Selasa, 23 Oktober 2012

Cerpen Persahabatan : You One My Best Friend



Impianku untuk membanggakan sekolah sudah tiada. Kini, hanya kesedihan dan kemalangan yang hanya mampu aku tampilkan. Semua keceriaanku telah sirna. Tak ada lagi yang mampu aku lakukan kecuali duduk lemah di kursi roda. Teman-temanku juga menjauh dariku. Aku bisa mengerti. Ini bukan kesalahan mereka. ini semua kesalahanku yang menyuruh mereka menghidar dariku.
Pagi yang cerah ini, aku menatap lurus pada sebuah lapangan basket yang luas. Aku bisa melihat keceriaan mereka. Mereka bahagia bisa berlari sesuka mereka. Sedangkan aku, bangun saja sudah tidak bisa.
Ada setetes air yang membasahi pipiku. Sudah lama aku meninggalkan hobiku yaitu bermain basket. Sebenarnya teman-temanku ingin mengajakku bermain lagi seperti dulu. Tapi aku menolak. Aku sudah nggak bisa lagi apa-apa. Termasuk bermain basket itu.
Tak tahan melihat mereka bahagia, aku menggerakkan kursi rodaku menuju rumah. Sehabis itu, apa lagi yang harus aku lakukan? Kembali tidur di kamar yang membosankan? Atau melamunkan diri hingga kemasukan setan? Ah, aku benci melakukan dua hal itu di saat hari yang cerah ini.
Kini, ku putuskan untuk bermain basket di belakang rumahku. Yah, walau tak sebahagia dulu, aku berjanji akan terus membahagiakan hatiku. Tepat di belakang rumah, aku bermain dengan kesunyian dan seorang diri. Rasanya sangat sedih dan kesepian. Tapi tak apa. Aku kuat dengan penderitaanku. Sejujurnya juga sih aku butuh seorang teman untuk menceriakan hariku.
Tak jauh dari tempatku bermain, aku tak sadar kalau ada seseorang yang memerhatikanku. Ketika aku tau ada orang yang memerhatikanku, aku berhenti bermain. Rasa malu menghampiriku. Orang itu mendekatiku dan tersenyum.
“Keren banget Lo main basket. Boleh ajarin gue nggak?.”
Apa dia bilang? Aku disuruh mengajari dirinya bermain basket? Mana mungkin aku bisa mengajarinya.
“Maaf. Gue nggak bisa.” Jawabku sambil menunduk. Sudah aku duga wajahnya lesu karena mungkin tidak senang dengan ucapanku. Tapi ia ubah wajahnya menjadi biasa lagi.
“Nama Lo Rei kan? Kapten basket SMA Persabda?.”
Aku mengangguk pelan. Ia begitu tau tentangku. Tapi aku tidak tau siapa dia.
Ia tersenyum lagi. “Ayolah, ajarin gue.. Pleasee..”
“Hhh..” Aku bingung mau jawab apa. Sementara hatiku ingin menjawab ‘ya’.
“Mmm, dari mana Lo tau tentang gue?.” Tanyaku akhirnya. Agar pertanyaannya tadi tidak perlu aku jawab.
“Gue satu sekolah sama Lo. Lo pasti nggak kenal gue? Gue itu murid baru di SMA Persabda.”
“Oh.. Kenapa Lo mau minta ajarin ke gue? Kan banyak orang yang jago basket selain gue.”
“Karna… Karna Lo itu orang yang paling jago main basket di sekolah gue. Makanya gue pengen Lo ajarin gue… Lo kapten basket juga kan?.”
“Iya..Iya.. Udah gue jawab tadi. Tapi jabatan itu udah nggak buat gue lagi. Gue nggak jago lagi main basket. Gue ini udah nggak bisa jalan lagi tauu.. Udah ah, lebih baik Lo pergi dari sini..”
Dapat aku lihat matanya berkaca-kaca mendengar perkataan kasar dariku. Oh Tuhan, maafkan aku kalau kata-kata tadi menusuk hatinya. Tapi mau bagaimana lagi? Sudah takdirnya aku menjadi seperti ini.
“Gue udah tau kok kalo Lo nggak mau ajarin gue.. Maaf dah kalo gitu..” Jawabnya lesu. Aku seperti ingin menangis.
“Eh tunggu!” Aku meneriakinya. Dan dia melihatku juga.
“Aku bisa mengajarimu main basket. Tapi kamu harus janji, kamu harus menjadi sahabat terbaikku. Gimana?”
“Oke. Mulai dari sekarang, gue akan jadi sahabat Lo.” Jawabnya penuh semangat. Aku juga bahagia mendapat kawan baru yang menerimaku apa adanya.
_______________________________
Beminggu-minggu telah aku lewati bersamanya. Berbagai macam cara dan taktik sudah aku ajarkan kepadanya. Semakin hari, ia semakin jago aja main basket. Sama seperti diriku. Aku juga tak percaya, ternyata ia begitu cepat memahami cara-cara yang udah aku ajarkan kepadanya. Aku yakin seratus persen kalau dia bisa membanggakan sekolahku. Dan tentunya menggantikan posisiku.
Minggu pagi yang cerah. Aku sudah berjanji akan mengajaknya jalan-jalan keliling kompleks rumah. Latihan yang aku ajarkan untuknya tidak perlu lagi. Karna dia udah mahir bermain basket seperti aku. Tapi hari ini beda dari hari sebelumnya. Aku jarang melihatnya menyapaku. Ah, kemana dia? Kemana satu sahabatku yang aku sayangi?
Tepat di dekat lapangan, aku melihatnya sedang bermain bersama anak normal lainnya. Aku mengenal anak-anak itu. Mereka adalah teman se-timku yang aku sudah bilang untuk menyuruh menghindar dariku. Dig. Hatiku merasakan sesuatu yang aneh. Apa mungkin dia nggak mau bermain denganku? Apa dia hanya memanfaatkan aku saja? Jika itu benar, dia berarti bukan satu sahabatku lagi. Dia adalah orang yang paling aku bencikan seumur hidup.
Saat aku mengetahui kalau dia benar-benar menggantikan posisiku, aku mendadak lemas. Aku benci padanya. Ia benar-benar memanfaatkanku. Aku tidak suka dengannya. Dia hanya datang di saat keinginannya saja. Dan akan pergi saat keinginannya terkabul. Aku ingat ucapan teman SMA ku yang bernama Rendi, yang membuat hatiku semakin teriris-iris.
“Rei, Rio hanya memanfaatkan kamu saja. Buktinya, dia udah nggak mau lagi bermain denganmu. Dia hanya mementingkan timnya saja. Sedangkan kamu pelatihnya, dia hanya cuek saja. Jika aku jadi kamu, udah ku tampar pipinya. Rio itu nggak mengerti arti persahabatan. Dia hanya datang di saat keinginannya saja. Dan akan pergi saat keinginannya terkabul. Apa kamu rela kalau seandainya Rio benar-benar menjadi dirimu? Apa kamu mau kalau dibilang oleh orang kalau Rio itu lebih hebat darimu? Padahal, kamu sendiri yang mengajarinya sampai dia bisa…”
Air mata kembali menetes. Hancur sudah hidupku. Ku kira, Rio adalah satu sahabatku yang akan menyemangatiku. Tapi semua tidak benar. Rio hanya memanfaatkanku saja. Awas ya Rio, jika aku udah tiada, kan ku beritahu ke dunia kalau kamu itu adalah orang yang paling aku benci. Jika seandainya timmu menang, semua kemenangan itu adalah kejahatan. Dan aku tidak akan memaafkanmu seumur hidupku. Tidak akan.
_______________________
Pertandingan final antara SMA Persabda dengan SMA Cahya sudah ada di depan mata. Aku sakit ketika mendengar nama ‘Rio’ di teriakkan oleh para pendukungnya. Sebenarnya, inilah impianku. Tapi sudahlah, aku ingin Rio puas dulu. Aku ingin dia bahagia dan aku tidak. Aku ingin dia senang dan aku malang.
Awalnya aku malas menonton pertandingan ini. Tapi teman-temanku memaksaku untuk ikut. Untuk membuktikan kalau ‘Bintang baru’ itu dapat mengalahkan musuh. Dan dapat membanggakan SMA Persabda.
“Hei Cak, kok melamun sih?” Kata Rara, sahabatku yang sangat mengidolakan ‘bintang baru’ itu-Rio-.
“Nggak ada kok Ra..”
“Tapi kok mata Lo sembab gitu ya? Apa Lo pengen main basket lagi disana? Tapi gue rasa Lo nggak bisa. Kedudukan Lo udah diganti oleh Rio. Gue juga heran kok Rio bisa-bisanya hebat kayak elo..”
‘Ra, sebenarnya Rio itu hebat gara-gara aku. Aku yang mengajarinya hingga dia bisa berdiri bersama timnya di tempat ini..’
Pertandingan pun di mulai. Sorak- sorai para penonton memeriahkan tempat ini. Aku… hanya terdiam sambil menangis dalam hati melihat Rio bersama timnya bersemangat ingin memenagkan pertandingan ini.
Sudah aku duga. Timnya menang dengan angka tipis 78-75. Dan Riolah yang paling banyak menyumbangkan bola ke ring. Aku percaya kalau dia lebih hebat dari aku. Aku percaya…
Sesaat, Rio melirikku sambil tersenyum. Aku tau kalau itu adalah senyuman liciknya. Tapi.. Semua itu salah. Semua dugaanku salah. Rio mengajakku ke tempat dimana semua orang memerhatikannya. Tiba-tiba… Ia memberiku kalung penghargaan atas kemenangannya. Sekarang kalung itu melingkari leherku. Aku di buat malu olehnya.
“Untuk satu sahabat terbaikku, Rei , dia adalah sesosok sahabat yang berarti bagiku. Dia adalah satu sahabat yang aku sayangi. Aku yakin jika dia tidak mau mengajariku, aku mungkin nggak akan pernah bisa seperti ini. Aku mungkin nggak akan pernah bisa menjadi bintang disini. Untuk itu, aku ingin kalian menyebut nama Rei. Karna hanya dialah yang bisa membuat tim basket SMA Persabda menjadi seperi ini…”
Tuhan.. Aku kagum dengannya. Betapa jahatnya aku ini. Menuduhnya dengan sebutan orang yang paling aku benci. Maafkan aku Tuhan kalau kata-kataku kemarin yang telah menyakitka hatinya. Rio… You one my best friends…
Namaku akhirnya di teriaki oleh para pendukung SMA Persabda. Aku bahagia sekarang. Bahagia sekali. Berkat Rio. Dialah orang pertama yang dapat membuat aku bahagia lagi. Terimakasih Rio…
______________________________
Aku dan Rio berjalan dengan riang menuju lapangan basket. Ini untuk pertama kalinya aku di ajak bertanding olehnya. 1 on 1. Aku penasaran siapa di antara kami yang menang. Tapi aku yakin. Rio lah yang menang. Kedua kakiku ini masih di latih untuk berjalan. Yah, aku di ajak berobat ke Amerika, dan hasilnya, aku bisa berjalan seperti ini.
Terimakasih Rioo, Kamu adalah sahabat terbaikku… Aku yakin suatu hari nanti aku bisa mengalahkanmu. Lihat saja nanti siapa Rei  yang sebenarnya.. Hehehe….
_________END_________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar