Sinar matahari
mengusik rasa kantukku secara perlahan. Membuka
kelopak mataku yang terpejam. Pagi ini memang sangat istimewa. Tapi aku
benar-benar lupa hal apa yang membuat
pagi ini semakin istimewa. Apakah aku akan
mendapat penghargaan? Atau apakah aku akan di ajak jalan-jalan ke pulau Bali?
Pastinya aku tidak tau.
Message From Fed:
Pagi
sayang !!! Udah bangun belum ??? J
Aku tersenyum menatapi layar ponselku
yang bertuliskan nama FEDRYAN
Message For Fed:
Pagi juga !!! Gue udah bangun kok. J
Mendadak aku
teringat sesuatu. Ini kan hari pertama aku berangkat kuliah bersama Fed. Dan
aku masih ingat juga. Kemarin adalah hari tunanganku dengan Fed. Tepat di hari
ulang tahunku yaitu tanggal 6 Desember. Ya! Inilah hari istimewa itu. Biasanya
aku berangkat sekolah bersama Kak Arfy.
O iya, aku belum
memperkenalkan diriku. Namaku Amanda Dhaniati atau bisa di panggil Manda. Hidupku
memang sangat bahagia. Hari penantianku sudah selesai. Buktinya kemarin. Aku
dan Fed sudah tunangan. Itu memang harapan besarku. Juga harapan Fed agar kami
berdua bertunangan. Sudah empat tahun aku berpacaran dengan Fed. Aku juga
memiliki seorang kakak cowok. Namanya Kak Arfy. Tapi kata mama, Kak Arfy bukan
keluarga kami. Dia hanya sementara tinggal disini. Kedua orang tuanya yang
menyuruhnya tinggal di rumahku. Tentu saja mama dan papaku mau menerima Kak
Arfy tinggal disini. Ada juga dua
adikku yang imut dan sedikit menyebalkan. Namanya Deva dan Devi. Mereka ini
adik kandungku.
Udah ya
perkenalannya. Aku hampir telat nih. Cepat-cepat aku menuju kamar mandi yang
berada di dalam kamarku. Papa sengaja membangun kamar mandi di masing-masing
kamar supaya nanti tidak berebutan kamar mandi.
Air segar yang
menyirami tubuhku membuat jiwaku bangkit kembali. Semangat ku juga kian
mengobar. Aku memang salah menilai. Dulu, aku benci mandi pakai air dingin. Aku
selalu memakai air panas yang ada di sowerku. Aku juga pernah berkata, “Lebih
baik pake air hangat daripada air dingin.” Tapi
sekarang tidak. Aku lebih suka memakai air dingin karena air dingin banyak
manfaatnya. Seperti yang ku
alami tadi. Badanku menjadi segar dan bangkit kembali.
Cukup lima menit
aku selesai mandi dan langsung memakai baju. Memang kuliah dan sekolah sangat
berbeda. Tapi aku lebih menyukai sekolah. Lain dengan teman-temanku. Banyak
yang berkata kuliah itu lebih enak daripada sekolah (Emang jajan apa??
Hehehee..). Aku memih baju favoritku yang berwarna merah muda dan bawahan rok
yang berwarna merah muda pula. Aku ingin sekali Fed memuji kecantikanku.
Hehehe…
Di ruang tamu,
hanya ada mama dan Kak Arfy. Papa, Deva, dan Devi sudah berangkat dari tadi
pagi. Pelan-pelan aku menduduki kursi di samping meja makan. Aku tak ingin
bajuku serta rokku kotor gara-gara terkena sambal yang di buat Bi Inah.
“Wah, elo cantik
banget hari ini.” Puji Kak Arfy sambil mengacak-ngacak rambutku yang hitam dan
panjang. Tentu saja aku marah. Percuma saja aku sisir rambutku jika Kak Arfy
membuat rambutku menjadi berantakan lagi.
“Ih Kak, rambut gue jadi lecek tauuu…”
Balasku dengan nada marah dan ikut mengacak-ngacak rambut Kak Arfy. Tapi, dia
hanya senyum saja tuh. Dasar Kak Arfy.
Nggak tau apa kalau gue mau berangkat sama Fed. Penampilan dong nomor satu.
“Jadi, elo nanti
mau bareng tunangan Lo itu ?.” Tanya Kak Arfy tanpa melihatku melainkan melihat
piring putih yang berisi nasi goreng.
“Iyaaa, emangnya
kenapa ??? Elo sedih karna gue nggak bareng elo ???.”
“Ya enggak lah.
Ngapain gue sedih. PD banget Lo..”
Lagi-lagi Kak Arfy membuatku sebal. Tapi
tak apa. Kesebalan itu membuatku terus saja ingin tertawa. Aku juga suka
melihat wajah jahil Kak Arfy.
Tit..Tit..
Bunyi bel motor mengagetkanku yang tengah
asyik menyantap sarapan pagi. Aku tau. Itu pasti Fed! Tak peduli dengan sisa
makanan di piringku. Aku langsung ngacir ke kamar untuk mengambil tas dan
langsung menemui Fed. Mama dan Kak
Arfy melongo melihatku.
“Manda duluan ya
maa, Kak Arfyyy…”
“Eh..eh.. nasinyaaa…” Kata Kak Arfy
setengah berteriak
“Elo aja deh yang
makan, hehehee..”
Tanpa menjawab jawaban
dari Kak Arfy, aku langsung keluar rumah. Benar! Fed sudah ada di teras rumahku
dengan wajah yang sangat…sangat KEREN.
Hatiku dag-dig-dug melihat wajah kerennya itu. Walaupun tubuhnya agak
sedikit kurus.
“Yuk berangkat..”
Ajakku semangat
“Lo udah pamitan
dulu sama ortu Lo ?.”
“Udah dong..”
Fed tersenyum manis dan langsung
menghidupkan mesin motornya. Aku
tersipu malu. Ini baru pertama kali aku di gonceng sama Fed.
“Pegangan yang kuat
ya sayaaanggg..” Kata Fed sambil mengambil tanganku serta melingkarkannya di
perutnya. Wajahku tambah semakin malu saja. Fed
hanya mengulas senyum melihat perubahan wajahku yang semakin malu.
***
Sesampai di
sekolah, aku di goda terus sama sahabat-sahabatku. Ya inilah, ya itulah. Benci
deh pokoknya. Ada yang bilang, “Cie..cie..yang tunangan kemarin..” atau
“Ehem..ehem..udah gede..” (Emang gue masih kecil apa?). Ada juga godaan yang
nggak terlalu melebih-lebihkan atau tepatnya ucapan selamat seperti, “Selamat
tunangan ya Manda..!!” atau “Selamat ya , semoga Lo semakin sayang sama Fed.”
Aku tidak berhasrat
menjawab ucapan selamat dari teman-temanku. Lebih baik, aku menemui sahabatku
yang aku lihat dari tadi sedang menatap wajahku yang mereka anggap sangat malu
atau terlihat bahagia. Sahabat yang paling
dekat denganku adalah Tya. Ia juga ingin tunangan sama pacarnya.
“Hai Da, gimana perasaan
Lo sekarang ?.” Kata Tya.
“Bahagiaaa banget…”
“Gue pengen juga
kayak elo, do’ain gue ya supaya gue bisa tunangan sama Amry.”
“Mmm, nggak deh..”
Godaku
“Yeee, pelit ah
mbak Manda ini.. Nanti gue do’ain elo putus sama Fed.”
“Hehehe.. Bercanda kok
Ty, tentu saja gue selalu do’ain elo.”
Semua teman-temanku
tertawa mendengar percakapan antara aku dengan Tya. Ya, ini memang hari
terbaikku. Semoga saja Fed adalah cinta terakhirku. Dulu, aku sudah pacaran
beberapa kali dan ujung-ujungnya putus. Aku memang sangat benci pada kaum
laki-laki. Mereka nggak ada yang setia kepadaku. Dan mudahan saja Fed akan
selalu setia bersamaku. Seperti janjinya yang pernah ia ucapkan saat menembakku
dulu, “Da, gue janji akan menjadi cinta terakhir Lo, dan gue janji akan selalu
setia sama Lo.” Ah, perkataan itu membuat aku seribu kali lebih bahagia. Semoga
saja Tuhan aku juga akan setia sama Fed. Semoga.
***
Jam kuliahku sudah
habis. Saatnya untuk pulang ke rumah masing-masing dan langsung merebahkan
tubuh di atas kasur nan empuk. Tapi tidak denganku.
Fed malah mengajakku makan siang di restoran moonlight. Benar-benar romantis.
Mulutku tak mampu menjawab apapun. Yang jelas Fed langsung menarik tangan
kananku menuju tempat parkiran motornya. Tidak peduli apa jawaban yang akan ku berikan kepadanya. Dan dia tentunya
pasti tau apa jawabanku. Dan tentunya jawaban itu adalah “Iya.”
Aku benar-benar di
buat malu olehnya. Pipiku sudah semakin memerah. Hal
ini membuat efek wajahku tambah semakin manis. Fed...Fed…Lo itu keren,
romantis. Fed menatapku
dengan tatapan manis pula. Tanpa aku sadari, ia menggenggam erat jemari
tanganku. Oh Tuhan, ku ingin hari ini akan hadir lagi suatu hari nanti.
Pelayan wanita
mengantarkan menu yang kami pesan. Ayam panggang, cah kangkung, dan juga sambal
lalapan yang menggugah selera. Ku perhatikan Fed. Sepertinya dia sangat lahap
menyantap menu yang ia pesan. Aku sama sekali tidak percaya ternyata dia jago
makan. Dulunya aku mengira kalau ia antipati
sama makanan.
“Makan dong say, apa gue mau suapin ?.” Tanya Fed setengah menggoda
“Hehehe, boleh
juga.” Jawabku sedikit malu
Fed memang baik banget. Belum ada cowok
sebaik Fed yang pernah ku temui. Adanya Cuma cowok nakal, suka iseng, atau yang
lainnya. Fed menyuapiku tanpa adanya rasa malu. PD banget dia. Beberapa orang yang juga menyantap makanan yang
mereka pesan tersenyum tipis melihat tingkah Fed yang sangat…sangat romantis.
Seorang gadis yang badannya cukup tinggi
kecewa melihat dua insan yang sedang di mabuk asmara. Tak terasa kemarahannya
sudah mencapai ubun-ubun. Gadis itu tak tahan melihat pemandangan di depannya. Sebuah pemandangan yang amat teramat menyakitkan.
“Awas ya Lo Da, gue
bakalan hancurin hidup Lo. Gue sekarang tau kalau elo udah tunangan sama Fed. Lo
senang Da, gue menderita..” Gadis itu mengoceh sendirian sambil meremas-remas
tangannya.
“Hei, pulang yuk!” Ajak gadis lain
“Yuk!” Jawabnya
asal-asalan dan masih disertai amarah. Kedua
gadis itu meninggalkan restaurant moonlight.
“Udah deh, gue
yakin elo bisa dapetin Iyel.” Hibur temannya
“Makasih ya Ra,
bantuin gue ya..”
“Of crouse, my dear..” Jawab temannya
sambil mengacungkan ibu jarinya.
***
Seorang lelaki sedang berjalan santai di
sekitar persawahan yang cukup luas. Dari jauh, ia bisa melihat keindahan sawah
di pagi hari. Para petani dengan
semangat menggarap sawah. Ini demi melangsungkan hidupnya maupun demi bangsa
dan negaranya. Fed, laki-laki itu tersenyum bahagia melihat pemandangan itu.
Di pinggir sawah,
ada sebuah tempat berteduh yang nyaman dan aman dari terik sinar matahari.
Perlahan, Fed berjalan menuju tempat teduh itu. Tak di sangka-sangkanya, ia
bertemu dengan Angel. Pacarnya yang telah lama ia tinggalkan. Muka Fed yang
tadinya bahagia mendadak kaget. Ia takut kalau-kalau Angel masih mencintainya.
“Hai Fed, apa kabar
?.” Sapa Angel diiringi senyuman manis yang membuat Fed mengingat masa lalunya
bersama gadis cantik itu.
“Baik, Lo baru pulang
ya dari Amerika ?.” Kata Fed sembari duduk di samping
Angel
“Iya, tapi sekarang
gue menetap di Negara gue ini, INDONESIA..” Jawab Angel dengan semangat
Tanpa jeda dan
titik koma, Angel menceritakan kehidupannya di Amerika. Mulai dari ini, dari
itu dan semuanya. Fed hanya mengangguk-ngangguk saja mendengar cerita Angel
meskipun dirinya sendiri tidak mengerti apa yang diceritakan Angel.
“Fed, Lo masih
cinta sama gue ? Kita kan belum putus..” Kata Angel tiba-tiba.
Fed ingin menjawab
kalau ia sebenarnya sudah tunangan sama Manda. Tapi ia tidak enak sama Angel.
Jujur saja, ia lebih mencintai Angel daripada Manda. Inilah akibatnya kalau pacaran
diam-diam tanpa sepengetahuan Angel.
“Gue..gue masih
cinta sama elo..”
Angel tersenyum menang. Rayuan dari
Angel membuat hati Fed semakin mendatangkan getaran halus. Ia bingung sekali.
Apakah ia akan memilih Angel? Ataukah apakah ia akan memilih Manda? Entahlah…
“Fed, Lo mau nggak
ngelanjutin hubungan kita? Pleaseee Fed, you’re my
last love..” Bujuk Angel dengan nada memelas. Fed tak sampai hati melihat wajah
Angel yang kelihatan memelas.
