Impianku untuk membanggakan sekolah
sudah tiada. Kini, hanya kesedihan dan kemalangan yang hanya mampu aku
tampilkan. Semua keceriaanku telah sirna. Tak ada lagi yang mampu aku lakukan
kecuali duduk lemah di kursi roda. Teman-temanku juga menjauh dariku. Aku bisa
mengerti. Ini bukan kesalahan mereka. ini semua kesalahanku yang menyuruh
mereka menghidar dariku.
Pagi yang cerah ini, aku menatap lurus
pada sebuah lapangan basket yang luas. Aku bisa melihat keceriaan mereka.
Mereka bahagia bisa berlari sesuka mereka. Sedangkan aku, bangun saja sudah
tidak bisa.
Ada setetes air yang membasahi pipiku.
Sudah lama aku meninggalkan hobiku yaitu bermain basket. Sebenarnya
teman-temanku ingin mengajakku bermain lagi seperti dulu. Tapi aku menolak. Aku
sudah nggak bisa lagi apa-apa. Termasuk bermain basket itu.
Tak tahan melihat mereka bahagia, aku
menggerakkan kursi rodaku menuju rumah. Sehabis itu, apa lagi yang harus aku
lakukan? Kembali tidur di kamar yang membosankan? Atau melamunkan diri hingga
kemasukan setan? Ah, aku benci melakukan dua hal itu di saat hari yang cerah
ini.
Kini, ku putuskan untuk bermain basket
di belakang rumahku. Yah, walau tak sebahagia dulu, aku berjanji akan terus
membahagiakan hatiku. Tepat di belakang rumah, aku bermain dengan kesunyian dan
seorang diri. Rasanya sangat sedih dan kesepian. Tapi tak apa. Aku kuat dengan
penderitaanku. Sejujurnya juga sih aku butuh seorang teman untuk menceriakan
hariku.
Tak jauh dari tempatku bermain, aku tak
sadar kalau ada seseorang yang memerhatikanku. Ketika aku tau ada orang yang
memerhatikanku, aku berhenti bermain. Rasa malu menghampiriku. Orang itu
mendekatiku dan tersenyum.
“Keren banget Lo main basket. Boleh
ajarin gue nggak?.”
Apa dia bilang? Aku disuruh mengajari
dirinya bermain basket? Mana mungkin aku bisa mengajarinya.
“Maaf. Gue nggak bisa.” Jawabku sambil
menunduk. Sudah aku duga wajahnya lesu karena mungkin tidak senang dengan
ucapanku. Tapi ia ubah wajahnya menjadi biasa lagi.
“Nama Lo Rei kan? Kapten basket SMA
Persabda?.”
Aku mengangguk pelan. Ia begitu tau
tentangku. Tapi aku tidak tau siapa dia.
Ia tersenyum lagi. “Ayolah, ajarin gue..
Pleasee..”
“Hhh..” Aku bingung mau jawab apa.
Sementara hatiku ingin menjawab ‘ya’.
“Mmm, dari mana Lo tau tentang gue?.”
Tanyaku akhirnya. Agar pertanyaannya tadi tidak perlu aku jawab.
“Gue satu sekolah sama Lo. Lo pasti
nggak kenal gue? Gue itu murid baru di SMA Persabda.”
“Oh.. Kenapa Lo mau minta ajarin ke gue?
Kan banyak orang yang jago basket selain gue.”
“Karna… Karna Lo itu orang yang paling
jago main basket di sekolah gue. Makanya gue pengen Lo ajarin gue… Lo kapten
basket juga kan?.”
“Iya..Iya.. Udah gue jawab tadi. Tapi
jabatan itu udah nggak buat gue lagi. Gue nggak jago lagi main basket. Gue ini
udah nggak bisa jalan lagi tauu.. Udah ah, lebih baik Lo pergi dari sini..”
