dirimu di depan teman
barumu.”
“Mmm, nama saya Farhan. Saya dari Tomohon.”
Semua murid tersenyum atas kedatangan Farhan. Kecuali Mala. Pasti murid
baru itu akan menduduki bangku Kevin. Perlahan, Mala menatapi murid baru itu
yang berjalan dengan santai menuju bangku Kevin dan langsung mendudukinya.
Ekpresi wajah Mala berubah menjadi geram.
“Jangan duduki bangku itu!” Teriak Mala. Semua siswa kaget mendengar
teriakan Mala yang secara tiba-tiba.
“Mala, kamu jangan begitu. Biarlah Farhan yang menduduki bangku itu.”
Mala tidak membantah. Air matanya mengalir semakin deras.
“Maafin gue ya Vin..” Ucapnya dalam hati.
____________________________
Hari berlalu, bulan berlalu, Mala tetap dalam kesendirian. Meskipun air
matanya tidak lagi menetes seperti bulan-bulan kemarin. Suatu pagi, Farhan
menemuinya. Wajah Mala berubah menjadi geram. Sejak Farhan menjadi warga di
kelas ini, Mala selalu memberikan wajah sebalnya terhadap Farhan.
“Ngapain Lo disini? Lo udah puas ngerebut bangku Kevin?.”
“Mala... Lo jangan begitu, Lo harus ikhlas, kalo Lo nggak ikhlas, Kevin
nggak akan bahagia di alam sana, oya, mau nggak besok gue ajak Lo jalan-jalan?
Gue mau nyeritain hal penting yang harus Lo ketahui? Gimana?.”
Mala menghela nafas. Ia tidak tau apakah ia menyetujui ajakan Farhan. Tapi
ya, karena ada hal penting, jadinya Mala menyetujui.
“Okelah, tapi jangan lama-lama..”
Farhan tersenyum bahagia lalu pergi meninggalkan Mala.
_________________________________
Waktu yang dijanjikan Farhan telah tiba. Farhan mengajak Mala pergi ke
suatu taman. Perasaan Mala semakin aneh. Taman yang dimaksud Farhan adalah
taman yang sering ia datangi bersama Kevin. Apakah ada hubungan Farhan dengan
Kevin yaa????
“Mala, gue mau cerita ke elo. Lo mau nggak dengerin cerita gue?.”
“Iya.”
“Hhh, kisah cinta Lo sama kisah cinta gue itu sama. Lo bilang, Kevin cinta
pertama Lo, tapi dia udah meninggal. Dulu, gue juga memiliki seorang kekasih,
malahan dia itu cinta pertama gue, tapi...” Farhan menghela nafas dan memperbaiki
tempat duduknya. “Tapi cinta pertama gue itu meninggal. Sebenarnya, gue itu
sedih dan nggak rela kalo dia pergi, tapi, gue harus mengerti kalo Tuhan tidak
salah pilih mengambinya. Dan Kevin... Dia itu sepupu gue, Kevin nyuruh gue
untuk menjaga kekasihnya, dan itu elo. Di tahun ini, gue udah kehilangan dua
orang yang gue cintai, yaitu cinta pertama gue sama Kevin.”
Mala menangis mendengar cerita Farhan. Tak terasa ia menangis dipelukan
Farhan.
“Maafin gue ya Han udah sering marahin Lo, pasti hati Lo semakin sakit
yaa?.”
“Nggak kok La, gue lega karna Lo mau mendengar cerita gue.”
“Hehehe, jadi, Lo mau nembak gue gitu? Untuk jadiin cinta kedua Lo?.”
“Ih Mala ini...”
Mala dan Farhan tertawa bersama melepas kesedihan yang menyerang hidup
mereka berdua.
So, kesedihan nggak akan hilang tanpa ada kebahagiaan. Bahagialah
untuk menjalani hidup, jangan ada
kesedihan yang menghantui hidup kita.
____________________________________END______________________________________________