“Nanti dah gue pikirin.” Jawabnya
singkat
Senyum Angel kian mengembang. Ia sangat
yakin kalau Fed akan memilih dirinya. Tanpa persetujuan dengan Fed, Angel
mengajak Fed jalan berdua. Mulut Fed membisu. Tapi hatinya juga sedikit
bahagia. Bahagia karna telah menemukan puing-puing hidupnya yang hilang. Oke
Angel, gue akan memilih elo. Gue juga masih sayang sama elo, dan Manda, maafin
gue karna gue telah mempermainkan diri Lo.
***
Satu bulan
kemudian…
Aku dan Fed masih tetap bersama. Fed masih setia
kepadaku, dan aku juga masih setia kepada Fed. Tapi, aku merasakan suatu hal
yang berbeda. Dan ini menyangkut hubungan aku dengan Fed…
***
“Shan, Lo mau gue
ajak jalan-jalan ke Taman Bunga Indah ?.” Tanya
Vino yang sedang asyik memainkan ponsel barunya.
“Mau lah, tumben
elo ngajak gue jalan-jalan, biasanya enggak tuh..”
Vino tersenyum tipis ke arah Shanin.
Lalu ia membelai rambut Shanin yang panjang. Shanin benar-benar salting saat
melihat Vino membelai rambutnya. Suatu hal yang Shanin harapkan sejak dulu.
“Hehehe… Gue juga
mau bilang sesuatu ke elo.. yuk deh, kita pergi..” Ajak
Vino sambil menarik tangan Shanin yang sepertinya agak dingin dan gemetar.
Taman Bunga Indah.
Disana adalah tempat yang nyaman dan romantis. Vino
mentraktir Shanin semangkuk es krim strawberry. Muka Shanin semakin memerah. Ia
tidak tau atau tepatnya sama sekali tidak tau apa tujuan Vino mengajaknya
kemari. Apakah hanya untuk mentraktir saja, atau… ah, sudahlah. Nggak mungkin
Vino akan menembaknya.
“Em Shan, Lo senang nggak hari ini ?.”
Shanin hanya mengangguk pelan.
“Shan..” Kata Vino sambil mendekap
tangan Shanin yang masih dingin dan bergemetar. “Lo harus tau Shan, kalau gue…kalau gue…suka sama elo..”
DEG!!!
Perkataan Vino bak halilintar di siang
bolong. Sekilas, Shanin memberanikan diri untuk menatap wajah manis Vino. Oh
Tuhan, apa gue mimipi? Vino suka gue? Ah, yang bener aja..
“Mmm Shan, Lo mau
nggak jadi pacar gue? Hari ini, besok dan seterusnya ?.”
Sadar Shanin, sadar.. Vino nembak elo.. Ayo bangun Shanin,
teriak kalau bisa..
“Ka, elo serius mau
nembak gue? Apa elo nggak rugi kalau jadi pacar gue?.”
“Dua rius malah, Lo
mau kan jadi pacar gue…Pleasee Shan, kita harus lebih romantis dari Manda dan
Fed..”
Suara Vino yang sangat memelas membuat
hati Shanin semakin happy saja. Diam-diam, Shanin memerhatikan wajah Vino yang
memelas. Lucu juga. Batinnya.
“Gue mau, asalkan
hari ini elo harus ajak gue jalan-jalan sampe sore, gimana ?.”
“Oke bidadari
cantikku…” Jawab Vino sambil mencium pipi Shanin. Shanin kaget apa yang barusan
Vino lakukan kepadanya.
“Idih… Nggak pake nyium-nyium segala
dehhh..” Kata Shanin menghindar dari ciuman Vino.
“Hehehe.. Jalan aja yuk sekarang,
mumpung nggak panas..”
Shanin menurut saja apa yang dikatakan
Vino. Yes..Yes..Sekarang gue resmi jadi
pacarnya Vino.. Lihat aja Da, mana yang lebih romantis… NoShan ato FeDa… Sepertinya Shanin ingin pamer kepada Manda tentang pacar
barunya itu.
Baru saja mereka
berjalan, tiba-tiba, mereka melihat sebuah pemandangan di luar batas pikiran
mereka. Apa? Itu kan Fed bersama gadis lain.
Gadis yang sama sekali tidak mereka kenal. Apa-apaan ini? Apa Fed selingkuh? Tuhan, kalau saja Manda tau, pasti
hatinya sakit. Vino berusaha menenangkan Shanin. Tapi tetap saja Shanin tidak
bisa tenang. Ia sepertinya merasa sakit hati, walaupun dirinya bukan Manda. Tangan
kanan Vino merangkul pundaknya.”Udah deh Shan, Lo jangan sedih, kan Fed bukan
siapa-siapa elo..” Shanin mengerti. Akhirnya, mereka berdua meninggalkan taman
itu dengan perasaan yang sangat aneh. Gembira maupun sedih.
***
“Huaaa…”
Tubuhku dipenuhi
keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhku dari kepala sampai kaki. Maklum,
mungkin aku mendapat mimpi buruk. Gini ni akibatnya kalau tidur nggak baca
do’a. Tapi ada yang aneh juga. Aku sama sekali tidak mengingat isi mimpiku ini.
Ah sudahlah, lebih baik aku mandi saja daripada mengingat isi mimpiku yang
nggak jelas asal-usulnya.
Tit..Tit..
Message from Fed :
Da, maaf, hri ini gw ngg bsa antr Lo, czx ada hlgn sdkt.
Gpp ya J
Huaaa… Mugkin ini
mimpi burukku. Nggak bisa di antar sama Fed. Hihihi… Aku jadi terkekeh sendiri
di dalam keheningan kamarku ini.
Message for Fed :
Gpp
kok J
Pelan-pelan aku
menyimpan ponselku di atas meja belajar. Sehari tanpa tumpangan dari Fed
membuat hari ini semakin sepi dan sunyi. Tiba-tiba, muncul pertanyaan aneh yang
tercipta dalam pikiranku. Apa ya halangan
itu? Biasanya kalau ada halangan, Fed tetap mau kok mengantarku. Ada apa ya?
Apa diaa….. Cepat-cepat aku membuang pertanyaan aneh itu. Semoga saja hal
yang tidak diinginkan tidak akan terjadi.
Di ruang makan, mama melihat raut wajahku
yang sedikit kurang ceria. Ditambah lagi keadaanku yang tidak rapi. Rambutku ku
biarkan tergerai lurus sampai ke bawah dan itu juga tanpa sisiran.
“Wajah kamu kenapa sayang ?.” Tanya mama
sambil menyisir rambutku dengan tangannya.
“Manda nggak
apa-apa kok. Oya, Manda berangkatnya sama Kak Arfy aja ya, soalnya Fed nggak
bisa anterin Manda..” Jawabku dengan ekspresi sedih, juga berat.
“Ya jangan bilang
ke mama dong, bilang sama kakakmu itu..” Kata
mama sambil melirik Arfy yang sedang memakan roti bakar. Aku beralih memandangi
wajah Arfy. Ia menatapku dengan sedikit senyuman yang tersembunyi.
“Kak, Manda boleh kan bareng sama kakak ?.”
“Tentu saja adik kakak yang
cantik..Hehehee..” Jawab Kak Arfy senang.
***
Dunia seakan-akan
terasa gelap. Ada halangan katanya. Tapi ini sama sekali bukan halangan. Yang
ada hanya menghindar. Mataku menangkap Fed yang sedang memarkirkan motornya. Tuhan, apa Fed sudah tidak
mencintaiku lagi ???
“Lo nggak apa-apa
Da ?.” Tanya Kak Arfy
“Gue nggak apa-apa
kok.” Bohongku
“Muka Lo pucat
sekali Da, apa elo sakit ?.” Tanya Kak Arfy penuh
perhatian disertai rasa panik.
“Gue nggak sakit kok Kak.” Jawabku
berusaha untuk tersenyum, menghilangkan rasa pedih.
“Ya udah kalau
gitu, jaga diri Lo baik-baik ya..” Kata Kak Arfy
sambil membelai halus rambutku yang sudah terlihat rapi.
“Iya Kak, gue
duluan yaa..”
“Iyaaa..”
Sambil menunduk,
aku berjalan pelan menuju ruanganku dengan hati hampa dan kosong. Ada salah
satu temanku menyapaku, tapi aku diam saja. Aku hanya ingin menemui Tya dan langsung
menangis dipangkuannya.
“Da, Lo nggak
apa-apa ?.” Tanya Tya. Belum saja aku menjawab, Shanin datang dan langsung
berbicara ceplas-ceplos.
“Da, Fed
benar-benar selingkuh, kemarin gue lihat dia jalan berdua sama cewek, tapi gue
nggak tau siapa cewek itu..” Semua hening mendengar
cerita Shanin. Termasuk aku.
“Shaniiiiin… Traktir gue dong !!!! Elo kan dapat pacar baru.. Ganteng lagi....”
Teriak Stefy dari jauh. Muka Shanin memerah mendengar teriakan Stefy yang
terlalu berlebihan.
“Fy, apa Lo gila ?
Ngapain Lo sebarin kalau gue udah dapet pacar baru ? Apalagi di hadapan
Manda..” Geram Shanin.
“Emangnya kenapa Shan
?.” Tanya Stefy kebingungan
“Manda…” Jawab
Shanin
“Ah sudahlah..” Jedaku. “Kalian jangan pikirkan gue lagi. Oya Shan, siapa cowok
Lo itu ?.”
“Mmmm…”
“Vino.” Jawab Stefy
semangat, biarpun dirinya yang bukan di tembak sama Vino.
“Selamat ya Shan,
semoga Lo sama Vino menjadi pasangan yang serasi. Gue yakin Vino pasti setia
sama elo. Lo jangan sampai terbuang kayak gue ini…” Air mataku sudah tak dapat
ku bendung lagi. Benar, aku menangis di pangkuan Tya. Tya tidak tega melihat
seorang gadis yang menangis lirih di pangkuannya.
“Da, gue yakin Lo
akan mendapatkan cowok yang setia, gue janji akan mencarikan cowok yang lebih
baik dari Fed..”
“Tapi gue masih
cinta sama Fed, Ty..”
“Gue ngerti Da kalo
Lo masih cinta sama Fed, ya mudahan saja cewek yang diceritakan Shanin bukan
pacar Fed, siapa tau cewek itu saudaranya Fed..”
Aku memahami
penjelasan Tya. Masih ada kesempatan untukku. Semoga saja Fed masih mencintaiku
dan langsung melanjutkuan hubungan ini tanpa adanya kendala sedikitpun.
***
Telah lama sendiri dalam langkah sepi
Tak pernah ku kira bahwa akhirnya
Tiada dirimu di sisiku
Meski waktu datang dan berlalu sampai kau tiada bertahan
Semua takkan mampu mengubahku
Hanyalah kau yang ada di relungku
Hanyalah dirimu mampu membuatku jatuh dan mencinta
Kau bukan hanya sekedar indah
Kau tak akan terganti
Tak pernah ku duga bahwa akhirnya
Tergugat janjimu dan janjiku...
Aku menyanyikan lagu itu sambil
menitikkan air mata diiringi petikan gitar cokelat milik Kak Arfy. Tidak
seharusnya aku merasa sedih. Teman-temanku, semuanya sudah mendapat cowok yang
baik dan setia. Tuhan, aku benar-benar iri sama mereka. Bagaimana tidak bahagia
jika mempunyai seorang cowok yang sangat sayang kepada kita? Fed, ku harap kamu masih setia kepadaku.
Disini aku menantimu Fed, menanti seorang kekasih yang lama telah pergi..
Bunyi motor berhenti tepat di
depan pagar rumahku. Titik-titik harapan sudah ada di depan mata. Fed, seorang diri berunjung ke rumahku. Ia tersenyum
melihatku dan aku yakin itu adalah senyuman terakhir yang ia berikan kepadaku.
“Da..?.” Tanya Fed lembut
“Iya..” Jawabku sesak. Air mata
sudah ingin keluar
“Gue mau bilang sesuatu. Tapi
elo janji jangan sedih mendengar apa yang gue katakan.”
Benar kan. Pasti Fed siap
memutuskan hubungan ini. Aku siap Tuhan mendengar perkataan Fed. Tapi
menurutku, aku lebih baik mati saja daripada mendengar perkataan Fed yang
membuat air mata ini tidak bisa berhenti mengalir.
“Da, gue mau putus sama elo.
Sejujurnya, gue udah punya pacar selain elo. Da, boleh nggak gue
ambil kembali cincin pertunangan kita yang pernah gue kasih ke elo dulu ?.”
Air mataku sudah mengalir
deras. Apalah arti mencinta selama empat tahun ini ? Apalah arti kasih sayang
bila harus berpisah ? Hanya kesedihan yang di hasilkan oleh empat tahun
bercinta ini.
“Gue udah tau Fed, gue tau dari Shanin. Kemarin, Shanin ngeliat Lo berdua jalan-jalan sama cewek. Fed, gue sakit
hati. Apa Lo nggak kasian sama gue? Setiap hari gue berdoa agar Tuhan selalu
mempersatukan kita. Tapi apa arti doaku ini Fed? Tega-teganya Lo putusin gue.
Sedangkan teman-teman gue udah punya cowok yang setia. Fed, gue tau kalo
elo nggak cinta lagi sama gue. Baiklah Fed, kalau itu mau Lo. Ini, cincin dusta Lo !!! Ambil Fed, kasih ke cewek
Lo.. Gue benci elo Fed...”
Emosiku sudah berap-api. Fed
memandangiku dengan perasaan bersalah. Tapi mau gimana lagi ? Dan cincin itu,
aku lempar sekeras-kerasnya tanpa mempedulikan apa cincin itu rusak atau tidak.
Fed mengambil cincin malang itu. Setitik demi setitik air matanya mengair
membasahi cincin itu. Fed, teganya Lo
dustakan gadis itu.. Apa Lo nggak punya hati ?
“Da, kalo Lo nggak
keberatan, Lo boleh jadi pacar gue. Tapi biarkan gue pacaran sama cewek lain ya
sayang...” Kata Fed memelas.
“Nggak !!! Gue nggak mau. Sama
saja itu gue ngerusak hubungan orang lain. Gue benci elo Fed..” Bantahku lalu
masuk ke dalam rumah.
“Da tunggu ! Gue masih
cinta sama elo !!!”
Perkataan yang manis, tapi
dilengkapi dusta. Gila apa seorang Fedryan macarin dua cewek. Apa kata orang kalau melihat adegan
ini ? Aku memang benar-benar benci sama Fed juga benar-benar nggak rela apa
yang barusan dia katakan kepadaku. Apa artinya janji manis yang dijanjikan Fed dulu sewaktu
dia menembakku ? Kemana janji itu ?
Aku berlari memasuki kamarku
yang berantakan. Wajahku ku dekapkan di bantal stawberryku. Oh Tuhan, mengapa
ini harus terjadi kepadaku ? Mengapa tidak terjadi kepada orang lain saja ?
Mengapa harus aku ? Dimana kasih sayangmu Tuhan ? Tiba-tiba pintu kamarku
terbuka. Seorang cowok tinggi masuk ke dalam kamarku. Cowok itu melihat
keadaanku yang menyedihkan.
“Lo kenapa Da ?.” Tanyanya
lembut
“Itu, Fed, dia putusin Manda..”
“Kok bisa ?.”
“Ternyata dia nggak cinta lagi
sama Manda. Dia juga udah punya pacar selain Manda.”
Kak Arfy terdiam mendengar jawabanku.
Dibelainnya rambutku dengan kasih sayang seperti belaian mamaku sendiri.
“Itukah hal yang membuat Lo sedih ?.”
“Iya Kak.”
“Udahlah sayang, jangan sedih. Urusan jodoh sudah ada di tangan Tuhan. Tuhan sendiri tau
siapa jodohmu yang sebenarnya. Jadi, lupakanlah Fed walaupun itu bisa
menyakitimu.”
Tangisku semakin
meledak. Ku dekapkan kepalaku di dada Kak Arfy dan Kak Arfy langsung memeluk
tubuhku. Tanpa ku sadari, kaos putih Kak Arfy basah karna air mataku sendiri.
Tapi Kak Arfy tidak peduli. Ia malah semakin memelukku dengan erat.
***
Hari-hari ini sangat berbeda dari hari sebelumnya. Biasanya, aku sering di
ajak jalan-jalan sama Fed. Tapi sekarang tidak. Aku lebih suka mengurungkan
diri di kamarku. Sekarang, aku sendirian. Tak ada lagi cowok yang menyayangiku.
Tak ada!
***
Apalah
maumu kasih kau pilih diriku di dalam hidupmu
Nyatanya
ku lihat ini tak bisa kau coba untuk setia
Sudah
cukuplah sudah ku memberikan waktu
Kau
selalu tak bisa mencoba untuk setia
Yang
selalu ku inginkan yang selaluku nanti
Ku coba untuk mengerti apalah arti mencinta
Dan harus kau sadari bila ingin bersamaku
Jangan coba kau ingkari cobalah umtuk setia
Masihkah aku di inginkan masihkah aku di dambakan
Masih ada waktu untukku bersamamu akankah ku jalani
hidup..
Sekarang, tidak ada
lagi cowok yang menyayangiku lagi! Itulah hidupku. Fed sibuk menyayangi Angel,
pacarnya. Aku baru tau kalau Fed lebih dulu mengenal Angel, dan aku baru tau
kalau Fed lebih dulu menembak Angel. Pantas saja Fed lebih mencintai Angel
dibanding aku. Antara aku dan Angel, Angel-lah yang lebih sempurna. Tapi aku
sama sekali tidak tau apa kesempurnaan itu sehingga Fed lebih mencintai Angel
daripada aku.
***
Pagi hari yang
cerah ini serasa seperti malam gulita. Bulir-bulir air mata masih membasahi
pipiku. Kalimat pahit yang diucapkan Fed kemarin masih melekat di otakku, hanya
kekuatan dan ketegaran yang mampu melenyapkan kalimat pahit itu. Suasana di
ruanganku sangat ramai. Bisa aku lihat dari jauh, semua temanku sedang asyik
bercengkrama dengan kekasihnya. Vino bersama Shanin,
Tya bersama Amry, Stevy bersama Ary, dan aku… Sudahlah. Kesedihanlah yang
menjadi kekasihku saat ini.
“Da, ayo gabung kesini !!” Kata Shanin
“Enggak dah, gue disini aja.” Jawabku
seraya duduk di kursiku. Shanin mengerti perasaanku sekarang ini. Ia juga sudah tau kalau aku putus dengan Fed.
“Manda..Manda…Manda…!!!”
Kata Tya semangat.
“Apa ?.” Jawabku
“Da, gue punya
sepupu, orangnya ganteng, baik, dan pintar, dia sekarang ngelanjutin sekolahnya
di ITN. Lo mau nggak gue kenalin ke dia ??? Gue yakin sepupu gue itu setia sama
Lo. Orangnya taat agama lagi.. Gimana ???.”
“Mmmm…”
“Ayo dah Da,
seandainya dia jadi pacar Lo, gue jamin dia nggak bakalan mau putus sama elo..”
Kata Tya memantapkanku sambil mem-V-kan jarinya. Aku merasa sedikit bahagia.
Akhirnya, ada juga harapan itu. Siapapun cowok itu, aku tetap mau, asalkan
baik, pintar, dan setia. Masalah ganteng, jelek, kaya, miskin atau apa sajalah,
itu nggak akan jadi bebanku. Artinya, biarpun orangnya jelek, tapi baik dan
setia, aku mau menerima orang itu. Tapi malah sebaliknya, jika orang itu
ganteng, tapi playboy, tentu saja aku nggak mau menerima orang itu.
“Oke Ty, tapi Lo
janji, sepupu Lo itu harus SETIA.”
“Janji Da, kalau
nggak setia, gorok aja leher gue, hehehe…”
“Ih… ya enggak
lah…” Kataku merinding. Aku memang paling takut kalau mendengar kalimat
pembunuhan seperti di gorok itu, atau di potong.
“Besok ya gue
kenalin ke sepupu gue itu..”
“Oke Tyaku, semoga
Lo sama Amry cepat tunangan. Hehehe…”
“Amiiiiin..”
***
Bunga-bunga cantik
menghiasi hatiku ini. Nyanyian lagu yang merdu mengalun di telingaku. Harapan
indah telah ada di depan mataku saat ini. Sejak peristiwa kemarin, aku
merasakan sesuatu yang sangat bahagia. Hari ini, aku siap bertemu dengan sepupu
Tya yang ia ceritakan kemarin. Aku berusaha untuk mempercantik penampilanku
agar sepupu Tya dag-dig-dug melihat diriku.
Message from Tya :
Da,
Lo udh siap nggak ????
Message for Tya :
Ya
dong….
Message from Tya :
Jngn
lupa pke ping smw yaaa.. czx sepupu gue ska bngt sm cewek yg pke bju wrn pink.
Ktx sih klo dia ngeliat cewek yg pke bju wrna pink, cwek itu keliatanx
imuuuutttt banget..
Message for Tya :
Ok
Ty..
Segala keperluan sudah aku siapkan. Dari
ujung rambut sampai ujung kaki. Manis! Semuanya serba pink. Sesuai dengan pesan
Tya. Jepit rambutku yang bergambar pita berwarna pink. Bajuku juga berwarna
pink. Rokku juga berwarna pink. Ada satu yang aku lupakan. Aku harus
mempersiapkan senyuman manisku untuk calon pacarku. Hehehe…
Dari tangga bawah, mama memperhatikanku
dengan serius. Wah, pasti ada sesuatu yang harus mama bicarakan. Dan benar juga, mama langsung berbicara kepadaku dengan
gaya yang penasaran.
“Kok kamu serba ping sih?.”
“Manda mau ketemuan
sama calon pacar Manda, makanya Manda harus keliatan manis. Manda cantik kan
ma?.” Kataku PD.
“Mama nggak tau,
Tanya aja sama Arfy..”
“Ih mama…” Mukaku
jadi memerah.
“Lo cantik kok Da,
cantikk..” Jawab Kak Arfy tiba-tiba. Aku tidak tau kapan dia datang. Tiba-tiba
saja ia nyelonong masuk dan langsung memujiku.
“Nah, berarti kamu cantik sayaangg..” Kata Mama
“Iya deh ma.”
Kataku sambil malu-malu.
“Eh Da, Lo mau gue
anter?.” Tanya Kak Arfy
“Nggak deh Kak, gue sama Tya.”
“Ooo, ya udah deh.
Emangnya Lo mau ketemuan sama siapa?.”
Belum sempat aku menjawab, Tya langsung
datang. Otomatis aku langsung berlari menuju Tya tanpa menjawab pertanyaan Kak
Arfy.
“Manda pergi dulu
yaaa, dah Mama.. Kak Arfy..”
Mama dan Arfy
mengangguk sambil melambaikan tangan. Aku pergi menuju Tya sambil tersenyum
lebar. Tya memandangku dengan perasaan gembira pula. Jadilah hari ini, aku akan
menghadapi seseorang yang aku yakini akan menjadi cinta terakhirku.
***
Dia tampan, sangat tampan. Aku sampai
grogi melihatnya. Meskipun aku perhatikan dia sering menunduk. Aku juga dapat menyimpulkan kalau dia juga grogi
melihatku, malahan grogian dia daripada aku. Tuhan, semoga dia akan setia
kepadaku.
“Raf, ini Manda,
inilah orang yang gue kenalin ke elo, Lo mau nggak?.” Tanya Tya
Cowok itu
mengangkat kepalanya yang mungkin terasa berat jika di angkat. Aku melihatnya
dengan tatapan mata yang sedikit malu, juga masih grogi. Mata dua insan itu
memandang lurus melihat anak panah yang tepat. Aku dan Raffi. Dua insan yang
sedang dihinggapi rasa cinta yang luar biasa. Raffi menjabat tanganku yang kaku
dan dingin. Ia menyebutkan namanya dengan suara yang lirih. Hatiku
merinding mendengar suaranya. Setelah itu, kami diam tanpa bersuara.
“Eh, kalian kok diam? Bukannya saling mesra-mesraan
gitu?.” Tanya Tya kebingungan.
“Mmm, Ty, cantik banget teman Lo ini,
gue..gue nggak tau harus bilang apa, apa gue cocok untuk dia?.” Bisik Raffi ke
telinga Tya.
“Raf, Lo cocok kok
sama Manda. Tuh lihat, si Manda bahagia kan?.”
Raffy menatapku sambil tersenyum manis.
Baru pertama kali ini aku melihat senyuman manis seorang cowok. Senyuman Fed mah kalah sama senyuman Raffi.
“Elo… Lo mau nggak
ja..jadi sahabat gue?.” Tanya Raffi malu
What? Sahabat? Apa aku salah dengar?
Bukannya pacar yang harus di bilang Raffi? Tya mengetahui hal itu dan langsung
memberikan penjelasan kepadaku.
“Da, Raffi ini anti
pacaran. Jadi gue harap, Lo jadi sahabatnya Raffi saja, tapi sahabat yang istimewa.
Gimana? Gue yakin Raffi akan selalu menjaga Lo dari cowok-cowok nakal..”
“Mmm, oke deh. Tapi
anterin gue ya kalo gue berangkat kuliah..” Kataku manja tepat di hadapan Raffi.
“Iya deh, mulai
besok ya gue anterin Lo kuliah..”
“Oke Raf, I Love You..” Kataku sambil
memeluk erat tubuh Raffi.
“Eh, jangan erat-erat dong, gue belum
mandi, hehehe..” Canda Raffi. Ya,
aku telah menemukan seseorang yang aku cari selama ini. Aku yakin Raffi akan
selalu ada untukku. Dari sifatnya yang aku perhatikan, dia adalah cowok yang
baik dan setia. Semoga saja aku dan dia akan menjadi pasangan yang serasi.
****
Tiada tangis di dunia ini, tiada kesedihan di hidup ini,
itu karena kehadiranmu yang selalu menghiasi hari-hariku. Aku cinta kamu Raf,
aku juga sayang kamu. Selamanya dirimu akan tetap di hatiku.
***
Sudah hampir dua bulan aku
bersama Raffi. Tidak ada tanda-tanda dusta dari dirinya. Hanya
pancaran cinta dan kasih sayang yang menjelma dari dalam diri Raffi. Aku sangat menyayanginya.
Dia juga sangat menyayangiku. Dia selalu ada untukku di saat aku rapuh atau
bersedih. Ia juga menjadi pangeran dalam hidupku.
***
Kau begitu sempurna.. dimata ku kau begitu indah
Kau membuat diri ku akan slalu
memujamu
Di setiap langkahku ku kan slalu memikirkan dirimu
Tak bisa ku bayang kan hidup ku
tanpa cintamu
Jangan lah kau tinggalkan diriku
Tak kan mampu menghadapi semua
Hanya bersama mu ku akan bisa
Kau adalah darahku kau adalah jantung ku
Kau adalah hidup ku lengkapi diriku
Oh sayangku kau begitu
Sempurnaa...
Cowok itu menggerakkan tangan kanannya di atas selembar kertas putih. Ia
tersenyum menatap selembar kertas yang di tulisnya. Malam semakin gelap.
Titik-titik cahaya muncul menerangi gelapnya jagat raya. Rembulan mengintipnya
dari dalam kamar yang ditempati seorang gadis cantik yang sedang tertidur
pulas. Benar. Cowok itu sudah lama jatuh cinta kepada gadis itu. Tapi ia tidak
berani mengungkapkan rasa cintanya itu. Ia hanya bisa menulis dan mengungkapkannya pada selembar
kertas putih itu.
Tangan kanannya berhenti menulis. Ia bangkit dan langsung mencium kening
seorang gadis yang dicintainya itu. “Mimipi indah ya sayang, ingat, aku selalu
ada untukmu.”
***
Aku terbangun dari mimpiku. Tentu saja di dalam mimpiku ada Raffi. Tapi, ada satu cowok misterius hadir di dalam
mimpiku. Ceritanya, cowok itu iri sama Raffi karena Raffi sudah menembakku
duluan. Padahal, cowok misterius itu sangat mencintaiku. Aku bingung sekaligus
penasaran akan mimpiku itu. Aku terbangun dengan perasaan penasaran pula. Siapa
cowok misterius itu? Mengapa dia mencintaku?
Aku bangkit dari tempat tidurku. Mataku menangkap selembar kertas putih
bertuliskan lirik lagu yang aku kenal. Judulnya ‘SEMPURNA’. Tulisannya rapi dan
bagus. Siapa juga yang menulis lirik lagu ini? Apakah mama yang menulisnya?
Tidak mungkin. Mama kan cewek, tidak mungkin dia yang menulis lirik lagu ini.
Papa mungkin? Tidak juga. Tulisan papa tidak sebagus ini. Apa Deva dan Devi? Ku
rasa tidak juga. Mereka berdua tidak mengenali lagu ini. Apa jangan-jangan Kak
Arfy? Hah? Nggak mungkin Kak Arfy. Tapi ini serius. Lagu ‘SEMPURNA’ itu adalah
lagu favorit Kak Arfy. Apa ini arti dari mimpiku ini? Di dalam mimpi, aku bertemu cowok
misterius. Dan nyatanya, aku menemukan lirik lagu misteri ini. Benar-benar
misteri yang harus aku teliti dengan cermat.
Oh ya, aku lupa. Hari ini, Raffi mengajakku jalan-jalan ke Taman Safari
menggunakan mobil Jazz abu-abunya yang keren. Tentu saja sejak kemarin aku
sudah mempersiapkan segalanya agar Raffi tetap grogi melihat penampilanku
seperti saat aku dan dia bertemu pertama kali.
Aku, mama, papa, Deva, Devi, dan Kak Arfy berkumpul di meja makan. Sambil sarapan pagi, aku bertanya kepada mereka
semua untuk menjawab dengan jujur tentang liri lagu itu.
“Kali ini Manda pengen kejujuran dari mama, papa, Deva, Devi, dan Kak Arfy. Siapa yang menulis lirik lagu ini di kamar Manda?.”
Semua mata memandang ke arahku. Tapi sepertinya, mereka tidak ada yang
mengaku. Aku berfikir sejenal. Pasti di antara mereka berlima yang menulis
lirik lagu itu. Nggak masuk akal kan kalau penghuni lain masuk ke dalam kamarku
secara diam-diam. Lagi pula, kemarin malam aku sama sekali tidak menemukan
lirik lagu itu. Esok paginya baru lirik lagu itu ada di kamarku. Jadi, ada
seseorang yang masuk ke kamarku saat aku tertidur lelap.
Benarkan nggak ada yang jujur. Aku benar-benar kecewa. Pagi hari yang indah
ini hancur sedikit gara-gara tidak ada yang mau mengaku tentang lirik lagu itu.
Baiklah. Aku yakin suatu hari nanti aku akan menemukan orang yang menulis lirik
lagu itu.
“Ma, pa, Manda pergi dulu ya. Soalnya Raffi udah nunggu tu di luar.”
“Iya sayang..” Jawab Mama tersenyum
“Kak, jangan lupa bawa oleh-olehnya yaa..” Kata Deva
“Ihh, enggak ah..”
Semua tertawa riang kecuali Kak Arfy. Dari tadi aku perhatikan, dia diam
saja sambil menunduk. Tumben-tumbennya Kak Arfy jadi pendiam. Padahal, dia yang
paling cerewet diantara kami berenam. Aku yakin pasti Kak Arfy punya suatu
masalah yang di pendamnya. Aku bergegas keluar menemui Raffi yang dari tadi
sedang menunggu.
“Hai Raf, maaf ya
nunggu lama.”
“Ooo, nggak apa-apa kok Da, ayo deh kita berangkat.”
“Ayo!!!” Jawabku semangat
Aku dan Raffi menaiki mobil Jazz yang keren itu. Raffi sangat pandai menyetir mobil. Sebelum mobilnya berjalan, ia berkata
lembut, “Da, gue sayang
sama elo, gue pengen selalu bersama Lo.” Aku tersenyum mendengar perkataannya.
“Gue juga sayang sama elo.” Balasku sambil mencubit pipinya. Raffi meringis karna ulahku yang memang aslinya menyebalkan.
***
Denting piano mengalun di ruangan itu. Dua insan yang sedang di selimuti
cinta bernyanyi merdu mengalahkan seribu penyanyi terkemukaka di seluruh dunia.
For all those time you stood by me
For all the truth that you made me
see
For all the joy you brought to my
life
For all the wrong that you made
right
For every dream you made come true
For all the love I found in you
I’II be forever thankful baby
You’re the one who held me up
Never let me fall
You’re the one who saw me through
Through it all
You were my strength when I was weak
You were my voice when I couldn’t
speak
You were my eyes when I couldn’t see
You saw the best there was in me
Lifted me up when I couldn’t reach
You gave me faith ‘cause you belived
I’m everything I am
Because you loved me
“Raf, ternyata elo bisa juga ya main
piano..” Kataku setelah alunan piano berhenti berbunyi.
“Gue emang bisa Da..”
Tempat itu sangat indah bak surga para bidadari. Raffi merangkulku dan
mengajakku mengelilingi tempat asing itu yang ku anggap surga. Aku sangat
terpesona dan takjub memandangi keindahan di tempat itu. Secara tiba-tiba,
rangkulannya semakin melonggar. Tubuh Raffi yang dekat denganku sekarang semakin
menjauh. Aku mengira ia bermain-main. Tapi nyatanya
tidak.
“Raf..” Teriakku. Raffi tetap saja menjauh dariku. Kaki-kakiku berlari
menuju tempat Raffi berada. Semakin aku dekat dengannya, maka kaki-kakiku
terasa semakin berat.
“Raf..” Ulangku untuk yang kedua kalinya.
“Da, gue pengen tanya sama elo,
boleh kan?.” Tanyanya
“Boleh..”
“Kalau seandainya gue nggak ada gimana?.”
“Maksudnya?.”
“Ya, kalau seandainya gue nggak tinggal lagi sama Lo lagi gimana?.”
“Gue nggak mau lah. Emangnya kenapa Raf? Lo mau pergi kemana?.”
“Gue mau pergi ke tempat yang jauh, sangat jauh yang nggak bisa Lo
temukan.”
Tiba-tiba Raffi menghilang. Aku kaget setengah
mati. Cowok pujaan hatiku telah menghilang entah kemana. Titik-titik air mata
berjatuhan kembali saat dia pergi. Kesedihan, kembali hadir di hidupku. Dari
jauh, aku melihat seorang cowok misterius yang dulu pernah aku temui.
“Da..?.” Tanya cowok misterius itu.
“Iya..” Jawabku parau
“Raffi berpesan ke
gue agar gue selalu menjaga Lo.”
Hah? Menjaga? Memangnya Raffi kemana? Dan siapa cowok misterius itu? Aku sama sekali tidak mengenali
cowok itu. Wajahnya bercahaya. Suaranya sangat lembut. Perawakan tubuhnya
tinggi.
“Elo siapa?.” Tanyaku
“Gue..”
***
“Da bangun Da..”
Aku terbangun dibasahi keringatku sendiri. Mimpi aneh lagi, gumamku. Kak
Arfy sudah berada di kamarku. Aku sadar. Dia yang membangunkanku dari mimpi
anehku. Sejurus kemudian, terbayang-bayang lagi tentang mimpiku yaitu bertemu
cowok misterius. Aku benar-benar sangat kecewa dan marah terhadap Kak Arfy.
Tega-teganya dia membangunkanku sebelum aku mengetahui nama cowok misterius
itu.
“Kenapa elo bangunin gue? Hah? Nggak sopan banget sih..” Teriakku bersama
amarah yang menjadi-jadi.
“Maafin gue Da, tapi ini ada telpon dari Vino.” Jawab Kak Arfy pelan
diliputi rasa bersalah karena telah membangunkanku dengan cara tidak sopan. Kak
Arfy memberiku HP yang ia pegang. Amarahku berkurang. Segera aku merebut HP
dari tangannya.
“Ada apa No?.”
“Raffi, Da..”
“Ada apa dengan Raffi?.”
Perasaanku mulai tidak enak. Apa ini ada hubungannya dengan mimpi anehku?
Apakah Raffi akan pergi meninggalkanku? Oh Tuhan, ini tidak boleh terjadi.
Raffi harus bersamaku. Sampai kapanpun.
“Raffi..Raffi meninggal Da, tadi pagi dia ditabrak truk..”
Tanganku bergetar dan kaku. HP yang aku pegang terjatuh ke lantai putih
yang begitu keras. Kak Arfy mengetahui hal itu langsung menenangkan diriku yang
kelihatan shock.
“Oh tidak,
Raffiiii…” Teriakku bersamaan tangisanku yang sangat keras.
“Sabar Da, sabar, ayo kita pergi ke rumah sakit sekarang..”
Tanpa basa-basi lagi, aku dan Kak Arfy langsung menancap gas menuju rumah
sakit Irian, tempat Raffi dirawat.
Apa salahku Tuhan sehingga Raffi
sampai begini?
Apa Kau tidak
setuju jika aku dan dia saling bercinta?
Biarlah kemalangan ini menimpaku
Biarlah nasib buruk ini bermain-main di hidupku
Dan biarkanlah semuanya hadir di dalam mimpiku..
***
“Raf !!!!” Teriakku histeris
menatapi seorang cowok yang terbaring kaku di ranjang rumah sakit.
“Sudahlah Da, jangan sedih..” Hibur
Shanin
Aku tidak tau harus berbuat apa. Aku
bukanlah Tuhan yang bisa menghidupkan Raffi lagi. Teman-temanku berkumpul di
samping ranjang tempat Raffi terbaring. Sambil berdo’a, aku ingin mengucapkan
kalimat terakhirku yang belum aku pernah ucapkan sebelumnya kepada Raffi.
“Raf, gue pengen
elo selalu ada untuk gue. Gue nggak ingin Lo pergi begitu saja. kasihanilah gue
ini Raf.. seorang gadis yang tidak bisa menemukan pasangan yang setia.. Raf.. Kenapa
Lo pergi? Kenapa? Raf.. Gue cinta sama elo.. dan selalu cinta sama elo,
meskipun elo nggak pernah lagi mendengar suara gue.. Sekali lagi, gue cinta
sama elo.. CINTA..”
Itulah kalimat
terakhir yang bisa aku lontarkan ke Raffi bersama linangan air mata yang sangat
deras. Semoga Raffi akan bahagia di kehidupan barunya yang sama sekali belum
aku ketahui. Ya. Aku sempat melihat senyumannya saat ia tertidur panjang.
Apakah senyuman itu menandakan bahwa Raffi sangat cinta kepadaku? Entahlah…
***
Sudah hampir tiga
jam aku berada di pemakaman Raffi. Aku seorang diri disana. Meratapi nasib
buruk yang tak kunjung reda. Langit terasa mendung. Aku yakin pasti akan hujan.
Dengan sangat terpaksa aku pulang ke rumah. Di dalam perjalanan pulang,
kepalaku sangat sakit. Aku berusaha untuk kuat agar aku tidak pingsan di tengah
jalan. Tenang Da, bentar lagi sampai
juga.. Akhirnya, aku sampai juga di rumah. Mama sangat khawatir dengan
keadaanku.
“Kamu kenapa
sayang? Kok mukamu pucat?.”
“Manda Cuma pusing
dikit.”
Aku berjalan pelan
menuju kamarku. Tepat di lantai dua, aku melihat
Kak Arfy yang sedang tertawa menonton acara TV favoritnya. Ah, alangkah bahagianya dia, sedangkan aku, aku tak pernah bahagia.
Apalagi hanya tertawa. Tanpa menyapa Kak Arfy terlebih dahulu, aku langsung
memasuki kamarku. Aku masih teringat lirik lagu misterius itu. “Pasti Kak Arfy
yang menulis ini..” Kataku dengan penuh keyakinan.
“Da..”
Pintu kamarku terbuka. Aku melihat Kak
Arfy tersenyum tipis ke arahku. Sekilas, aku melihat senyuman itu. