Rabu, 24 Oktober 2012

Cerpen : My Second Love



Tak semestinya air mataku ini kembali mengalir, setelah kepergianmu di dunia ini. Tak seharusnya aku merasa sepi, tanpa kehadiranmu disampingku. Aku selalu merindukanmu, walau kita berada di dunia berbeda. Aku akan selalu mengingatmu, sampai akhir menutup mata.
________________________
Beribu-ribu kali Mala membaca buku diarynya dan air matanya tidak bisa berhenti mengalir. Sejak kekasihnya yang bernama Kevin meninggal, Mala lebih sering berdiam diri di kamarnya. Bergaul bersama sahabatnya pun jarang ia lakukan. Pagi ini terlihat berbeda dari biasanya. Mala berangkat sekolah dengan jalan kaki sendiri. Tanpa Kevin di sampingnya.
Sesampai di sekolah, Mala langsung berlari menuju kelasnya. Ia tak peduli sapaan dari sahabatnya. Salah satu teman dekat Mala adalah Yeni. Yeni, cewek tinggi dan cantik. Yeni dan Mala sudah bersahabat dari SD.
“Hai Mala!” Sapa Yeni ramah.
Mala tak menyahut. Ia masih menampilkan wajahnya yang sedang bersedih. Sebenarnya, Yeni kasian melihat Mala yang sedang bersedih. Tapi, Yeni sedikitpun tidak bisa mengubah wajah Mala yang sedih menjadi ceria. Hanya Kevin lah yang bisa membuat wajah Mala menjadi ceria.
Yeni menyerah. Lebih baik ia belajar saja. Ia sudah tidak bisa lagi menghibur Mala. Menit kemudian, Bu Asih datang dan berbicara.
“Anak-anak, hari ini kita ulangan Matematika.”
Spontan seluruh siswa di kelas XI-B kaget mendengar ucapan Bu Asih. Memang Bu Asih sering melakukan ulangan dadakan agar siswa-siswanya tidak belajar saat ulangan saja.
“Kalian itu kalau mau belajar jangan pas ulangan saja. Setiap harilah kalian belajar. Satu soal cukup kalian pelajari dalam sehari saja.”
Para siswa masih terngiang dengan nasehat dari Bu Asih seminggu yang lalu. Tentu saja ada yang menuruti nasehat Bu Asih, dan ada yang tidak menuruti. Itu tergantung orangnya. Kalau Mala dan Yeni sih mau-mau aja. Mereka kan ingin mendapatkan nilai yang bagus dan dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
______________________________
Teng..Teng...Teng
Bel istirahat akhirnya berbunyi. Yeni, Dara, dan Erlin segera ngacir ke kantin. Eits, bukan untuk berbelanja. Mereka pergi ke kantin demi menemui sang kekasih. Mala bersama Irsyad, Dara bersama Rio, dan Erlin bersama Aji. Kalau Mala... Sepertinya dia masih memojok di bangkunya. Sepi dan kosong.
Ada seorang cowok yang menduduki bangku Kevin. Mala melihat cowok itu dengan mata yang melotot. Didekatinya cowok itu dengan tatapan muka yang tidak senang.
“Hei Deni, ngapain Lo duduk di bangku pacar Gue? Ha?.”
“Hahahaha... Pacar Lo kan udah nggak ada. Terserah Gue sih mau duduk disini.”
Mala semakin geram. “Lo itu nggak punya hati ya! Lo nggak kasian sama Gue. Coba kalo Lo punya pacar, terus pacar Lo mati, gimana rasanya?.”
“Ahahaha, Gue males punya pacar. Bikin ribet aja.”
Mala tak habis diam. Jadilah pertarungan antara Mala dengan Deni. Walaupun Mala cewek, tapi Mala jago karate. Dulu, ia pernah ngalahin cowok yang lebih besar dari dirinya. Kalau ngalahin Deni, cowok kurus dan item, siapa takut.
“Woi!” Teriak Rifki, si ketua kelas.
“Ngapain kalian berdua berkelahi?.”
Deni dan Mala terdiam. Sepertinya Mala ingin menangis lagi. Cepat-cepat ia berlari menuju Taman. Tempat yang sering ia kunjingi bersama Kevin.
______________________________________
“Mala itu keterlaluan. Masa’ tempat duduknya Kevin nggak boleh didudukin orang sih?.” Gerutu Dara.
“Heh, Lo nggak boleh begitu. Mala kan teman kita, biarlah dia begitu. Mala itu masih sedih karena Kevin meninggal.” Jelas Yeni.
“Kalo seandainya ada murid baru gimana? Masa’ murid baru itu nggak boleh duduk di bangku Kevin?.” Tambah Dara lagi.
“Yaa, jangan sampe ada murid baru deh.” Jawab Yeni.
Tiba-tiba Mala datang dengan mata yang merah berair. Semua teman-temannya sedih melihat Mala. Tanpa berbicara, Mala langsung pergi. Ia nggak tahan melihat sahabatnya berbahagia dengan kekasihnya masing-masing.
“Kasian ya Mala..” Kata Erlin.
“Kita doain aja ya Mala nggak sedih lagi, gimana?.” Usul Aji
“Itu sudah pasti Ji.” Jawab Yeni.
Bel pun berdering. Semua Murid yang berada di luar langsung masuk ke kelasnya masing-masing. Demi mendapatkan ilmu dari sang guru.
____________________________________
Hai Kevin! Sedang apa Lo sekarang? Gue bete nih sendirian. Ke rumah gue aja ya. Love you Kevin...
Hampir sejaman Mala berbicara sendiri. Mama dan Papanya khawatir kalau Mala menjadi stres karena meninggalnya Kevin. Pintu kamar pun terbuka. Mama memasuki kamar Mala dan duduk di samping Mala yang masih sedih.
“Sayang, kamu nggak apa-apa?.”
“Pergi Ma, Mala mau sendiri.” Bentak Mala.
“Tapi, sahabat-sahabatmu nunggu kamu tuh di luar.”
“Mala nggak peduli. Usir aja dia.”
Mama tak bisa berkata apa-apa lagi. Mala sudah berubah total saat Kevin meninggal. Bebagai cara telah Mama lakukan agar Mala kembali ke sedia kala. Tapi hasilnya nihil. Mala tetap tak mau kembali ke hidupnya semula.
_______________________________
Pagi yang buruk datang juga. Sama seperti kemarin. Mala tetap berjalan kaki sendiri tanpa adanya Kevin. Di sekolah pun Mala tetap sendiri. Tidak mau bicara sedikitpun. Apalagi berkumpul dengan sahabatnya.
Bu Nely, wali kelas XI-B datang diiringi seorang cowok. Mungkin itu murid baru. Dan benar saja. Cowok itu akan menjadi penghuni baru di kelas XI-B.
“Anak-anak, kita ada murid baru. Ayo, kenalkan dirimu di depan teman barumu.”
“Mmm, nama saya Farhan. Saya dari Tomohon.”
Semua murid tersenyum atas kedatangan Farhan. Kecuali Mala. Pasti murid baru itu akan menduduki bangku Kevin. Perlahan, Mala menatapi murid baru itu yang berjalan dengan santai menuju bangku Kevin dan langsung mendudukinya. Ekpresi wajah Mala berubah menjadi geram.
“Jangan duduki bangku itu!” Teriak Mala. Semua siswa kaget mendengar teriakan Mala yang secara tiba-tiba.
“Mala, kamu jangan begitu. Biarlah Farhan yang menduduki bangku itu.”
Mala tidak membantah. Air matanya mengalir semakin deras.
“Maafin gue ya Vin..” Ucapnya dalam hati.
____________________________
Hari berlalu, bulan berlalu, Mala tetap dalam kesendirian. Meskipun air matanya tidak lagi menetes seperti bulan-bulan kemarin. Suatu pagi, Farhan menemuinya. Wajah Mala berubah menjadi geram. Sejak Farhan menjadi warga di kelas ini, Mala selalu memberikan wajah sebalnya terhadap Farhan.
“Ngapain Lo disini? Lo udah puas ngerebut bangku Kevin?.”
“Mala... Lo jangan begitu, Lo harus ikhlas, kalo Lo nggak ikhlas, Kevin nggak akan bahagia di alam sana, oya, mau nggak besok gue ajak Lo jalan-jalan? Gue mau nyeritain hal penting yang harus Lo ketahui? Gimana?.”
Mala menghela nafas. Ia tidak tau apakah ia menyetujui ajakan Farhan. Tapi ya, karena ada hal penting, jadinya Mala menyetujui.
“Okelah, tapi jangan lama-lama..”
Farhan tersenyum bahagia lalu pergi meninggalkan Mala.