Dapat aku lihat matanya berkaca-kaca
mendengar perkataan kasar dariku. Oh Tuhan, maafkan aku kalau kata-kata tadi
menusuk hatinya. Tapi mau bagaimana lagi? Sudah takdirnya aku menjadi seperti
ini.
“Gue udah tau kok kalo Lo nggak mau
ajarin gue.. Maaf dah kalo gitu..” Jawabnya lesu. Aku seperti ingin menangis.
“Eh tunggu!” Aku meneriakinya. Dan dia
melihatku juga.
“Aku bisa mengajarimu main basket. Tapi
kamu harus janji, kamu harus menjadi sahabat terbaikku. Gimana?”
“Oke. Mulai dari sekarang, gue akan jadi
sahabat Lo.” Jawabnya penuh semangat. Aku juga bahagia mendapat kawan baru yang
menerimaku apa adanya.
_______________________________
Beminggu-minggu telah aku lewati
bersamanya. Berbagai macam cara dan taktik sudah aku ajarkan kepadanya. Semakin
hari, ia semakin jago aja main basket. Sama seperti diriku. Aku juga tak
percaya, ternyata ia begitu cepat memahami cara-cara yang udah aku ajarkan
kepadanya. Aku yakin seratus persen kalau dia bisa membanggakan sekolahku. Dan
tentunya menggantikan posisiku.
Minggu pagi yang cerah. Aku sudah
berjanji akan mengajaknya jalan-jalan keliling kompleks rumah. Latihan yang aku
ajarkan untuknya tidak perlu lagi. Karna dia udah mahir bermain basket seperti
aku. Tapi hari ini beda dari hari sebelumnya. Aku jarang melihatnya menyapaku.
Ah, kemana dia? Kemana satu sahabatku yang aku sayangi?
Tepat di dekat lapangan, aku melihatnya
sedang bermain bersama anak normal lainnya. Aku mengenal anak-anak itu. Mereka
adalah teman se-timku yang aku sudah bilang untuk menyuruh menghindar dariku.
Dig. Hatiku merasakan sesuatu yang aneh. Apa mungkin dia nggak mau bermain
denganku? Apa dia hanya memanfaatkan aku saja? Jika itu benar, dia berarti
bukan satu sahabatku lagi. Dia adalah orang yang paling aku bencikan seumur
hidup.
Saat aku mengetahui kalau dia
benar-benar menggantikan posisiku, aku mendadak lemas. Aku benci padanya. Ia
benar-benar memanfaatkanku. Aku tidak suka dengannya. Dia hanya datang di saat
keinginannya saja. Dan akan pergi saat keinginannya terkabul. Aku ingat ucapan
teman SMA ku yang bernama Rendi, yang membuat hatiku semakin teriris-iris.
“Rei, Rio hanya memanfaatkan kamu saja.
Buktinya, dia udah nggak mau lagi bermain denganmu. Dia hanya mementingkan
timnya saja. Sedangkan kamu pelatihnya, dia hanya cuek saja. Jika aku jadi
kamu, udah ku tampar pipinya. Rio itu nggak mengerti arti persahabatan. Dia
hanya datang di saat keinginannya saja. Dan akan pergi saat keinginannya
terkabul. Apa kamu rela kalau seandainya Rio benar-benar menjadi dirimu? Apa
kamu mau kalau dibilang oleh orang kalau Rio itu lebih hebat darimu? Padahal,
kamu sendiri yang mengajarinya sampai dia bisa…”
Air mata kembali menetes. Hancur sudah
hidupku. Ku kira, Rio adalah satu sahabatku yang akan menyemangatiku. Tapi
semua tidak benar. Rio hanya memanfaatkanku saja. Awas ya Rio, jika aku udah
tiada, kan ku beritahu ke dunia kalau kamu itu adalah orang yang paling aku
benci. Jika seandainya timmu menang, semua kemenangan itu adalah kejahatan. Dan
aku tidak akan memaafkanmu seumur hidupku. Tidak akan.
_______________________
Pertandingan final antara SMA Persabda
dengan SMA Cahya sudah ada di depan mata. Aku sakit ketika mendengar nama ‘Rio’
di teriakkan oleh para pendukungnya. Sebenarnya, inilah impianku. Tapi
sudahlah, aku ingin Rio puas dulu. Aku ingin dia bahagia dan aku tidak. Aku
ingin dia senang dan aku malang.
Awalnya aku malas menonton pertandingan
ini. Tapi teman-temanku memaksaku untuk ikut. Untuk membuktikan kalau ‘Bintang
baru’ itu dapat mengalahkan musuh. Dan dapat membanggakan SMA Persabda.
“Hei Cak, kok melamun sih?” Kata Rara,
sahabatku yang sangat mengidolakan ‘bintang baru’ itu-Rio-.
“Nggak ada kok Ra..”
“Tapi kok mata Lo sembab gitu ya? Apa Lo
pengen main basket lagi disana? Tapi gue rasa Lo nggak bisa. Kedudukan Lo udah
diganti oleh Rio. Gue juga heran kok Rio bisa-bisanya hebat kayak elo..”
‘Ra, sebenarnya Rio itu hebat gara-gara
aku. Aku yang mengajarinya hingga dia bisa berdiri bersama timnya di tempat
ini..’
Pertandingan pun di mulai. Sorak- sorai
para penonton memeriahkan tempat ini. Aku… hanya terdiam sambil menangis dalam
hati melihat Rio bersama timnya bersemangat ingin memenagkan pertandingan ini.
Sudah aku duga. Timnya menang dengan
angka tipis 78-75. Dan Riolah yang paling banyak menyumbangkan bola ke ring. Aku
percaya kalau dia lebih hebat dari aku. Aku percaya…
Sesaat, Rio melirikku sambil tersenyum.
Aku tau kalau itu adalah senyuman liciknya. Tapi.. Semua itu salah. Semua
dugaanku salah. Rio mengajakku ke tempat dimana semua orang memerhatikannya.
Tiba-tiba… Ia memberiku kalung penghargaan atas kemenangannya. Sekarang kalung
itu melingkari leherku. Aku di buat malu olehnya.
“Untuk satu sahabat terbaikku, Rei , dia
adalah sesosok sahabat yang berarti bagiku. Dia adalah satu sahabat yang aku
sayangi. Aku yakin jika dia tidak mau mengajariku, aku mungkin nggak akan pernah
bisa seperti ini. Aku mungkin nggak akan pernah bisa menjadi bintang disini.
Untuk itu, aku ingin kalian menyebut nama Rei. Karna hanya dialah yang bisa
membuat tim basket SMA Persabda menjadi seperi ini…”
Tuhan.. Aku kagum dengannya. Betapa
jahatnya aku ini. Menuduhnya dengan sebutan orang yang paling aku benci.
Maafkan aku Tuhan kalau kata-kataku kemarin yang telah menyakitka hatinya. Rio…
You one my best friends…
Namaku akhirnya di teriaki oleh para
pendukung SMA Persabda. Aku bahagia sekarang. Bahagia sekali. Berkat Rio.
Dialah orang pertama yang dapat membuat aku bahagia lagi. Terimakasih Rio…
______________________________
Aku dan Rio berjalan dengan riang menuju
lapangan basket. Ini untuk pertama kalinya aku di ajak bertanding olehnya. 1 on
1. Aku penasaran siapa di antara kami yang menang. Tapi aku yakin. Rio lah yang
menang. Kedua kakiku ini masih di latih untuk berjalan. Yah, aku di ajak
berobat ke Amerika, dan hasilnya, aku bisa berjalan seperti ini.
Terimakasih Rioo, Kamu adalah sahabat
terbaikku… Aku yakin suatu hari nanti aku bisa mengalahkanmu. Lihat saja nanti
siapa Rei yang sebenarnya.. Hehehe….
_________END_________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar