Senin, 26 November 2012

Cerpen : Awareness Of Love

Akhirnya, cerpen qhu yg membingungkan ini akhirnya selesai juga..

Happy reading..

Gomawo..

Sinar matahari mengusik rasa kantukku secara perlahan. Membuka kelopak mataku yang terpejam. Pagi ini memang sangat istimewa. Tapi aku benar-benar lupa hal apa yang membuat pagi ini semakin istimewa. Apakah aku akan mendapat penghargaan? Atau apakah aku akan di ajak jalan-jalan ke pulau Bali? Pastinya aku tidak tau.
Message From Fed:
Pagi sayang !!! Udah bangun belum ??? J
Aku tersenyum menatapi layar ponselku yang bertuliskan nama FEDRYAN
Message For Fed:
Pagi juga !!! Gue udah bangun kok. J
Mendadak aku teringat sesuatu. Ini kan hari pertama aku berangkat kuliah bersama Fed. Dan aku masih ingat juga. Kemarin adalah hari tunanganku dengan Fed. Tepat di hari ulang tahunku yaitu tanggal 6 Desember. Ya! Inilah hari istimewa itu. Biasanya aku berangkat sekolah bersama Kak Arfy.
O iya, aku belum memperkenalkan diriku. Namaku Amanda Dhaniati atau bisa di panggil Manda. Hidupku memang sangat bahagia. Hari penantianku sudah selesai. Buktinya kemarin. Aku dan Fed sudah tunangan. Itu memang harapan besarku. Juga harapan Fed agar kami berdua bertunangan. Sudah empat tahun aku berpacaran dengan Fed. Aku juga memiliki seorang kakak cowok. Namanya Kak Arfy. Tapi kata mama, Kak Arfy bukan keluarga kami. Dia hanya sementara tinggal disini. Kedua orang tuanya yang menyuruhnya tinggal di rumahku. Tentu saja mama dan papaku mau menerima Kak Arfy tinggal disini. Ada juga dua adikku yang imut dan sedikit menyebalkan. Namanya Deva dan Devi. Mereka ini adik kandungku.
Udah ya perkenalannya. Aku hampir telat nih. Cepat-cepat aku menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarku. Papa sengaja membangun kamar mandi di masing-masing kamar supaya nanti tidak berebutan kamar mandi.
Air segar yang menyirami tubuhku membuat jiwaku bangkit kembali. Semangat ku juga kian mengobar. Aku memang salah menilai. Dulu, aku benci mandi pakai air dingin. Aku selalu memakai air panas yang ada di sowerku. Aku juga pernah berkata, “Lebih baik pake air hangat daripada air dingin.” Tapi sekarang tidak. Aku lebih suka memakai air dingin karena air dingin banyak manfaatnya. Seperti yang ku alami tadi. Badanku menjadi segar dan bangkit kembali.
Cukup lima menit aku selesai mandi dan langsung memakai baju. Memang kuliah dan sekolah sangat berbeda. Tapi aku lebih menyukai sekolah. Lain dengan teman-temanku. Banyak yang berkata kuliah itu lebih enak daripada sekolah (Emang jajan apa?? Hehehee..). Aku memih baju favoritku yang berwarna merah muda dan bawahan rok yang berwarna merah muda pula. Aku ingin sekali Fed memuji kecantikanku. Hehehe…
Di ruang tamu, hanya ada mama dan Kak Arfy. Papa, Deva, dan Devi sudah berangkat dari tadi pagi. Pelan-pelan aku menduduki kursi di samping meja makan. Aku tak ingin bajuku serta rokku kotor gara-gara terkena sambal yang di buat Bi Inah.
“Wah, elo cantik banget hari ini.” Puji Kak Arfy sambil mengacak-ngacak rambutku yang hitam dan panjang. Tentu saja aku marah. Percuma saja aku sisir rambutku jika Kak Arfy membuat rambutku menjadi berantakan lagi.
“Ih Kak, rambut gue jadi lecek tauuu…” Balasku dengan nada marah dan ikut mengacak-ngacak rambut Kak Arfy. Tapi, dia hanya senyum saja tuh. Dasar Kak Arfy. Nggak tau apa kalau gue mau berangkat sama Fed. Penampilan dong nomor satu.
“Jadi, elo nanti mau bareng tunangan Lo itu ?.” Tanya Kak Arfy tanpa melihatku melainkan melihat piring putih yang berisi nasi goreng.
“Iyaaa, emangnya kenapa ??? Elo sedih karna gue nggak bareng elo ???.”
“Ya enggak lah. Ngapain gue sedih. PD banget Lo..”
Lagi-lagi Kak Arfy membuatku sebal. Tapi tak apa. Kesebalan itu membuatku terus saja ingin tertawa. Aku juga suka melihat wajah jahil Kak Arfy.
Tit..Tit..
Bunyi bel motor mengagetkanku yang tengah asyik menyantap sarapan pagi. Aku tau. Itu pasti Fed! Tak peduli dengan sisa makanan di piringku. Aku langsung ngacir ke kamar untuk mengambil tas dan langsung menemui Fed. Mama dan Kak Arfy melongo melihatku.
“Manda duluan ya maa, Kak Arfyyy…”
“Eh..eh.. nasinyaaa…” Kata Kak Arfy setengah berteriak
“Elo aja deh yang makan, hehehee..”
Tanpa menjawab jawaban dari Kak Arfy, aku langsung keluar rumah. Benar! Fed sudah ada di teras rumahku dengan wajah yang sangat…sangat KEREN.  Hatiku dag-dig-dug melihat wajah kerennya itu. Walaupun tubuhnya agak sedikit kurus.
“Yuk berangkat..” Ajakku semangat
“Lo udah pamitan dulu sama ortu Lo ?.”
“Udah dong..”
Fed tersenyum manis dan langsung menghidupkan mesin motornya. Aku tersipu malu. Ini baru pertama kali aku di gonceng sama Fed.
“Pegangan yang kuat ya sayaaanggg..” Kata Fed sambil mengambil tanganku serta melingkarkannya di perutnya. Wajahku tambah semakin malu saja. Fed hanya mengulas senyum melihat perubahan wajahku yang semakin malu.
***
Sesampai di sekolah, aku di goda terus sama sahabat-sahabatku. Ya inilah, ya itulah. Benci deh pokoknya. Ada yang bilang, “Cie..cie..yang tunangan kemarin..” atau “Ehem..ehem..udah gede..” (Emang gue masih kecil apa?). Ada juga godaan yang nggak terlalu melebih-lebihkan atau tepatnya ucapan selamat seperti, “Selamat tunangan ya Manda..!!” atau “Selamat ya , semoga Lo semakin sayang sama Fed.”
Aku tidak berhasrat menjawab ucapan selamat dari teman-temanku. Lebih baik, aku menemui sahabatku yang aku lihat dari tadi sedang menatap wajahku yang mereka anggap sangat malu atau  terlihat bahagia. Sahabat yang paling dekat denganku adalah Tya. Ia juga ingin tunangan sama pacarnya.
“Hai Da, gimana perasaan Lo sekarang ?.” Kata Tya.
“Bahagiaaa banget…”
“Gue pengen juga kayak elo, do’ain gue ya supaya gue bisa tunangan sama Amry.”
“Mmm, nggak deh..” Godaku
“Yeee, pelit ah mbak Manda ini.. Nanti gue do’ain elo putus sama Fed.”
“Hehehe.. Bercanda kok Ty, tentu saja gue selalu do’ain elo.”
Semua teman-temanku tertawa mendengar percakapan antara aku dengan Tya. Ya, ini memang hari terbaikku. Semoga saja Fed adalah cinta terakhirku. Dulu, aku sudah pacaran beberapa kali dan ujung-ujungnya putus. Aku memang sangat benci pada kaum laki-laki. Mereka nggak ada yang setia kepadaku. Dan mudahan saja Fed akan selalu setia bersamaku. Seperti janjinya yang pernah ia ucapkan saat menembakku dulu, “Da, gue janji akan menjadi cinta terakhir Lo, dan gue janji akan selalu setia sama Lo.” Ah, perkataan itu membuat aku seribu kali lebih bahagia. Semoga saja Tuhan aku juga akan setia sama Fed. Semoga.
***
Jam kuliahku sudah habis. Saatnya untuk pulang ke rumah masing-masing dan langsung merebahkan tubuh di atas kasur nan empuk. Tapi tidak denganku. Fed malah mengajakku makan siang di restoran moonlight. Benar-benar romantis. Mulutku tak mampu menjawab apapun. Yang jelas Fed langsung menarik tangan kananku menuju tempat parkiran motornya. Tidak peduli apa jawaban yang akan ku berikan kepadanya. Dan dia tentunya pasti tau apa jawabanku. Dan tentunya jawaban itu adalah “Iya.”
Aku benar-benar di buat malu olehnya. Pipiku sudah semakin memerah. Hal ini membuat efek wajahku tambah semakin manis. Fed...Fed…Lo itu keren, romantis. Fed menatapku dengan tatapan manis pula. Tanpa aku sadari, ia menggenggam erat jemari tanganku. Oh Tuhan, ku ingin hari ini akan hadir lagi suatu hari nanti.
Pelayan wanita mengantarkan menu yang kami pesan. Ayam panggang, cah kangkung, dan juga sambal lalapan yang menggugah selera. Ku perhatikan Fed. Sepertinya dia sangat lahap menyantap menu yang ia pesan. Aku sama sekali tidak percaya ternyata dia jago makan. Dulunya aku mengira kalau ia antipati  sama makanan.
“Makan dong say, apa gue mau suapin ?.” Tanya Fed setengah menggoda
“Hehehe, boleh juga.” Jawabku sedikit malu
Fed memang baik banget. Belum ada cowok sebaik Fed yang pernah ku temui. Adanya Cuma cowok nakal, suka iseng, atau yang lainnya. Fed menyuapiku tanpa adanya rasa malu. PD banget dia. Beberapa orang yang juga menyantap makanan yang mereka pesan tersenyum tipis melihat tingkah Fed yang sangat…sangat romantis.
Seorang gadis yang badannya cukup tinggi kecewa melihat dua insan yang sedang di mabuk asmara. Tak terasa kemarahannya sudah mencapai ubun-ubun. Gadis itu tak tahan melihat pemandangan di depannya. Sebuah pemandangan yang amat teramat menyakitkan.
“Awas ya Lo Da, gue bakalan hancurin hidup Lo. Gue sekarang tau kalau elo udah tunangan sama Fed. Lo senang Da, gue menderita..” Gadis itu mengoceh sendirian sambil meremas-remas tangannya.
“Hei, pulang yuk!” Ajak gadis lain
“Yuk!” Jawabnya asal-asalan dan masih disertai amarah. Kedua gadis itu meninggalkan restaurant moonlight.
“Udah deh, gue yakin elo bisa dapetin Iyel.” Hibur temannya
“Makasih ya Ra, bantuin gue ya..”
“Of crouse, my dear..” Jawab temannya sambil mengacungkan ibu jarinya.
***
Seorang lelaki sedang berjalan santai di sekitar persawahan yang cukup luas. Dari jauh, ia bisa melihat keindahan sawah di pagi hari. Para petani dengan semangat menggarap sawah. Ini demi melangsungkan hidupnya maupun demi bangsa dan negaranya. Fed, laki-laki itu tersenyum bahagia melihat pemandangan itu.
Di pinggir sawah, ada sebuah tempat berteduh yang nyaman dan aman dari terik sinar matahari. Perlahan, Fed berjalan menuju tempat teduh itu. Tak di sangka-sangkanya, ia bertemu dengan Angel. Pacarnya yang telah lama ia tinggalkan. Muka Fed yang tadinya bahagia mendadak kaget. Ia takut kalau-kalau Angel masih mencintainya.
“Hai Fed, apa kabar ?.” Sapa Angel diiringi senyuman manis yang membuat Fed mengingat masa lalunya bersama gadis cantik itu.
“Baik, Lo baru pulang ya dari Amerika ?.” Kata Fed sembari duduk di samping Angel
“Iya, tapi sekarang gue menetap di Negara gue ini, INDONESIA..” Jawab Angel dengan semangat
Tanpa jeda dan titik koma, Angel menceritakan kehidupannya di Amerika. Mulai dari ini, dari itu dan semuanya. Fed hanya mengangguk-ngangguk saja mendengar cerita Angel meskipun dirinya sendiri tidak mengerti apa yang diceritakan Angel.
“Fed, Lo masih cinta sama gue ? Kita kan belum putus..” Kata Angel tiba-tiba.
Fed ingin menjawab kalau ia sebenarnya sudah tunangan sama Manda. Tapi ia tidak enak sama Angel. Jujur saja, ia lebih mencintai Angel daripada Manda. Inilah akibatnya kalau pacaran diam-diam tanpa sepengetahuan Angel.
“Gue..gue masih cinta sama elo..”
Angel tersenyum menang. Rayuan dari Angel membuat hati Fed semakin mendatangkan getaran halus. Ia bingung sekali. Apakah ia akan memilih Angel? Ataukah apakah ia akan memilih Manda? Entahlah…
“Fed, Lo mau nggak ngelanjutin hubungan kita? Pleaseee Fed, you’re my last love..” Bujuk Angel dengan nada memelas. Fed tak sampai hati melihat wajah Angel yang kelihatan memelas.
“Nanti dah gue pikirin.” Jawabnya singkat
Senyum Angel kian mengembang. Ia sangat yakin kalau Fed akan memilih dirinya. Tanpa persetujuan dengan Fed, Angel mengajak Fed jalan berdua. Mulut Fed membisu. Tapi hatinya juga sedikit bahagia. Bahagia karna telah menemukan puing-puing hidupnya yang hilang. Oke Angel, gue akan memilih elo. Gue juga masih sayang sama elo, dan Manda, maafin gue karna gue telah mempermainkan diri Lo.
***
Satu bulan kemudian…
Aku dan Fed masih tetap bersama. Fed masih setia kepadaku, dan aku juga masih setia kepada Fed. Tapi, aku merasakan suatu hal yang berbeda. Dan ini menyangkut hubungan aku dengan Fed…
***
“Shan, Lo mau gue ajak jalan-jalan ke Taman Bunga Indah ?.” Tanya Vino yang sedang asyik memainkan ponsel barunya.
“Mau lah, tumben elo ngajak gue jalan-jalan, biasanya enggak tuh..”
Vino tersenyum tipis ke arah Shanin. Lalu ia membelai rambut Shanin yang panjang. Shanin benar-benar salting saat melihat Vino membelai rambutnya. Suatu hal yang Shanin harapkan sejak dulu.
“Hehehe… Gue juga mau bilang sesuatu ke elo.. yuk deh, kita pergi..” Ajak Vino sambil menarik tangan Shanin yang sepertinya agak dingin dan gemetar.
Taman Bunga Indah. Disana adalah tempat yang nyaman dan romantis. Vino mentraktir Shanin semangkuk es krim strawberry. Muka Shanin semakin memerah. Ia tidak tau atau tepatnya sama sekali tidak tau apa tujuan Vino mengajaknya kemari. Apakah hanya untuk mentraktir saja, atau… ah, sudahlah. Nggak mungkin Vino akan menembaknya.
“Em Shan, Lo senang nggak hari ini ?.”
Shanin hanya mengangguk pelan.
“Shan..” Kata Vino sambil mendekap tangan Shanin yang masih dingin dan bergemetar. “Lo harus tau Shan, kalau gue…kalau gue…suka sama elo..”
DEG!!!
Perkataan Vino bak halilintar di siang bolong. Sekilas, Shanin memberanikan diri untuk menatap wajah manis Vino. Oh Tuhan, apa gue mimipi? Vino suka gue? Ah, yang bener aja..
“Mmm Shan, Lo mau nggak jadi pacar gue? Hari ini, besok dan seterusnya ?.”
Sadar Shanin, sadar.. Vino nembak elo.. Ayo bangun Shanin, teriak kalau bisa..
“Ka, elo serius mau nembak gue? Apa elo nggak rugi kalau jadi pacar gue?.”
“Dua rius malah, Lo mau kan jadi pacar gue…Pleasee Shan, kita harus lebih romantis dari Manda dan Fed..”
Suara Vino yang sangat memelas membuat hati Shanin semakin happy saja. Diam-diam, Shanin memerhatikan wajah Vino yang memelas. Lucu juga. Batinnya.
“Gue mau, asalkan hari ini elo harus ajak gue jalan-jalan sampe sore, gimana ?.”
“Oke bidadari cantikku…” Jawab Vino sambil mencium pipi Shanin. Shanin kaget apa yang barusan Vino lakukan kepadanya.
“Idih… Nggak pake nyium-nyium segala dehhh..” Kata Shanin menghindar dari ciuman Vino.
“Hehehe.. Jalan aja yuk sekarang, mumpung nggak panas..”
Shanin menurut saja apa yang dikatakan Vino. Yes..Yes..Sekarang gue resmi jadi pacarnya Vino.. Lihat aja Da, mana yang lebih romantis… NoShan ato FeDa… Sepertinya Shanin ingin pamer kepada Manda tentang pacar barunya itu.
Baru saja mereka berjalan, tiba-tiba, mereka melihat sebuah pemandangan di luar batas pikiran mereka. Apa? Itu kan Fed bersama gadis lain. Gadis yang sama sekali tidak mereka kenal. Apa-apaan ini? Apa Fed  selingkuh? Tuhan, kalau saja Manda tau, pasti hatinya sakit. Vino berusaha menenangkan Shanin. Tapi tetap saja Shanin tidak bisa tenang. Ia sepertinya merasa sakit hati, walaupun dirinya bukan Manda. Tangan kanan Vino merangkul pundaknya.”Udah deh Shan, Lo jangan sedih, kan Fed bukan siapa-siapa elo..” Shanin mengerti. Akhirnya, mereka berdua meninggalkan taman itu dengan perasaan yang sangat aneh. Gembira maupun sedih.
***
“Huaaa…”
Tubuhku dipenuhi keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhku dari kepala sampai kaki. Maklum, mungkin aku mendapat mimpi buruk. Gini ni akibatnya kalau tidur nggak baca do’a. Tapi ada yang aneh juga. Aku sama sekali tidak mengingat isi mimpiku ini. Ah sudahlah, lebih baik aku mandi saja daripada mengingat isi mimpiku yang nggak jelas asal-usulnya.
Tit..Tit..
Message from Fed :
Da, maaf, hri ini gw ngg bsa antr Lo, czx ada hlgn sdkt. Gpp ya J
Huaaa… Mugkin ini mimpi burukku. Nggak bisa di antar sama Fed. Hihihi… Aku jadi terkekeh sendiri di dalam keheningan kamarku ini.
Message for Fed :
Gpp kok J
Pelan-pelan aku menyimpan ponselku di atas meja belajar. Sehari tanpa tumpangan dari Fed membuat hari ini semakin sepi dan sunyi. Tiba-tiba, muncul pertanyaan aneh yang tercipta dalam pikiranku. Apa ya halangan itu? Biasanya kalau ada halangan, Fed tetap mau kok mengantarku. Ada apa ya? Apa diaa….. Cepat-cepat aku membuang pertanyaan aneh itu. Semoga saja hal yang tidak diinginkan tidak akan terjadi.
Di ruang makan, mama melihat raut wajahku yang sedikit kurang ceria. Ditambah lagi keadaanku yang tidak rapi. Rambutku ku biarkan tergerai lurus sampai ke bawah dan itu juga tanpa sisiran.
“Wajah kamu kenapa sayang ?.” Tanya mama sambil menyisir rambutku dengan tangannya.
“Manda nggak apa-apa kok. Oya, Manda berangkatnya sama Kak Arfy aja ya, soalnya Fed nggak bisa anterin Manda..” Jawabku dengan ekspresi sedih, juga berat.
“Ya jangan bilang ke mama dong, bilang sama kakakmu itu..” Kata mama sambil melirik Arfy yang sedang memakan roti bakar. Aku beralih memandangi wajah Arfy. Ia menatapku dengan sedikit senyuman yang tersembunyi.
“Kak, Manda boleh kan bareng sama kakak ?.”
“Tentu saja adik kakak yang cantik..Hehehee..” Jawab Kak Arfy senang.
***
Dunia seakan-akan terasa gelap. Ada halangan katanya. Tapi ini sama sekali bukan halangan. Yang ada hanya menghindar. Mataku menangkap Fed yang sedang memarkirkan motornya. Tuhan, apa Fed sudah tidak mencintaiku lagi ???
“Lo nggak apa-apa Da ?.” Tanya Kak Arfy
“Gue nggak apa-apa kok.” Bohongku
“Muka Lo pucat sekali Da, apa elo sakit ?.” Tanya Kak Arfy penuh perhatian disertai rasa panik.
“Gue nggak sakit kok Kak.” Jawabku berusaha untuk tersenyum, menghilangkan rasa pedih.
“Ya udah kalau gitu, jaga diri Lo baik-baik ya..” Kata Kak Arfy sambil membelai halus rambutku yang sudah terlihat rapi.
“Iya Kak, gue duluan yaa..”
“Iyaaa..”
Sambil menunduk, aku berjalan pelan menuju ruanganku dengan hati hampa dan kosong. Ada salah satu temanku menyapaku, tapi aku diam saja. Aku hanya ingin menemui Tya dan langsung menangis dipangkuannya.
“Da, Lo nggak apa-apa ?.” Tanya Tya. Belum saja aku menjawab, Shanin datang dan langsung berbicara ceplas-ceplos.
“Da, Fed benar-benar selingkuh, kemarin gue lihat dia jalan berdua sama cewek, tapi gue nggak tau siapa cewek itu..” Semua hening mendengar cerita Shanin. Termasuk aku.
“Shaniiiiin… Traktir gue dong !!!! Elo kan dapat pacar baru.. Ganteng lagi....” Teriak Stefy dari jauh. Muka Shanin memerah mendengar teriakan Stefy yang terlalu berlebihan.
“Fy, apa Lo gila ? Ngapain Lo sebarin kalau gue udah dapet pacar baru ? Apalagi di hadapan Manda..” Geram Shanin.
“Emangnya kenapa Shan ?.” Tanya Stefy kebingungan
“Manda…” Jawab Shanin
“Ah sudahlah..” Jedaku. “Kalian jangan pikirkan gue lagi. Oya Shan, siapa cowok Lo itu ?.”
“Mmmm…”
“Vino.” Jawab Stefy semangat, biarpun dirinya yang bukan di tembak sama Vino.
“Selamat ya Shan, semoga Lo sama Vino menjadi pasangan yang serasi. Gue yakin Vino pasti setia sama elo. Lo jangan sampai terbuang kayak gue ini…” Air mataku sudah tak dapat ku bendung lagi. Benar, aku menangis di pangkuan Tya. Tya tidak tega melihat seorang gadis yang menangis lirih di pangkuannya.
“Da, gue yakin Lo akan mendapatkan cowok yang setia, gue janji akan mencarikan cowok yang lebih baik dari Fed..”
“Tapi gue masih cinta sama Fed, Ty..”
“Gue ngerti Da kalo Lo masih cinta sama Fed, ya mudahan saja cewek yang diceritakan Shanin bukan pacar Fed, siapa tau cewek itu saudaranya Fed..”
Aku memahami penjelasan Tya. Masih ada kesempatan untukku. Semoga saja Fed masih mencintaiku dan langsung melanjutkuan hubungan ini tanpa adanya kendala sedikitpun.
***

Telah lama sendiri dalam langkah sepi
Tak pernah ku kira bahwa akhirnya
Tiada dirimu di sisiku
Meski waktu datang dan berlalu sampai kau tiada bertahan
Semua takkan mampu mengubahku
Hanyalah kau yang ada di relungku
Hanyalah dirimu mampu membuatku jatuh dan mencinta
Kau bukan hanya sekedar indah
Kau tak akan terganti
Tak pernah ku duga bahwa akhirnya
Tergugat janjimu dan janjiku...
Aku menyanyikan lagu itu sambil menitikkan air mata diiringi petikan gitar cokelat milik Kak Arfy. Tidak seharusnya aku merasa sedih. Teman-temanku, semuanya sudah mendapat cowok yang baik dan setia. Tuhan, aku benar-benar iri sama mereka. Bagaimana tidak bahagia jika mempunyai seorang cowok yang sangat sayang kepada kita? Fed, ku harap kamu masih setia kepadaku. Disini aku menantimu Fed, menanti seorang kekasih yang lama telah pergi..
Bunyi motor berhenti tepat di depan pagar rumahku. Titik-titik harapan sudah ada di depan mata. Fed, seorang diri berunjung ke rumahku. Ia tersenyum melihatku dan aku yakin itu adalah senyuman terakhir yang ia berikan kepadaku.
Da..?.” Tanya Fed lembut
“Iya..” Jawabku sesak. Air mata sudah ingin keluar
“Gue mau bilang sesuatu. Tapi elo janji jangan sedih mendengar apa yang gue katakan.”
Benar kan. Pasti Fed siap memutuskan hubungan ini. Aku siap Tuhan mendengar perkataan Fed. Tapi menurutku, aku lebih baik mati saja daripada mendengar perkataan Fed yang membuat air mata ini tidak bisa berhenti mengalir.
Da, gue mau putus sama elo. Sejujurnya, gue udah punya pacar selain elo. Da, boleh nggak gue ambil kembali cincin pertunangan kita yang pernah gue kasih ke elo dulu ?.”
Air mataku sudah mengalir deras. Apalah arti mencinta selama empat tahun ini ? Apalah arti kasih sayang bila harus berpisah ? Hanya kesedihan yang di hasilkan oleh empat tahun bercinta ini.
“Gue udah tau Fed, gue tau dari Shanin. Kemarin, Shanin ngeliat Lo berdua jalan-jalan sama cewek. Fed, gue sakit hati. Apa Lo nggak kasian sama gue? Setiap hari gue berdoa agar Tuhan selalu mempersatukan kita. Tapi apa arti doaku ini Fed? Tega-teganya Lo putusin gue. Sedangkan teman-teman gue udah punya cowok yang setia. Fed, gue tau kalo elo nggak cinta lagi sama gue. Baiklah Fed, kalau itu mau Lo. Ini, cincin dusta Lo !!! Ambil Fed, kasih ke cewek Lo.. Gue benci elo Fed...”
Emosiku sudah berap-api. Fed memandangiku dengan perasaan bersalah. Tapi mau gimana lagi ? Dan cincin itu, aku lempar sekeras-kerasnya tanpa mempedulikan apa cincin itu rusak atau tidak. Fed mengambil cincin malang itu. Setitik demi setitik air matanya mengair membasahi cincin itu. Fed, teganya Lo dustakan gadis itu.. Apa Lo nggak punya hati ?
Da, kalo Lo nggak keberatan, Lo boleh jadi pacar gue. Tapi biarkan gue pacaran sama cewek lain ya sayang...” Kata Fed memelas.
“Nggak !!! Gue nggak mau. Sama saja itu gue ngerusak hubungan orang lain. Gue benci elo Fed..” Bantahku lalu masuk ke dalam rumah.
Da tunggu ! Gue masih cinta sama elo !!!”
Perkataan yang manis, tapi dilengkapi dusta. Gila apa seorang Fedryan macarin dua cewek. Apa kata orang kalau melihat adegan ini ? Aku memang benar-benar benci sama Fed juga benar-benar nggak rela apa yang barusan dia katakan kepadaku. Apa artinya janji manis yang dijanjikan Fed dulu sewaktu dia menembakku ? Kemana janji itu ?
Aku berlari memasuki kamarku yang berantakan. Wajahku ku dekapkan di bantal stawberryku. Oh Tuhan, mengapa ini harus terjadi kepadaku ? Mengapa tidak terjadi kepada orang lain saja ? Mengapa harus aku ? Dimana kasih sayangmu Tuhan ? Tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Seorang cowok tinggi masuk ke dalam kamarku. Cowok itu melihat keadaanku yang menyedihkan.
“Lo kenapa Da ?.” Tanyanya lembut
“Itu, Fed, dia putusin Manda..”
“Kok bisa ?.”
“Ternyata dia nggak cinta lagi sama Manda. Dia juga udah punya pacar selain Manda.”
Kak Arfy terdiam mendengar jawabanku. Dibelainnya rambutku dengan kasih sayang seperti belaian mamaku sendiri.
“Itukah hal yang membuat Lo sedih ?.”
“Iya Kak.”
“Udahlah sayang, jangan sedih. Urusan jodoh sudah ada di tangan Tuhan. Tuhan sendiri tau siapa jodohmu yang sebenarnya. Jadi, lupakanlah Fed walaupun itu bisa menyakitimu.”
Tangisku semakin meledak. Ku dekapkan kepalaku di dada Kak Arfy dan Kak Arfy langsung memeluk tubuhku. Tanpa ku sadari, kaos putih Kak Arfy basah karna air mataku sendiri. Tapi Kak Arfy tidak peduli. Ia malah semakin memelukku dengan erat.
***
Hari-hari ini sangat berbeda dari hari sebelumnya. Biasanya, aku sering di ajak jalan-jalan sama Fed. Tapi sekarang tidak. Aku lebih suka mengurungkan diri di kamarku. Sekarang, aku sendirian. Tak ada lagi cowok yang menyayangiku. Tak ada!
***
Apalah maumu kasih kau pilih diriku di dalam hidupmu
Nyatanya ku lihat ini tak bisa kau coba untuk setia
Sudah cukuplah sudah ku memberikan waktu
Kau selalu tak bisa mencoba untuk setia
Yang selalu ku inginkan yang selaluku nanti
Ku coba untuk mengerti apalah arti mencinta
Dan harus kau sadari bila ingin bersamaku
Jangan coba kau ingkari cobalah umtuk setia
Masihkah aku di inginkan masihkah aku di dambakan
Masih ada waktu untukku bersamamu akankah ku jalani hidup..
Sekarang, tidak ada lagi cowok yang menyayangiku lagi! Itulah hidupku. Fed sibuk menyayangi Angel, pacarnya. Aku baru tau kalau Fed lebih dulu mengenal Angel, dan aku baru tau kalau Fed lebih dulu menembak Angel. Pantas saja Fed lebih mencintai Angel dibanding aku. Antara aku dan Angel, Angel-lah yang lebih sempurna. Tapi aku sama sekali tidak tau apa kesempurnaan itu sehingga Fed lebih mencintai Angel daripada aku.
***
Pagi hari yang cerah ini serasa seperti malam gulita. Bulir-bulir air mata masih membasahi pipiku. Kalimat pahit yang diucapkan Fed kemarin masih melekat di otakku, hanya kekuatan dan ketegaran yang mampu melenyapkan kalimat pahit itu. Suasana di ruanganku sangat ramai. Bisa aku lihat dari jauh, semua temanku sedang asyik bercengkrama dengan kekasihnya. Vino bersama Shanin, Tya bersama Amry, Stevy bersama Ary, dan aku… Sudahlah. Kesedihanlah yang menjadi kekasihku saat ini.
“Da, ayo gabung kesini !!” Kata Shanin
“Enggak dah, gue disini aja.” Jawabku seraya duduk di kursiku. Shanin mengerti perasaanku sekarang ini. Ia juga sudah tau kalau aku putus dengan Fed.
“Manda..Manda…Manda…!!!” Kata Tya semangat.
“Apa ?.” Jawabku
“Da, gue punya sepupu, orangnya ganteng, baik, dan pintar, dia sekarang ngelanjutin sekolahnya di ITN. Lo mau nggak gue kenalin ke dia ??? Gue yakin sepupu gue itu setia sama Lo. Orangnya taat agama lagi.. Gimana ???.”
“Mmmm…”
“Ayo dah Da, seandainya dia jadi pacar Lo, gue jamin dia nggak bakalan mau putus sama elo..” Kata Tya memantapkanku sambil mem-V-kan jarinya. Aku merasa sedikit bahagia. Akhirnya, ada juga harapan itu. Siapapun cowok itu, aku tetap mau, asalkan baik, pintar, dan setia. Masalah ganteng, jelek, kaya, miskin atau apa sajalah, itu nggak akan jadi bebanku. Artinya, biarpun orangnya jelek, tapi baik dan setia, aku mau menerima orang itu. Tapi malah sebaliknya, jika orang itu ganteng, tapi playboy, tentu saja aku nggak mau menerima orang itu.
“Oke Ty, tapi Lo janji, sepupu Lo itu harus SETIA.”
“Janji Da, kalau nggak setia, gorok aja leher gue, hehehe…”
“Ih… ya enggak lah…” Kataku merinding. Aku memang paling takut kalau mendengar kalimat pembunuhan seperti di gorok itu, atau di potong.
“Besok ya gue kenalin ke sepupu gue itu..”
“Oke Tyaku, semoga Lo sama Amry cepat tunangan. Hehehe…”
“Amiiiiin..”
***
Bunga-bunga cantik menghiasi hatiku ini. Nyanyian lagu yang merdu mengalun di telingaku. Harapan indah telah ada di depan mataku saat ini. Sejak peristiwa kemarin, aku merasakan sesuatu yang sangat bahagia. Hari ini, aku siap bertemu dengan sepupu Tya yang ia ceritakan kemarin. Aku berusaha untuk mempercantik penampilanku agar sepupu Tya dag-dig-dug melihat diriku.
Message from Tya :
Da, Lo udh siap nggak ????
Message for Tya :
Ya dong….
Message from Tya :
Jngn lupa pke ping smw yaaa.. czx sepupu gue ska bngt sm cewek yg pke bju wrn pink. Ktx sih klo dia ngeliat cewek yg pke bju wrna pink, cwek itu keliatanx imuuuutttt banget..
Message for Tya :
Ok Ty..
Segala keperluan sudah aku siapkan. Dari ujung rambut sampai ujung kaki. Manis! Semuanya serba pink. Sesuai dengan pesan Tya. Jepit rambutku yang bergambar pita berwarna pink. Bajuku juga berwarna pink. Rokku juga berwarna pink. Ada satu yang aku lupakan. Aku harus mempersiapkan senyuman manisku untuk calon pacarku. Hehehe…
Dari tangga bawah, mama memperhatikanku dengan serius. Wah, pasti ada sesuatu yang harus mama bicarakan. Dan benar juga, mama langsung berbicara kepadaku dengan gaya yang penasaran.
“Kok kamu serba ping sih?.”
“Manda mau ketemuan sama calon pacar Manda, makanya Manda harus keliatan manis. Manda cantik kan ma?.” Kataku PD.
“Mama nggak tau, Tanya aja sama Arfy..”
“Ih mama…” Mukaku jadi memerah.
“Lo cantik kok Da, cantikk..” Jawab Kak Arfy tiba-tiba. Aku tidak tau kapan dia datang. Tiba-tiba saja ia nyelonong masuk dan langsung memujiku.
“Nah, berarti kamu cantik sayaangg..” Kata Mama
“Iya deh ma.” Kataku sambil malu-malu.
“Eh Da, Lo mau gue anter?.” Tanya Kak Arfy
“Nggak deh Kak, gue sama Tya.”
“Ooo, ya udah deh. Emangnya Lo mau ketemuan sama siapa?.”
Belum sempat aku menjawab, Tya langsung datang. Otomatis aku langsung berlari menuju Tya tanpa menjawab pertanyaan Kak Arfy.
“Manda pergi dulu yaaa, dah Mama.. Kak Arfy..”
Mama dan Arfy mengangguk sambil melambaikan tangan. Aku pergi menuju Tya sambil tersenyum lebar. Tya memandangku dengan perasaan gembira pula. Jadilah hari ini, aku akan menghadapi seseorang yang aku yakini akan menjadi cinta terakhirku.
***
Dia tampan, sangat tampan. Aku sampai grogi melihatnya. Meskipun aku perhatikan dia sering menunduk. Aku juga dapat menyimpulkan kalau dia juga grogi melihatku, malahan grogian dia daripada aku. Tuhan, semoga dia akan setia kepadaku.
“Raf, ini Manda, inilah orang yang gue kenalin ke elo, Lo mau nggak?.” Tanya Tya
Cowok itu mengangkat kepalanya yang mungkin terasa berat jika di angkat. Aku melihatnya dengan tatapan mata yang sedikit malu, juga masih grogi. Mata dua insan itu memandang lurus melihat anak panah yang tepat. Aku dan Raffi. Dua insan yang sedang dihinggapi rasa cinta yang luar biasa. Raffi menjabat tanganku yang kaku dan dingin. Ia menyebutkan namanya dengan suara yang lirih. Hatiku merinding mendengar suaranya. Setelah itu, kami diam tanpa bersuara.
“Eh, kalian kok diam? Bukannya saling mesra-mesraan gitu?.” Tanya Tya kebingungan.
“Mmm, Ty, cantik banget teman Lo ini, gue..gue nggak tau harus bilang apa, apa gue cocok untuk dia?.” Bisik Raffi ke telinga Tya.
“Raf, Lo cocok kok sama Manda. Tuh lihat, si Manda bahagia kan?.”
Raffy menatapku sambil tersenyum manis. Baru pertama kali ini aku melihat senyuman manis seorang cowok. Senyuman Fed mah kalah sama senyuman Raffi.
“Elo… Lo mau nggak ja..jadi sahabat gue?.” Tanya Raffi malu
What? Sahabat? Apa aku salah dengar? Bukannya pacar yang harus di bilang Raffi? Tya mengetahui hal itu dan langsung memberikan penjelasan kepadaku.
“Da, Raffi ini anti pacaran. Jadi gue harap, Lo jadi sahabatnya Raffi saja, tapi sahabat yang istimewa. Gimana? Gue yakin Raffi akan selalu menjaga Lo dari cowok-cowok nakal..”
“Mmm, oke deh. Tapi anterin gue ya kalo gue berangkat kuliah..” Kataku manja tepat di hadapan Raffi.
“Iya deh, mulai besok ya gue anterin Lo kuliah..”
“Oke Raf, I Love You..” Kataku sambil memeluk erat tubuh Raffi.
“Eh, jangan erat-erat dong, gue belum mandi, hehehe..” Canda Raffi. Ya, aku telah menemukan seseorang yang aku cari selama ini. Aku yakin Raffi akan selalu ada untukku. Dari sifatnya yang aku perhatikan, dia adalah cowok yang baik dan setia. Semoga saja aku dan dia akan menjadi pasangan yang serasi.
****
Tiada tangis di dunia ini, tiada kesedihan di hidup ini, itu karena kehadiranmu yang selalu menghiasi hari-hariku. Aku cinta kamu Raf, aku juga sayang kamu. Selamanya dirimu akan tetap di hatiku.
***
Sudah hampir dua bulan aku bersama Raffi. Tidak ada tanda-tanda dusta dari dirinya. Hanya pancaran cinta dan kasih sayang yang menjelma dari dalam diri Raffi. Aku sangat menyayanginya. Dia juga sangat menyayangiku. Dia selalu ada untukku di saat aku rapuh atau bersedih. Ia juga menjadi pangeran dalam hidupku.
***
Kau begitu sempurna.. dimata ku kau begitu indah

Kau membuat diri ku akan slalu memujamu

Di setiap langkahku ku kan slalu memikirkan dirimu

Tak bisa ku bayang kan hidup ku tanpa cintamu

Jangan lah kau tinggalkan diriku

Tak kan mampu menghadapi semua

Hanya bersama mu ku akan bisa

Kau adalah darahku kau adalah jantung ku

Kau adalah hidup ku lengkapi diriku

Oh sayangku kau begitu

Sempurnaa...

Cowok itu menggerakkan tangan kanannya di atas selembar kertas putih. Ia tersenyum menatap selembar kertas yang di tulisnya. Malam semakin gelap. Titik-titik cahaya muncul menerangi gelapnya jagat raya. Rembulan mengintipnya dari dalam kamar yang ditempati seorang gadis cantik yang sedang tertidur pulas. Benar. Cowok itu sudah lama jatuh cinta kepada gadis itu. Tapi ia tidak berani mengungkapkan rasa cintanya itu. Ia hanya bisa  menulis dan mengungkapkannya pada selembar kertas putih itu.
Tangan kanannya berhenti menulis. Ia bangkit dan langsung mencium kening seorang gadis yang dicintainya itu. “Mimipi indah ya sayang, ingat, aku selalu ada untukmu.”

***

Aku terbangun dari mimpiku. Tentu saja di dalam mimpiku ada Raffi. Tapi, ada satu cowok misterius hadir di dalam mimpiku. Ceritanya, cowok itu iri sama Raffi karena Raffi sudah menembakku duluan. Padahal, cowok misterius itu sangat mencintaiku. Aku bingung sekaligus penasaran akan mimpiku itu. Aku terbangun dengan perasaan penasaran pula. Siapa cowok misterius itu? Mengapa dia mencintaku?

Aku bangkit dari tempat tidurku. Mataku menangkap selembar kertas putih bertuliskan lirik lagu yang aku kenal. Judulnya ‘SEMPURNA’. Tulisannya rapi dan bagus. Siapa juga yang menulis lirik lagu ini? Apakah mama yang menulisnya? Tidak mungkin. Mama kan cewek, tidak mungkin dia yang menulis lirik lagu ini. Papa mungkin? Tidak juga. Tulisan papa tidak sebagus ini. Apa Deva dan Devi? Ku rasa tidak juga. Mereka berdua tidak mengenali lagu ini. Apa jangan-jangan Kak Arfy? Hah? Nggak mungkin Kak Arfy. Tapi ini serius. Lagu ‘SEMPURNA’ itu adalah lagu favorit Kak Arfy. Apa ini arti dari mimpiku ini? Di dalam mimpi, aku bertemu cowok misterius. Dan nyatanya, aku menemukan lirik lagu misteri ini. Benar-benar misteri yang harus aku teliti dengan cermat.

Oh ya, aku lupa. Hari ini, Raffi mengajakku jalan-jalan ke Taman Safari menggunakan mobil Jazz abu-abunya yang keren. Tentu saja sejak kemarin aku sudah mempersiapkan segalanya agar Raffi tetap grogi melihat penampilanku seperti saat aku dan dia bertemu pertama kali.

Aku, mama, papa, Deva, Devi, dan Kak Arfy berkumpul di meja makan. Sambil sarapan pagi, aku bertanya kepada mereka semua untuk menjawab dengan jujur tentang liri lagu itu.

“Kali ini Manda pengen kejujuran dari mama, papa, Deva, Devi, dan Kak Arfy. Siapa yang menulis lirik lagu ini di kamar Manda?.”

Semua mata memandang ke arahku. Tapi sepertinya, mereka tidak ada yang mengaku. Aku berfikir sejenal. Pasti di antara mereka berlima yang menulis lirik lagu itu. Nggak masuk akal kan kalau penghuni lain masuk ke dalam kamarku secara diam-diam. Lagi pula, kemarin malam aku sama sekali tidak menemukan lirik lagu itu. Esok paginya baru lirik lagu itu ada di kamarku. Jadi, ada seseorang yang masuk ke kamarku saat aku tertidur lelap.

Benarkan nggak ada yang jujur. Aku benar-benar kecewa. Pagi hari yang indah ini hancur sedikit gara-gara tidak ada yang mau mengaku tentang lirik lagu itu. Baiklah. Aku yakin suatu hari nanti aku akan menemukan orang yang menulis lirik lagu itu.

“Ma, pa, Manda pergi dulu ya. Soalnya Raffi udah nunggu tu di luar.”

“Iya sayang..” Jawab Mama tersenyum

“Kak, jangan lupa bawa oleh-olehnya yaa..” Kata Deva

“Ihh, enggak ah..”

Semua tertawa riang kecuali Kak Arfy. Dari tadi aku perhatikan, dia diam saja sambil menunduk. Tumben-tumbennya Kak Arfy jadi pendiam. Padahal, dia yang paling cerewet diantara kami berenam. Aku yakin pasti Kak Arfy punya suatu masalah yang di pendamnya. Aku bergegas keluar menemui Raffi yang dari tadi sedang menunggu.

“Hai Raf, maaf ya nunggu lama.”

“Ooo, nggak apa-apa kok Da, ayo deh kita berangkat.”

“Ayo!!!” Jawabku semangat

Aku dan Raffi menaiki mobil Jazz yang keren itu. Raffi sangat pandai menyetir mobil. Sebelum mobilnya berjalan, ia berkata lembut, “Da, gue sayang sama elo, gue pengen selalu bersama Lo.” Aku tersenyum mendengar perkataannya. “Gue juga sayang sama elo.” Balasku sambil mencubit pipinya. Raffi meringis karna ulahku yang memang aslinya menyebalkan.

***

Denting piano mengalun di ruangan itu. Dua insan yang sedang di selimuti cinta bernyanyi merdu mengalahkan seribu penyanyi terkemukaka di seluruh dunia.

For all those time you stood by me

For all the truth that you made me see

For all the joy you brought to my life

For all the wrong that you made right

For every dream you made come true

For all the love I found in you

I’II be forever thankful baby

You’re the one who held me up

Never let me fall

You’re the one who saw me through

Through it all

You were my strength when I was weak

You were my voice when I couldn’t speak
You were my eyes when I couldn’t see

You saw the best there was in me

Lifted me up when I couldn’t reach

You gave me faith ‘cause you belived

I’m everything I am

Because you loved me

Raf, ternyata elo bisa juga ya main piano..” Kataku setelah alunan piano berhenti berbunyi.

“Gue emang bisa Da..”

Tempat itu sangat indah bak surga para bidadari. Raffi merangkulku dan mengajakku mengelilingi tempat asing itu yang ku anggap surga. Aku sangat terpesona dan takjub memandangi keindahan di tempat itu. Secara tiba-tiba, rangkulannya semakin melonggar. Tubuh Raffi yang dekat denganku sekarang semakin menjauh. Aku mengira ia bermain-main. Tapi nyatanya tidak.

Raf..” Teriakku. Raffi tetap saja menjauh dariku. Kaki-kakiku berlari menuju tempat Raffi berada. Semakin aku dekat dengannya, maka kaki-kakiku terasa semakin berat.

“Raf..” Ulangku untuk yang kedua kalinya.

Da, gue pengen tanya sama elo, boleh kan?.” Tanyanya

“Boleh..”

“Kalau seandainya gue nggak ada gimana?.”

“Maksudnya?.”

“Ya, kalau seandainya gue nggak tinggal lagi sama Lo lagi gimana?.”

“Gue nggak mau lah. Emangnya kenapa Raf? Lo mau pergi kemana?.”

“Gue mau pergi ke tempat yang jauh, sangat jauh yang nggak bisa Lo temukan.”

Tiba-tiba Raffi menghilang. Aku kaget setengah mati. Cowok pujaan hatiku telah menghilang entah kemana. Titik-titik air mata berjatuhan kembali saat dia pergi. Kesedihan, kembali hadir di hidupku. Dari jauh, aku melihat seorang cowok misterius yang dulu pernah aku temui.

Da..?.” Tanya cowok misterius itu.

“Iya..” Jawabku parau

Raffi berpesan ke gue agar gue selalu menjaga Lo.”

Hah? Menjaga? Memangnya Raffi kemana? Dan siapa cowok misterius itu? Aku sama sekali tidak mengenali cowok itu. Wajahnya bercahaya. Suaranya sangat lembut. Perawakan tubuhnya tinggi.

“Elo siapa?.” Tanyaku

“Gue..”

***

“Da bangun Da..”

Aku terbangun dibasahi keringatku sendiri. Mimpi aneh lagi, gumamku. Kak Arfy sudah berada di kamarku. Aku sadar. Dia yang membangunkanku dari mimpi anehku. Sejurus kemudian, terbayang-bayang lagi tentang mimpiku yaitu bertemu cowok misterius. Aku benar-benar sangat kecewa dan marah terhadap Kak Arfy. Tega-teganya dia membangunkanku sebelum aku mengetahui nama cowok misterius itu.

“Kenapa elo bangunin gue? Hah? Nggak sopan banget sih..” Teriakku bersama amarah yang menjadi-jadi.

“Maafin gue Da, tapi ini ada telpon dari Vino.” Jawab Kak Arfy pelan diliputi rasa bersalah karena telah membangunkanku dengan cara tidak sopan. Kak Arfy memberiku HP yang ia pegang. Amarahku berkurang. Segera aku merebut HP dari tangannya.

“Ada apa No?.”

“Raffi, Da..”

“Ada apa dengan Raffi?.”

Perasaanku mulai tidak enak. Apa ini ada hubungannya dengan mimpi anehku? Apakah Raffi akan pergi meninggalkanku? Oh Tuhan, ini tidak boleh terjadi. Raffi harus bersamaku. Sampai kapanpun.

“Raffi..Raffi meninggal Da, tadi pagi dia ditabrak truk..”

Tanganku bergetar dan kaku. HP yang aku pegang terjatuh ke lantai putih yang begitu keras. Kak Arfy mengetahui hal itu langsung menenangkan diriku yang kelihatan shock.

“Oh tidak, Raffiiii…” Teriakku bersamaan tangisanku yang sangat keras.

“Sabar Da, sabar, ayo kita pergi ke rumah sakit sekarang..”

Tanpa basa-basi lagi, aku dan Kak Arfy langsung menancap gas menuju rumah sakit Irian, tempat Raffi dirawat.

Apa salahku Tuhan sehingga Raffi sampai begini?

Apa Kau tidak setuju jika aku dan dia saling bercinta?

Biarlah kemalangan ini menimpaku
Biarlah nasib buruk ini bermain-main di hidupku
Dan biarkanlah semuanya hadir di dalam mimpiku..
***
“Raf !!!!” Teriakku histeris menatapi seorang cowok yang terbaring kaku di ranjang rumah sakit.
“Sudahlah Da, jangan sedih..” Hibur Shanin
Aku tidak tau harus berbuat apa. Aku bukanlah Tuhan yang bisa menghidupkan Raffi lagi. Teman-temanku berkumpul di samping ranjang tempat Raffi terbaring. Sambil berdo’a, aku ingin mengucapkan kalimat terakhirku yang belum aku pernah ucapkan sebelumnya kepada Raffi.
“Raf, gue pengen elo selalu ada untuk gue. Gue nggak ingin Lo pergi begitu saja. kasihanilah gue ini Raf.. seorang gadis yang tidak bisa menemukan pasangan yang setia.. Raf.. Kenapa Lo pergi? Kenapa? Raf.. Gue cinta sama elo.. dan selalu cinta sama elo, meskipun elo nggak pernah lagi mendengar suara gue.. Sekali lagi, gue cinta sama elo.. CINTA..”
Itulah kalimat terakhir yang bisa aku lontarkan ke Raffi bersama linangan air mata yang sangat deras. Semoga Raffi akan bahagia di kehidupan barunya yang sama sekali belum aku ketahui. Ya. Aku sempat melihat senyumannya saat ia tertidur panjang. Apakah senyuman itu menandakan bahwa Raffi sangat cinta kepadaku? Entahlah…
***
Sudah hampir tiga jam aku berada di pemakaman Raffi. Aku seorang diri disana. Meratapi nasib buruk yang tak kunjung reda. Langit terasa mendung. Aku yakin pasti akan hujan. Dengan sangat terpaksa aku pulang ke rumah. Di dalam perjalanan pulang, kepalaku sangat sakit. Aku berusaha untuk kuat agar aku tidak pingsan di tengah jalan. Tenang Da, bentar lagi sampai juga.. Akhirnya, aku sampai juga di rumah. Mama sangat khawatir dengan keadaanku.
“Kamu kenapa sayang? Kok mukamu pucat?.”
“Manda Cuma pusing dikit.”
Aku berjalan pelan menuju kamarku. Tepat di lantai dua, aku melihat Kak Arfy yang sedang tertawa menonton acara TV favoritnya. Ah, alangkah bahagianya dia, sedangkan aku, aku tak pernah bahagia. Apalagi hanya tertawa. Tanpa menyapa Kak Arfy terlebih dahulu, aku langsung memasuki kamarku. Aku masih teringat lirik lagu misterius itu. “Pasti Kak Arfy yang menulis ini..” Kataku dengan penuh keyakinan.
“Da..”
Pintu kamarku terbuka. Aku melihat Kak Arfy tersenyum tipis ke arahku. Sekilas, aku melihat senyuman itu. Entah mengapa aku ingin saja terus melihat senyuman itu. Tiba-tiba muncul pikiran di benakku, Kok aku baru sadar ya kalau senyuman Kak Arfy itu manis sekali???.
“Da, maafin gue ya..” Kata Kak Arfy
Aku tersadar. Kak Arfy sudah berada di sampingku dan merangkulku. Masih dengan senyuman yang ia paparkan kepadaku.
“Lo nggak punya salah apa-apa ke gue..” Jawabku
“Tadi pagi kan gue kena marah sama elo gara-gara gue ngebangunin Lo dengan cara tidak sopan..”
“Ooo, iya deh, gue maafin..”
Aku terdiam dengan pikiranku sendiri. Kak Arfy juga begitu. Beberapa menit kemudian, Kak Arfy baru membuka mulutnya.
“Apa sih mimpi Lo itu sampai-sampai Lo marah sama gue?.”
Mimpi? Darimana dia tau kalau aku bermimpi? Apa jangan-jangan cowok misterius itu adalah Kak Arfy? Kepalaku bergerak ke samping kanan menatap wajah Kak Arfy.
“Mmm, gue mau nyeritain mimipi gue itu, tapi asalkan Lo harus ngaku kalo elo yang nulis lirik lagu ini di kamar gue..”
PLAKK..!!!
Aku melempar selembar kertas yang tak lain berisi lirik lagu yang sudah aku remas-remas. Kak Arfy memandangiku dengan gugup. Dipungutnya kertas malang itu.
“Da, gue nggak pernah nulis lirik lagu ini, sumpah Da..” Jawab Kak Arfy sambil mem-V-kan jari tangannya yang sedikit bergemetar. Aslinya, aku sudah yakin seratus persen kalau Kak Arfy yang menulis lirik lagu ini. Tapi dia nggak mau mengaku.
“Ya udah deh kalo gitu. Kapan-kapan ajalah gue nyeritain mimipi gue itu, gimana?.”
“Mm, iya deh. Gue balik dulu yaa..”
Kak Arfy meninggalkan kamarku dengan sebuah perasaan yang tidak aku ketahui. Aku melihat kepergiannya dari dalam kamarku. Sepertinya Kak Arfy mempunyai sebuah masalah yang benar-benar besar sehingga enggan memberitahu masalahnya kepadaku. “Aw..” Kepalaku terasa sakit lagi. Tanpa membuang waktu lagi, aku langsung merebahkan kepalaku di atas bantal nan empuk, menuju alam mimpiku yang aneh. Sangat aneh.
***
Aku terbangun dari alam mimpiku yang aneh. Sedikit demi sedikit air mataku kembali mengalir. Ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 05.55 pagi. Badanku yang terasa berat ku angkat secara perlahan. Hari ini aku akan hidup sendiri. Tanpa adanya seorang cowok yang menyayangiku. Lirik lagu itu juga masih menggentayangi pikiranku. Cepat-cepat ku membuang pikiran aneh-aneh itu. Segera aku bergegas mandi. Jam 08.00 aku akan berangkat kuliah.
Tepat jam delapan kurang, aku siap berangkat kuliah. Yang mengantarku sekarang adalah Kak Arfy. Ya. Semuanya kembali ke masa lalu yang kurang membahagiakan. Kak Arfy tidak banyak bicara kepadaku sejak kejadian kemarin. Mungkin, ia masih mememdamkan masalah besarnya yang sama sekali tidak aku ketahui.
“Hati-hati ya Da..” Kata Kak Arfy sesampai di tempat kuliahku. Lagi-lagi ia memberiku sebuah senyuman yang begitu aneh dalam pikiranku.
“Iya Kak..” Jawabku pelan dan ia langsung saja pergi.
Bayangan Kak Arfy semakin menjadi-jadi di dalam pikiranku. Tapi cepat-cepat aku menepis bayang itu, dan ku gantikan dengan membaca sebuah buku ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan mata kuliahku sekarang ini.
“Rajinnya Manda ini..” Goda Tya tiba-tiba.
“Ya dong..” Jawabku sambil tersenyum.
“Em Da, katanya, Shanin dan Vino mau tunangan siang ini. Gue sama elo di undang. Lo mau ikut nggak? Maaf sebelumnya ya Da..”
“Ikutlah, gue kan sahabatnya Shanin..”
“Ya udah deh, lanjutin dah bacanya..”
Sejujurnya, aku panas mendengar kalimat yang di ucapkan Tya. Dan sebenarnya aku tidak ingin hadir di acara pesta pertunangan Shanin dan Vino. Tapi aku tidak enak dengan Shanin. Shanin adalah sahabatku. Dulu, ia juga hadir di acara pertunangan aku dengan Fed. Suka tidak suka, malas tidak malas, yang penting aku harus hadir di acara itu. Kalau tidak, aku pasti di anggap sombong sama Shanin.
“Wah, gue harus beli kado sekarang juga nih untuk Shanin..” Kataku kaget, dan di dengar oleh Tya.
“Tenang Da, kita nanti pulangnya nggak siang-siang kok. Pas pulangnya aja Lo beli kado, gimana?.”  Saran Tya. Aku mengangguk. Masih ada waktu untuk membeli kado untuk Shanin.
***
Akhirnya pulang juga. Aku berlarian ke luar menerobos mahasiswa lain yang sedang berjalan. Ada satu diantara mereka yang memarahiku. Di luar gerbang, aku melihat Kak Arfy yang sedang membaca buku. Ia terlihat berbeda. Ia memakai jaket hitam dan kacamata hitam, sehingga banyak orang yang tidak mengenalinya. Termasuk aku. Tadi ku kira orang itu adalah penjahat, tau-taunya orang itu adalah Kak Arfy. Kenapa juga dia pake gitu-gitu segala..
“Kak Arfy, hai..” Sapaku
“Hai juga..” Jawabnya
“Kok elo pake kacamata hitam segala sih? Apa Lo sakit mata ya?.”
Kak Arfy tersenyum dan mendekatiku. “Dari dulu emang gue selalu pake ini. Lo aja yang nggak pernah merhatiin gue. Ya udah deh, kita pulang sekarang. Gue lelah nih abis praktikum..” Kata Kak Arfy dengan suara lemah. Memang benar. Ia terlihat sangat lelah dan letih.
Yah, Kak Arfy lelah, pasti dia nggak mau nganter Manda, gimana dong ini?
“Ada apa Da?.”
“Mmm, nggak ada deh.”
“Bohong pasti. Emangnya ada apa sih?.”
Bilang nggak ya?
“Mmm, sebenarnya gue sekarang ini mau beli kado buat Shanin karna nanti siang dia kan mau tunangan. Tapi Lo lelah, ya..  gue ngalah aja, Lo pulang sendiri aja deh, biar gue beli kado sendiri..”
“Oh ya, gue juga lupa. Shanin kan mau tunangan sama Vino. Hebat banget tu Vino, bisa dapetin cewek cantik kayak Shanin..”
“Emang Lo kenal sama Vino?.”
“Ya kenallah, orang dia sahabat gue waktu SMA sekaligus saingan gue, hehehe.. Ayo dah kalo begitu, kita cari kado buat Shanin sekarang..”
“Hah? Lo kan lelah, Lo pulang aja sana, gue bisa pulang sendiri kok..” Paksaku. Aku tidak ingin membuat repot Kak Arfy. Kasian dia..
“Nggak bisa Da, gue harus nganter elo..” Bantah Kak Arfy mengalahkan rasa lelahnya.
“Kenapa Kak? Lo kan lelah?.”
“Ingat Da, gue selalu ada untuk Lo, dimanapun Lo berada, gue tetap bersama Lo. Gue nggak ingin Lo terjadi apa-apa..” Kata Kak Arfy.
Hatiku akhirnya luluh mendengar jawaban dari Kak Arfy yang sepertinya meyayat dalam hati. Semua itu benar. Kak Arfy selalu ada untukku. Tapi aku tidak pernah sadar akan kehadirannya di hidupku ini.
“Ya udah deh Kak, Manda nurut aja, tapi kalo Kak Arfy lelah, pulang aja. Manda nggak ingin ngerepotin Kak Arfy..”
Ia tersenyum dan membuka kacamatanya. Wajahnya terlihat lain saat ia membuka kacamata itu yang menempel di kedua matanya. Perasaan asing lagi Da, buang-buang.. Aku menaiki motor Kak Arfy menuju sebuah toko yang jauh. Ingat Da, gue selalu ada untuk Lo, dimanapun Lo berada, gue tetap bersama Lo…
***
Hal pertama yan aku ucapka kepada Kak Arfy yaitu ungkapan ‘terimakasih’ karena dia sudah mengantarku membeli kado untuk Shanin dalam kondisi yang sangat lelah dan letih. Ku lihat, ia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur tanpa menggati pakaiannya terlebih dulu. Kak Arfy sangat letih, aku harus melalukan sesuatu.. Kak Arfy sangat menyukai martabak asin. Ide telah ditemukan. Aku langsung menyambar ke dapur untuk membuat martabak asin kesukaan Kak Arfy.
Bau khas dari martabak asin memenuhi seluruh ruangan di rumahku ini. Dalam sekejap, mata Kak Afry terbuka. Hidungnya sudah dapat menyimpulkan kalau bau enak ini adalah makanan favoritnya yaitu martabak asin.
“Wah wah, Manda lagi buat martabak nih, bagi-bagi dong..”
Aku tersenyum kecut melihat wajah Kak Arfy yang terlihat kelaparan.
“Nggak boleh.” Candaku berusaha untuk bisa mengecewakan Kak Arfy.
“Hem, Manda pelit deh..” Kata Kak Arfy memanyunkan bibirnya. Sepertinya dia benar-benar kecewa.
“Hehehe, ya bolelah Kak..” Aku menyerah dalam misiku untuk mengecewakan Kak Afry.
Tanpa aku sadari, tangan kanan Kak Arfy langsug menyerbu maratabak asin yang ada di atas piring. Weh, enak aja tu anak.. Mukaku berubah menjadi cemberut. Kak Arfy membawa pergi martabakku menuju kamarnya.
“Thanks ya Manda ku, hehehe..”
“Heh, dasar Lo ini! Nyuri martabak orang aja..”
Aku berlari mengejar Kak Arfy. Tapi ini gagal. Pintu kamar Kak Arfy di kunci rapat. Tentu saja aku tidak dapat masuk ke dalam. Seandainya aku punya kunci kamar Kak Arfy...
“Apaan sih ribut-ribut ini?.” Tanya Mama
“Nggak ada kok Ma..”
“Oh, katanya kamu mau pergi ke acara tunangan Shanin?.”
“Oh ya, Manda siap-siap dulu..”
Secepat kilat aku berlari menuju kamarku. Benar. Aku hampir lupa dengan acara tunangan Shanin, sementara jam sudah menunjukkan pukul satu siang.
Message from Tya:
Cptn ya Da, gue mw brangkt nh..”
Message for Tya:
Oke Ty, gue mw siap-siap..
Message from Tya:
Lo brngkt ma cpa?
Message for Tya:
Hmm, gue bsa brngkt sndiri kok..
Yup! Satu masalah lagi. Aku bingung mau berangkat sama siapa. Papa pergi entah kemana. Mama lelah karena barusan pulang kerja. Deva pasti nggak mau. Tuh anak memang pelit. Sama pacarnya baru nggak pelit.
“Hai Da..”
Sial. Aku kaget setengah mati. Tiba-tiba saja Kak Arfy menampakkan diri di dalam kamarku, tanpa permisi dulu. Mau apa dia kesini?
Da, gue ikut ya ke acara tunanangan Shanin dengan Vino, gue kan sahabatnya Vino..”
“Lo lelah kan?.”
“Lelahnya udah hilang gara-gara abis makan martabak asin buatan putri cantik ini, hehehe..” Jawab Kak Arfy sambil mencubit pipiku.
“Idih, sakit tauu, ya udah deh Kak, nanti Kak Arfy yang gonceng Manda yaa..”
Kak Arfy mengangguk dan pergi begitu saja. Beberapa menit kemudian, ia datang menemuiku. Lantas aku kaget bukan main melihat wajahnya yang selama ini tak pernah ku perhatikan. Kok aku baru sadar ya kalo Kak Arfy itu ganteng banget.. Kemana aku selama ini???
“Woi Da, Lo udah siap nggak? Ngapain Lo ngeliat gue kayak gitu? Emangnya ada yang berbeda dari gue?.” Kata Kak Arfy mengagetkanku.
“Oh, nggak ada kok. Yuk deh kita pergi..” Jawabku.
“Kadonya udah Lo bawa?.”
“Udah.”
Ia tersenyum melihat mukaku yang agak sedikit malu. Di tariknya tanganku menuju ruang tengah. Disana ada Mama yang sedang membaca novel.
“Kalian berdua mau pergi ke acara tunangan yaa?.” Tanya Mama.
“Iya tante, kami pamit dulu yaaa..” Jawab Kak Arfy.
“Eh Ar, motor kamu tadi di pinjam sama Andi, terus motor tante lagi di pake sama Deva. Jadi terpaksa deh kamu naik pake mobil ayahnya Manda aja yaa..” Kata Mama
“Sip tante..” Jawab Kak Arfy sambil mengacungkan jari jempolnya lalu berlari ke dalam untuk mengambil kunci mobil.
“Ee Kak, emangnya Lo bisa ngendarain mobil?.” Tanyaku sambil menarik bajunya.
“Bisa dong, Lo sih nggak pernah merhatiin gue..” Jawab Kak Arfy dan langsung berlari lagi.
Sebenarnya, aku sakit hati mendengar perkataan Kak Arfy barusan. Lo sih nggak pernah merhatiin gue. Apa aku banyak salah sama Kak Arfy? Makanya aku di beri hukuman oleh Tuhan yaitu nggak akan pernah mendapatkan cowok yang baik dan setia gara-gara aku nggak pernah merhatiin Kak Arfy. Apa itu benar? Ataukah hanya pikiranku saja?
“Hei! Jangan ngelamun. Ayo deh kita berangkat sekarang. Teman-teman Lo pasti udah banyak yang nungguin Lo..”
Aku terdiam, lantas mengikuti gerakan kaki Kak Arfy yang cukup cepat. Ya, mungkin karena di buru waktu. Sesampai di depan mobil, aku terpaku. Keinginanku untuk menghadiri acara tunangan Shanin menghilang. Entah apa penyebabnya. Kak Arfy menarik tanganku. Cepat-cepat aku memasuki mobil itu. Walaupun kenyataannya terasa berat.
***
Bunyi musik memeriahkan acara istimewa itu. Di depan, ada dua sosok yang sedang tersenyum diliputi kebahagiaan. Aku iri melihat itu. Aku cemburu melihat Shanin bahagia dengan Vino. Vino adalah sosok cowok yang setia. Butuh waktu yang lama untuk mencari sosok setia seperti Vino.
“Hai Ry! Lama ya kita nggak jumpa. Ohya, gimana kabar Lo sekarang?.” Sapa Kak Arfy dan langsung menduduki bangku kosong di samping Ary berada.
“Baik. Oh, Lo Arfy ya? Saingan number one nya Vino?.” Tebak Ary sambil menunjuk ke kepala Arfy.
“Iya, hehehe..”
Aku baru tau juga. Ternyata Ary sudah kenal Arfy sejak dulu. Bukan Vino saja yang sudah kenal Arfy. Aku melirik ke samping kanan. Di samping kananku ada Stefy, lalu Tya. Mereka tersenyum manis menatapku.
“Wah Fy, itu cowok Lo ya? Ganteng banget.. Siapa dia?.” Tanya Stefy iseng.
“Itu Kak Arfy. Dia kakak gue.” Jawabku singkat.
“Lho? Lo kan nggak punya..”
“Ssst, kalian jangan berisik, besok aja lanjutin omongannya.” Kilah Tya.
Aku dan Stefy menurut. Mataku menatap lurus ke depan. Terbayang-bayang masa laluku saat bersamanya. Kami juga sudah bertunangan. Tapi cinta kami tidaklah abadi. Dia sudah memilih cewek lain. Dia sudah tidak mencintaiku lagi. Setelah acara selesai, aku dan teman-temanku member selamat kepada Shanin dan Vino. Tampaknya mereka terlihat bahagia.
“Long last ya No! Gue nggak percaya kalo Lo udah dapet cewek cantik kayak gini..” Kata Arfy.
“Hehehe..” Kata Vino.
“Psst, itu siapa No?.” Bisik Shanin.
“Itu temen SMA gue, namanya Arfy.”
“Kok dia deket ya sama Manda?.”
“Pacarnya kali..”
Aku tau apa yang dibicarakan Shanin dan Vino. Tetapi aku pura-pura tidak tau. Perasaaanku kini mulai terasa aneh. Apalagi tepat di belakang Kak Arfy. Jantungku kini semakin berdebar-debar tak karuan.
“Yuk pulang Kak..”
“Oh ya, ayo dah..” Jawab Arfy sambil meninggalkan tempat itu.
“Eh Da , tu siapa? Cowok Lo?.” Tanya Tya heran.
“Besok ajadah gue jelasin..” Kataku lalu menghilang di balik kerumunan orang yang sedang berlalu lalang.
“Itu kakaknya Manda Ty, namanya Arfy. Tapi gue nggak yakin kalo Arfy kakaknya Manda, rupanya aja nggak mirip..” Jelas Stefy. “Tapi dia ganteng.. Kok Manda nggak pernah kasi tau ke gue ya tentang Arfy?.” Sambung Stefy lagi yang perkataannya langsung di comment sama Ary.
“Weh, Lo jangan sampe fall in love sama Arfy, awas ya kalo Lo suka sama dia, gue bakalan bunuh tu anak..”
Stefy cengengesan melihat kekasihnya cemburu. Ary, Ary, Lo itu cowok yang paling istimewa kok. Mana mungkin gue suka sama Arfy? Lo itu cinta terakhir gue..
***
Di dalam mobil, aku terdiam tanpa ekspresi. Kak Arfy melaju mobilnya dengan kecepatan rendah. Ia sama sekali tidak ingin terjadi apa-apa dengan mobil ini. Aku hanya ingin cepat-cepat pulang dan langsung merebahkan tubuhku di atas kasur. Tentunya untuk menghilangkan rasa penat di dalam tubuhku ini.
“Eh Da, kita mampir ke kafe yuk! Gue laper nih..” Kata Kak Arfy sambil memegang perutnya.
“Mmm..”
“Kenapa Da? Perut gue udah melilit nih..” Kata Kak Arfy lagi.
“Tapi gue pengen cepat-cepat pulang, badan gue ini sakit sekali, tapi karna Lo laper, kita ke kafe aja, tapi gue nggak makan kok, gue nggak lapar..” Jawabku terpaksa.
Sepertinya Kak Arfy menangkap perasaan ketidak mauanku untuk mampir ke kafe. Dibelainya rambut hitamku yang panjang.
“Ya udah. Kita pulang aja. Gue makannya di rumah aja.” Jawabnya sambil tersenyum. Tangannya masih setia memegangi perutnya yang kelaparan.
“Nggak Kak, kita ke kafe aja..”
“Tapi Lo kan maunya pulang?.”
“Iya sih, tapi gue kasian ngeliat Lo, kita ke kafe aja sekarang..”
“Udahlah Da, gue nggak ingin badan Lo tambah semakin sakit. Ingat Da, gue selalu ada untuk Lo. Gue selalu ngalah, apapun keinginan Lo, gue selalu terima. Meskipun gue nggak mampu, tapi gue tetep berusaha untuk menjalani keinginan Lo.”
Mendengar ucapan yang dilontarkan dari mulut Kak Arfy, aku sepertinya ingin menangis. Baru pertama kali ini aku menemukan sesosok lelaki sebaik Kak Arfy. Dan aku tak pernah menyadarinya. Tak pernah!
***
Tepat jam setengah Sembilan aku sudah berada di kampus. Aku dapat melihat wajah bahagia Shanin dan Vino. Benar-benar pasangan sejati. Aku juga melihat beberapa temanku yang sedang menikmati kebahagiaan bersama pasangannya.
“Nah itu Manda..” Teriak Tya yang tentu saja membuatku kaget.
“Ada apa sih..?.” Jawabku malas.
“Mmm, gimana yaa..?.”
“Gimana apanya? Ty, gue lelah menjalani hidup gue ini. Lo enak Ty, sudah mendapat cowok yang baik dan setia. Kalo gue? Lebih baik gue mati aja Ty, gue udah frustrasi Ty!.”
Tya menenagkanku. Ia tak menyangka mendapat bentakan keras dariku. Aku juga sama sekali tak menyangka kalau aku membentak sahabat sejatiku sendiri. Tya memperbaiki tempat duduknya. Sekarang ia tepat di hadapanku.
“Da, Lo yakin nggak ada satu cowok yang sayang sama elo?.”
Aku ragu. Ada satu cowok yang sebenarnya sangat sayang kepadaku. Tapi dia sudah ku anggap sebagai kakak kandungku sendiri. Aku ragu untuk berkata ‘ia’, dan ragu untuk berkata ‘tidak’.
“Gue tanya sekali lagi. Ada nggak satu cowok yang sangat sayang sama elo?.”
“Gue..gue nggak tau..”
“Terus, siapa cowok cakep yang ngantar Lo pergi ke acara tunangan Shanin?.”
“Namanya Kak Arfy.” Jawabku malu. Entah mengapa jantungku selalu berdebar-debar ketika mengucapkan kata ‘Arfy’.
“Dia bukan kakak kandung Lo kan?.”
Aku mengangguk.
“Sejak kapan Lo tinggal sama Arfy?.”
“Mmm, sejak dia SMP.”
“Dia sayang elo nggak?.”
“Sayang.”
“Dan Lo nggak pernah menyadari kalo Arfy itu sayang sama elo?.”
“Mmm, gue nggak tau. Tapi jujur ya Ty, gue merasa bersalah sama dia. Gue inget dulu. Dia selalu menjaga gue, malahan sampai sekarang. Dia selalu ada untuk gue. Tapi gue nggak pernah sadar akan keberadaannya di dunia ini.”
“Masalah selesai Da. Sebenarnya Lo adalah cewek paling beruntung di dunia ini. Lo mempunyai seseorang yang terus menyayangi Lo. Walaupun Lo nggak sayang sama Arfy, tapi gue yakin. Pasti suatu saat nanti Lo akan sayang sama dia. Lo mengerti untuk apa ia ada di dunia ini. Dan Lo pasti mengerti kalau dia adalah cowok yang sangat menyayangi Lo, mencintai Lo..”
“Gue sayang sama Kak Arfy, maafin gue ya. Gue baru sadar sekarang kalau Kak Arfy adalah cowok impian gue. Tapi gue nggak yakin kalau gue jadi pacarnya. Gue malu Ty.. Gue banyak salah sama dia. Pasti dia nggak mau jadi pacar gue..”
“Hehehe, akhirnya Lo sadar juga. Awareness of Love. Buruan ah ntar pas pulang, Lo tembak dia, hahaha…”
“Ih Tya ini, gue malu tauuu.. Harusnya dia yang nembak gue. Bukan gue yang nembak dia.”
Benar! Aku sudah mendapat cowok yang baik dan setia. Malahan sejak dulu. Sebelum aku mengenal Tya dan juga temanku yang lain. Tuhan, rasanya sangat senang. Aku benar-benar mencintai Kak Arfy. Kini, giliran aku yang harus membalas semua jasa kebaikan Kak Arfy.
***
Rasanya sangat senang saat kuliah selesai. Aku tak sabaran menemui Kak Arfy. Tepat di luar gerbang, wajah manis Kak Arfy sudah dapat aku lihat. Lagi-lagi rasa gugup setengah mati menggentayangiku. Aku malu untuk berhadapan dengan Kak Arfy. Tidak seperti biasanya. Kemarin atau tadi pagi.
“Wah, Lo kenapa Da? Lucu amat. Nunduk-nunduk gitu? Emangnya ada masalah?.” Tanya Kak Arfy.
Aku tetap diam. Sama sekali tidak berani mengangkat wajahku. Jantungku berdetak semakin tidak karuan. Keringat dinginku sudah membasahi seluruh tubuhku.
“Fy, Lo kenapa? Lo nggak seperti biasanya..”
Perlahan, dengan semua keberanian, ku angkat wajahku. Di depan mata, aku sudah bertatapan langsung dengan Kak Arfy. Ia tersenyum. Ku akui senyuman itu adalah senyuman yang paling terindah.
“Mmm, gimana kalo kita makan di restoran? Sekarang juga.” Kata Kak Arfy.
“I…iyaa..” Jawabku.
Jadilah hari ini aku makan siang berdua dengan Kak Arfy. Sebelum itu, ia jarang mengajakku makan siang. Ada apa ya? Apa jangan-jangan dia tau kalau aku suka padanya dari Tya? Tidak mungkin. Kak Arfy tidak mengenal Tya. Mungkin saja ini hanya kebetulan.
Restoran Sari Asih. Restoran ini termasuk restoran yang mewah. Tapi lebih mewah lagi kalau kita datang pada malam hari. Kak Arfy menarik tanganku untuk segera masuk ke dalam. Aku benar-benar malu dibuatnya.
“Da, pesan apa?.”
“Apa aja deh.”
“Ya udah deh.”
Pelayan mencatat pesanan yang di pesan oleh Kak Arfy. Ayam lalapan dan juice jeruk. Aku menurut saja. Lagipula aku sudah bilang tadi kalau aku memesan apa yang Kak Arfy pesan. Setelah itu, aku menunduk terus. Rasa-rasa aneh menyerang tubuhku. Sama seperti tadi. Kak Arfy hanya tersenyum lucu saja melihat aku yang sedang aneh hari ini.
Pesanan akhirnya datang. Tanpa ba bi bu, Kak Arfy langsung menyantap makanan itu. Aku.. entahlah. Hari ini aku tidak nafsu makan. Tentu saja ini akibat dari perasaan aneh itu.
“Lo nggak makan Da?.”
Aku diam. Kak Arfy sepertinya mengerti apa yang aku rasakan sekarang. Diambilnya sendok di piringku. Aku mendadak kaget. Dia.. Dia menyuapiku. Sama seperti Fed menyuapiku dulu. Tuhan, aku senang hari ini. Sangat senang. Terimakasih Tuhan karena telah menciptakan Kak Arfy dan telah menakdirkan bahwa Kak Arfy adalah my true love. Terimakasih Tuhan..
***
Siang itu, kedua orangtuaku sedang pergi. Deva dan Devi menghilang entah kemana. Sedangakan Kak Arfy berdiam diri di depan televisi. Ada niatanku untuk menemuinya. Meskipun perasaan itu masih hinggap di tubuhku. Perlahan, ku ambil lirik lagu itu. Aku harus tau siapa yang menulis ini.
“Hai Kak.” Sapaku ramah.
“Hai juga Da. Ada apa?.”
“Manda…Manda..boleh nggak duduk di samping Kak Arfy?.” Kataku malu.
“Boleh.”
Aku sudah berada di samping Kak Arfy. Dalam diam, aku memerhatikan wajahnya yang selama ini hampir aku lupakan. Jasanya, kebaikannya, hari ini aku menyadari. Kak Arfy lah orang yang selama ini aku cari. Bukan Fed ataupun Raffi. Adalah Kak Arfy. Aku yakin Kak Arfy akan setia kepadaku. Bukannya dari dulu ia selalu menyayangiku?
“Kak, jawab ya pertanyaan Manda dengan jujur.” Aku menghela nafas. “Kakak ya yang nulis lirik lagu ini?.”
Ku lihat wajah pucat Kak Arfy. Semakin aku dekat dengannya, semakin banyak lukisan pucat di wajahnya. Aku yakin sekali dia yang menulis ini.
“Em Da, gue..emang gue yang nulis. Maaf ya.”
Aku tersenyum. Memang benar Kak Arfy yang menulis lirik ini. Aku bahkan tidak mengenali tulisan Kak Arfy. Manda…Manda.. gimana sih kamu ini..
“Jangan bilang maaf dong Kak. Justru Manda harus berterimakasih sama Kak Arfy. Kak Arfy lah yang menjadi cahaya hidup Manda, Kak Arfy lah yang selalu menemani Manda, dan Kak Arfy lah yang selalu ada buat Manda, Kak, gue sayang sama elo..”
Kak Arfy tertawa dengan menunduk. Aku semakin geregetan melihat wajahnya yang lucu.
“Woi Kak, kalo ketawa bagi-bagi dong..”
“Hehehe, maaf.. Jadi, sekarang Lo udah sadar kalo ada satu cowok yang selalu menyayangi Lo?.”
“Iya Kak, dan cowok itu adalah Kak Arfy. Perisai hidup Manda..”
“Makasih ya Da atas kesadaran Lo. Gue senang Da, sebenarnya, dari dulu gue suka sama Lo, tapi gue malu mau nyatain cinta ke elo, gue takut Lo nanti menolak cinta gue, lebih baik gue jadi Kakak Lo aja, biar gue banyak waktu sama elo..”
“Ih Kak Arfy..”
Aku dan Kak Arfy larut dalam setetes cinta. Cinta yang nyata. Cinta yang selama ini aku cari. Kak Arfy merangkulku. Ia menceritakan sebuah kisah yang sering dia ceritakan di waktu aku dan dia masih SMP. Kisah seorang gadis yang mencari pasangannya, dan tentu saja aku menyukai cerita itu.
Terimakasih Kak atas seluruh cintanya.... Kini aku sadar, kaulah cinta yang sebenarnya….
____________________________________________________________________________________________________________________________________END______________________________________________________________________________________________________________________