_________________________________
Waktu yang dijanjikan Farhan telah tiba. Farhan mengajak Mala pergi ke suatu taman. Perasaan Mala semakin aneh. Taman yang dimaksud Farhan adalah taman yang sering ia datangi bersama Kevin. Apakah ada hubungan Farhan dengan Kevin yaa????
“Mala, gue mau cerita ke elo. Lo mau nggak dengerin cerita gue?.”
“Iya.”
“Hhh, kisah cinta Lo sama kisah cinta gue itu sama. Lo bilang, Kevin cinta pertama Lo, tapi dia udah meninggal. Dulu, gue juga memiliki seorang kekasih, malahan dia itu cinta pertama gue, tapi...” Farhan menghela nafas dan memperbaiki tempat duduknya. “Tapi cinta pertama gue itu meninggal. Sebenarnya, gue itu sedih dan nggak rela kalo dia pergi, tapi, gue harus mengerti kalo Tuhan tidak salah pilih mengambinya. Dan Kevin... Dia itu sepupu gue, Kevin nyuruh gue untuk menjaga kekasihnya, dan itu elo. Di tahun ini, gue udah kehilangan dua orang yang gue cintai, yaitu cinta pertama gue sama Kevin.”
Mala menangis mendengar cerita Farhan. Tak terasa ia menangis dipelukan Farhan.
“Maafin gue ya Han udah sering marahin Lo, pasti hati Lo semakin sakit yaa?.”
“Nggak kok La, gue lega karna Lo mau mendengar cerita gue.”
“Hehehe, jadi, Lo mau nembak gue gitu? Untuk jadiin cinta kedua Lo?.”
“Ih Mala ini...”
Mala dan Farhan tertawa bersama melepas kesedihan yang menyerang hidup mereka berdua.
So, kesedihan nggak akan hilang tanpa ada kebahagiaan. Bahagialah untuk  menjalani hidup, jangan ada kesedihan yang menghantui hidup kita.
____________________________________END______________________________________________

Cerpen : Triangle Love



Seorang gadis sedang memandangi gelapnya malam hari. Sang purnama mengintipnya dari balik jendela kamarnya yang bening. Gadis itu berkhayal ingin memiliki sesosok pangeran yang selalu menyayanginya apa adanya. Angin berhembus kencang. Gadis itu semakin kedinginan. Ia tau cuaca malam ini tidak bersahabat. Ditutupnya jendela kamarnya secara perlahan.
Besok adalah hari Senin. Ia ingat. Besok adalah hari ulang tahunnya. Ia tidak peduli apa yang akan dilakukan teman-temannya di saat ia ulang tahun. Apakah  ia akan dilempar dengan tepung? Ataukah dengan telur? Yang jelas ia tidak peduli. Sekarang, ia harus berkonsentrasi belajar karena besok ada ulangan biologi.
_________________________________
Jam weker menunjukkan hampir pukul tujuh pagi. Via, gadis manis itu cepat-cepat turun dari kasurnya dan segera menuju ke kamar mandi. Sial banget gue hari ini. Gerutunya dalam hati. Tiba-tiba, kakaknya yang bernama Ulfa langsung mencegatnya.
“Happy birtday ya adekku yang cantik.”
Via hanya tersenyum lalu pergi tanpa menjawab ucapan selamat dari kak Ulfa. Di dalam kamar mandi, Via sibuk menghafal pelajaran biologinya. Untung saja Via pintar dan semua pelajaran yang ia pelajari masuk ke otaknya.
__________________________________
Pintu gerbang hampir saja ditutup oleh satpam berkumis tebal itu. Tapi Via masih bersyukur karena satpam itu memberinya izin untuk masuk. Cepat-cepat Via berlari menuju ruang kelasnya. Dalam perjalanan, Via tak sengaja menabrak seorang cowok. Akibatnya, tubuh Via terjatuh ke tanah. Cowok yang ditabraknya itu langsung menolongnya untuk berdiri.
“Hei, Lo nggak apa-apa?.”
“Nggak apa-apa kok.”
Wajah cowok itu kelihatan manis. Pipi Via merona merah. Hanya masalah cowok saja pipinya langsung memerah. Via bangkit dan langsung berterimakasih kepada cowok yang menolongnya itu.
“Makasih ya.”
“Iya sama-sama. Lo siapa?.”
“Aku Via. Kalau Lo?.”
“Aku Ezza. Senang ketemu dengan Lo ya. Oya, gue pergi dulu yaa.”
Via mengangguk pelan melihat kepergian Ezza. Ah, cowok itu sudah memikat hatinya. Kenapa juga ia jatuh cinta pada cowok ganteng itu? Via berhenti berpikir. Ia langsung berlari menuju kelasnya.
_____________________________
Jam istirahat tiba. Via beserta ketiga temannya pergi menuju kantin. Setiap hari, mereka pergi ke kantin demi membeli nasi goreng buatan Pak Sobi yang lezat itu.
“Hai Via!” Sapa seseorang.
“Oh, elo Van. Hai juga!” Balas Via sambil tersenyum.
Benar. Irvan. Cowok itu juga sering memikat hatinya. Irvan sering mengajaknya jalan-jalan ke Taman menggunakan mobilnya yang keren itu.
“Emm, Lo ada waktu nggak nanti sore?.”
“Ada kok, emangnya ada apa?.”
“Nanti gue ajak Lo pergi ke tempat yang indah. Mau kan?.”
“Iya deh.”
Irvan langsung berlalu dihadapan Via. Sesaat, Via berpikir. Mau apa ya si Irvan ngajak gue ke tempat yang indah? Pasti ada sesuatu nih yang pengen dia bicarakan ke gue?
________________________________
Cowok itu tersenyum bahagia sejak kejadian tadi pagi. Ah Via. Lo cantik banget. Pujinya dalam hati. Ezza benar-benar telah jatuh cinta pada Via. Ia yakin sekali. Tiba-tiba pintu terbuka. Heem, ternyata ada Irvan. Sepupunya.
“Ada apa Van?.”
“Emm, gue sedih dih.”
“Sedih kenapa?”
Irvan menghela nafas panjang. Ia lalu menceritakan kejadiannya tadi sore. Sebenarnya, ia ingin menembak Via, cewek impiannya. Tapi Via menolaknya dengan halus. Katanya, Via belum siap untuk pacaran. Via juga bilang kalau dia sayang sama Irvan dan cinta sama Irvan. Aneh kan? Kalau sudah cinta, kenapa nggak terima aja cinta dari Irvan?
“Via siapa?.”
“Alivia Nirmala. Cewek itu aneh. Padahal, dia cinta sama gue, tapi kok dia nggak mau ya jadi pacar gue?.”
“Ya, mana gue tau.”
Via? Heem. Mudahan saja bukan Via yang dikenalnya tadi pagi. Cewek cantik yang telah menghiasi hidupnya.
__________________________
Bukannya itu Via dan Ezza? Tanya Irvan dalam hati. Dari jauh, Irvan melihat Via dan Ezza sedang duduk berdua. Pasti gara-gara Ezza, Via menolak cintanya.
“Hai Via! Hai Ezza!”
“Emm, hai ju..juga.” Balas Via gugup
“Za, Lo kenal ya sama Via?.”
“Kenallah Van.” Jawab Ezza enteng
“Via, gue sekarang tau kalo Lo nggak nerima cinta gue gara-gara Lo suka sama Ezza kan? Via, Lo harus tau, kalo gue itu sudah cinta dari dulu sejak kita masuk SMA. Sedangkan Ezza, Lo baru kenal kan sama dia?.”
Via diam tidak menjawab. Dalam hati kecilnya, ia cinta sama Irvan. Tapi, ia juga cinta sama Ezza. Dua lelaki yang kini menakluki hatinya. Sekarang, yang mana yang akan ia pilih? Irvan ataukah Ezza?
“Maafin gue Van. Gue cinta sama elo, tapi gue juga cinta sama Ezza.” Via menangis dan pergi meninggalkan tempat itu.
“Sejak kapan Lo kenal Via?.” Tanya Irvan
“Kemaren. Ternyata, Via yang Lo maksud adalah Via yang gue cintai.”
“Apa? Lo juga cinta sama Via?.”
Ezza mengangguk.
“Za, diantara kita berdua harus mengalah. Kasia Via.”
“Gue nggak bisa. Gue cinta sama Via Van. Gue nggak bisa lupain Via.”
Ezza pun pergi meninggalkan Irvan. Hah, Irvan terdiam sesaat. Ia tak percaya kalau Ezza juga cinta sama Via. Jadilah cinta segitiga antara ia, Ezza dan Irvan.
______________________________
Di malam sunyi ini, Via memainkan gitarnya. Suaranya yang merdu menyayikan lagu favoritnya yang berjudul Kau dan dia. Via tidak bisa memilih antara Ezza atau Irvan. Mereka berdua sama-sama pintar, cakep, dan baik.
Malam semakin gelap. Kedua mata Via menutup. Ia yakin. Mimpilah yang akan menjawab pertanyaannya saat ini.
____________________________
Di sekolah, Irvan berlari mencari Via dengan muka yang agak sedih. Via kaget melihat Irvan yang berlari aneh menuju hadapannya.
“Ada apa Van?.”
“Via, gue...gue rela kok ngasih Ezza ke elo, gue tau kalo Lo lebih sayang sama Ezza.”
Setelah Irvan mengucapkan perkataan itu, Irvan langsung pergi begitu saja. Via memandang punggung Irvan yang semakin lama semakin menghilang. Menit kemudian, datang Ezza menenagkan Via.
“Vi, Irva nyuruh gue untuk jadi pacar Lo. Lo mau kan?.”
Via tak menjawab. Tapi kepalanya diangguk secara perlahan. Ezza tersenyum melihat Via, lalu diajaknya Via menuju kantin.
_________________________
“Eh Vi, Irvan kok nggak pernah keliatan ya?.” Tanya Ezza saat ia dan Via sedang bersantai di taman.
“Gue nggak tau.”
“Kata Mamanya, sudah lima hari Irvan belum pulang ke rumahnya. Kemana aja dia?.”
Spontan Via kaget mendengar penjelasan Ezza. Jadi Irvan menghilang selama lima hari? Apa itu tidak buruk? Via kira, Irvan hanya sakit saja lalu tidak masuk ke sekolah.
___________________________
Seorang cowok tengah berbaring di pantai bersama seorang cewek yang sebaya dengannya. Cowok itu memandangi lautan tanpa mengedipkan matanya. Cewek yang disampignya itu memerhatikan cowok itu dengan perasaan kasian.
“Hei Van, sebaiknya Lo pulang aja deh. Kasian Mama Papa Lo.”
“Hmm, nanti dah Zev gue pikirin.”
Sudah lima hari Irvan tinggal di rumah teman SDnya yang bernama Zeva. Walaupun Zeva cewek, tapi Irvan tetap mengingat Zeva.
“Pikirin dong sekarang.”
“Tapi, gue cemburu ngeliat Via bersama Ezza.”
“Hah, Lo ini. Gini aja, gue aja yang jadi pacar Lo. Gue akan berusaha untuk hilangin rasa cinta Lo sama Via, gimana?.”
Irvan tengah berpikir. “Ya udah deh. Nanti gue balik ke rumah. Lo ikut ya?.”
Zeva mengangguk pelan. Dirangkulnya Irvan dengan rasa sayang sebagai seorang sahabat. Bukan pacar. Zeva sebenarnya nggak suka pacaran. Tapi demi menghilagkan rasa cinta Irvan ke Via, Zeva rela melakukan apa saja demi sahabatnya itu.
_______________________________
“Via, gue mau ngomong sama elo.”
“Ada apa Za?.”
“Gue mau putus sama Lo. Ternyata, gue sadar kalo Lo itu lebih cocok sama Irvan. Gue janji Vi akan nyari Irvan sampai ketemu.”
Via diam tidak menjawab. Ezza sepertinya tak peduli dengan jawaban Via. Ia langsung pergi saja meninggalkan Via seorang diri.
_________________________________
Hati ini semakin sepi. Hidup ini semakin rapuh. Sore ini, Via melihat Ezza jalan berdua dengan Iza. Mungkin itu pacarnya. Saatnya, Via sudah menemukan jawaban dari cinta segitiganya. Yaitu Irvan. Irvan lah yang harus ia pilih karena Irvan yang lebih dahulu mengenalnya. Irvan lah yang selalu ada untuknya.
Sore ini terlihat agak mendung. Via berjalan seorang diri di pinggir jalan raya. Tiba-tiba matanya tertuju pada seseorang yang dikenalnya. Malah yang dicintainya. Irvan! Sedang apa ia disana? Bermesraan sama cewek? Hati Via semakin sedih. Ia berlari dan berlari sampai tidak sadar kalau ada mobil yang menabraknya  dengan keras. Irvan mengetahui hal itu dan langsung berlari menuju Via yang sedang terbaring lemah di aspal dipenuhi darah merah yang segar. Mobil yang menabrak Via tadi pergi tanpa bertanggung jawab dengan kesalahannya.
Dari jauh, ada mobil Xenia datang menemui Irvan yang tengah menangis. Ezza! Ezza yang mengemudikan mobil Xenia itu. Via dibawa ke rumah sakit terdekat.
_________________________
Semua keluarga Via menagis melihat Via yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Irvan menatap wajah pucat Via dengan rasa bersalah.
“Via, bangun Via, gue mau jadi pacar Lo..”
Tiba-tiba, tangan putih Via bergerak memegang tangan Irvan. Semua orang berdesir melihat kejadian itu.
“Via, akhirnya Lo bangun juga.”
Via tersenyum. Rasanya, senyuman itu adalah senyuman terakhir yang ia berikan kepada orang-orang yang dicintainya.
“Irvan…Ezza..”
Suara lemah Via memanggil dua nama lelaki yang dicintainya itu.
“Gue sayang sama kalian berdua. Kalianlah cinta pertama gue. Maafin gue ya kalo gue banyak salah sama kalian. Untuk Iza, jadilah cinta sejati Ezza. Dan untuk Zeva, jadilah yang terbaik buat Irvan. Gue..gue senang ngeliat kalian berempat bahagia. Hiduplah dengan damai walau gue nggak ada..”
Setelah Via mengucapka kalimat itu, matanya pun tertutup. Tangannya berhenti bergerak. Senyum indahnya semakin lama semakin menghilang. Semua orang yang melihat Via menangis terisak-isak melihat kepergian seorang Via yang mereka cintai dan mereka sayangi.
Semoga Tuhan menerima amal perbuatan yang dilakukan Via selama ia hidup di dunia ini.
Amiin…

Selasa, 23 Oktober 2012

Cerpen Persahabatan : You One My Best Friend



Impianku untuk membanggakan sekolah sudah tiada. Kini, hanya kesedihan dan kemalangan yang hanya mampu aku tampilkan. Semua keceriaanku telah sirna. Tak ada lagi yang mampu aku lakukan kecuali duduk lemah di kursi roda. Teman-temanku juga menjauh dariku. Aku bisa mengerti. Ini bukan kesalahan mereka. ini semua kesalahanku yang menyuruh mereka menghidar dariku.
Pagi yang cerah ini, aku menatap lurus pada sebuah lapangan basket yang luas. Aku bisa melihat keceriaan mereka. Mereka bahagia bisa berlari sesuka mereka. Sedangkan aku, bangun saja sudah tidak bisa.
Ada setetes air yang membasahi pipiku. Sudah lama aku meninggalkan hobiku yaitu bermain basket. Sebenarnya teman-temanku ingin mengajakku bermain lagi seperti dulu. Tapi aku menolak. Aku sudah nggak bisa lagi apa-apa. Termasuk bermain basket itu.
Tak tahan melihat mereka bahagia, aku menggerakkan kursi rodaku menuju rumah. Sehabis itu, apa lagi yang harus aku lakukan? Kembali tidur di kamar yang membosankan? Atau melamunkan diri hingga kemasukan setan? Ah, aku benci melakukan dua hal itu di saat hari yang cerah ini.
Kini, ku putuskan untuk bermain basket di belakang rumahku. Yah, walau tak sebahagia dulu, aku berjanji akan terus membahagiakan hatiku. Tepat di belakang rumah, aku bermain dengan kesunyian dan seorang diri. Rasanya sangat sedih dan kesepian. Tapi tak apa. Aku kuat dengan penderitaanku. Sejujurnya juga sih aku butuh seorang teman untuk menceriakan hariku.
Tak jauh dari tempatku bermain, aku tak sadar kalau ada seseorang yang memerhatikanku. Ketika aku tau ada orang yang memerhatikanku, aku berhenti bermain. Rasa malu menghampiriku. Orang itu mendekatiku dan tersenyum.
“Keren banget Lo main basket. Boleh ajarin gue nggak?.”
Apa dia bilang? Aku disuruh mengajari dirinya bermain basket? Mana mungkin aku bisa mengajarinya.
“Maaf. Gue nggak bisa.” Jawabku sambil menunduk. Sudah aku duga wajahnya lesu karena mungkin tidak senang dengan ucapanku. Tapi ia ubah wajahnya menjadi biasa lagi.
“Nama Lo Rei kan? Kapten basket SMA Persabda?.”
Aku mengangguk pelan. Ia begitu tau tentangku. Tapi aku tidak tau siapa dia.
Ia tersenyum lagi. “Ayolah, ajarin gue.. Pleasee..”
“Hhh..” Aku bingung mau jawab apa. Sementara hatiku ingin menjawab ‘ya’.
“Mmm, dari mana Lo tau tentang gue?.” Tanyaku akhirnya. Agar pertanyaannya tadi tidak perlu aku jawab.
“Gue satu sekolah sama Lo. Lo pasti nggak kenal gue? Gue itu murid baru di SMA Persabda.”
“Oh.. Kenapa Lo mau minta ajarin ke gue? Kan banyak orang yang jago basket selain gue.”
“Karna… Karna Lo itu orang yang paling jago main basket di sekolah gue. Makanya gue pengen Lo ajarin gue… Lo kapten basket juga kan?.”
“Iya..Iya.. Udah gue jawab tadi. Tapi jabatan itu udah nggak buat gue lagi. Gue nggak jago lagi main basket. Gue ini udah nggak bisa jalan lagi tauu.. Udah ah, lebih baik Lo pergi dari sini..”
Dapat aku lihat matanya berkaca-kaca mendengar perkataan kasar dariku. Oh Tuhan, maafkan aku kalau kata-kata tadi menusuk hatinya. Tapi mau bagaimana lagi? Sudah takdirnya aku menjadi seperti ini.
“Gue udah tau kok kalo Lo nggak mau ajarin gue.. Maaf dah kalo gitu..” Jawabnya lesu. Aku seperti ingin menangis.
“Eh tunggu!” Aku meneriakinya. Dan dia melihatku juga.
“Aku bisa mengajarimu main basket. Tapi kamu harus janji, kamu harus menjadi sahabat terbaikku. Gimana?”
“Oke. Mulai dari sekarang, gue akan jadi sahabat Lo.” Jawabnya penuh semangat. Aku juga bahagia mendapat kawan baru yang menerimaku apa adanya.
_______________________________
Beminggu-minggu telah aku lewati bersamanya. Berbagai macam cara dan taktik sudah aku ajarkan kepadanya. Semakin hari, ia semakin jago aja main basket. Sama seperti diriku. Aku juga tak percaya, ternyata ia begitu cepat memahami cara-cara yang udah aku ajarkan kepadanya. Aku yakin seratus persen kalau dia bisa membanggakan sekolahku. Dan tentunya menggantikan posisiku.
Minggu pagi yang cerah. Aku sudah berjanji akan mengajaknya jalan-jalan keliling kompleks rumah. Latihan yang aku ajarkan untuknya tidak perlu lagi. Karna dia udah mahir bermain basket seperti aku. Tapi hari ini beda dari hari sebelumnya. Aku jarang melihatnya menyapaku. Ah, kemana dia? Kemana satu sahabatku yang aku sayangi?
Tepat di dekat lapangan, aku melihatnya sedang bermain bersama anak normal lainnya. Aku mengenal anak-anak itu. Mereka adalah teman se-timku yang aku sudah bilang untuk menyuruh menghindar dariku. Dig. Hatiku merasakan sesuatu yang aneh. Apa mungkin dia nggak mau bermain denganku? Apa dia hanya memanfaatkan aku saja? Jika itu benar, dia berarti bukan satu sahabatku lagi. Dia adalah orang yang paling aku bencikan seumur hidup.
Saat aku mengetahui kalau dia benar-benar menggantikan posisiku, aku mendadak lemas. Aku benci padanya. Ia benar-benar memanfaatkanku. Aku tidak suka dengannya. Dia hanya datang di saat keinginannya saja. Dan akan pergi saat keinginannya terkabul. Aku ingat ucapan teman SMA ku yang bernama Rendi, yang membuat hatiku semakin teriris-iris.
“Rei, Rio hanya memanfaatkan kamu saja. Buktinya, dia udah nggak mau lagi bermain denganmu. Dia hanya mementingkan timnya saja. Sedangkan kamu pelatihnya, dia hanya cuek saja. Jika aku jadi kamu, udah ku tampar pipinya. Rio itu nggak mengerti arti persahabatan. Dia hanya datang di saat keinginannya saja. Dan akan pergi saat keinginannya terkabul. Apa kamu rela kalau seandainya Rio benar-benar menjadi dirimu? Apa kamu mau kalau dibilang oleh orang kalau Rio itu lebih hebat darimu? Padahal, kamu sendiri yang mengajarinya sampai dia bisa…”
Air mata kembali menetes. Hancur sudah hidupku. Ku kira, Rio adalah satu sahabatku yang akan menyemangatiku. Tapi semua tidak benar. Rio hanya memanfaatkanku saja. Awas ya Rio, jika aku udah tiada, kan ku beritahu ke dunia kalau kamu itu adalah orang yang paling aku benci. Jika seandainya timmu menang, semua kemenangan itu adalah kejahatan. Dan aku tidak akan memaafkanmu seumur hidupku. Tidak akan.
_______________________
Pertandingan final antara SMA Persabda dengan SMA Cahya sudah ada di depan mata. Aku sakit ketika mendengar nama ‘Rio’ di teriakkan oleh para pendukungnya. Sebenarnya, inilah impianku. Tapi sudahlah, aku ingin Rio puas dulu. Aku ingin dia bahagia dan aku tidak. Aku ingin dia senang dan aku malang.
Awalnya aku malas menonton pertandingan ini. Tapi teman-temanku memaksaku untuk ikut. Untuk membuktikan kalau ‘Bintang baru’ itu dapat mengalahkan musuh. Dan dapat membanggakan SMA Persabda.
“Hei Cak, kok melamun sih?” Kata Rara, sahabatku yang sangat mengidolakan ‘bintang baru’ itu-Rio-.
“Nggak ada kok Ra..”
“Tapi kok mata Lo sembab gitu ya? Apa Lo pengen main basket lagi disana? Tapi gue rasa Lo nggak bisa. Kedudukan Lo udah diganti oleh Rio. Gue juga heran kok Rio bisa-bisanya hebat kayak elo..”
‘Ra, sebenarnya Rio itu hebat gara-gara aku. Aku yang mengajarinya hingga dia bisa berdiri bersama timnya di tempat ini..’
Pertandingan pun di mulai. Sorak- sorai para penonton memeriahkan tempat ini. Aku… hanya terdiam sambil menangis dalam hati melihat Rio bersama timnya bersemangat ingin memenagkan pertandingan ini.
Sudah aku duga. Timnya menang dengan angka tipis 78-75. Dan Riolah yang paling banyak menyumbangkan bola ke ring. Aku percaya kalau dia lebih hebat dari aku. Aku percaya…
Sesaat, Rio melirikku sambil tersenyum. Aku tau kalau itu adalah senyuman liciknya. Tapi.. Semua itu salah. Semua dugaanku salah. Rio mengajakku ke tempat dimana semua orang memerhatikannya. Tiba-tiba… Ia memberiku kalung penghargaan atas kemenangannya. Sekarang kalung itu melingkari leherku. Aku di buat malu olehnya.
“Untuk satu sahabat terbaikku, Rei , dia adalah sesosok sahabat yang berarti bagiku. Dia adalah satu sahabat yang aku sayangi. Aku yakin jika dia tidak mau mengajariku, aku mungkin nggak akan pernah bisa seperti ini. Aku mungkin nggak akan pernah bisa menjadi bintang disini. Untuk itu, aku ingin kalian menyebut nama Rei. Karna hanya dialah yang bisa membuat tim basket SMA Persabda menjadi seperi ini…”
Tuhan.. Aku kagum dengannya. Betapa jahatnya aku ini. Menuduhnya dengan sebutan orang yang paling aku benci. Maafkan aku Tuhan kalau kata-kataku kemarin yang telah menyakitka hatinya. Rio… You one my best friends…
Namaku akhirnya di teriaki oleh para pendukung SMA Persabda. Aku bahagia sekarang. Bahagia sekali. Berkat Rio. Dialah orang pertama yang dapat membuat aku bahagia lagi. Terimakasih Rio…
______________________________
Aku dan Rio berjalan dengan riang menuju lapangan basket. Ini untuk pertama kalinya aku di ajak bertanding olehnya. 1 on 1. Aku penasaran siapa di antara kami yang menang. Tapi aku yakin. Rio lah yang menang. Kedua kakiku ini masih di latih untuk berjalan. Yah, aku di ajak berobat ke Amerika, dan hasilnya, aku bisa berjalan seperti ini.
Terimakasih Rioo, Kamu adalah sahabat terbaikku… Aku yakin suatu hari nanti aku bisa mengalahkanmu. Lihat saja nanti siapa Rei  yang sebenarnya.. Hehehe….
_________END_________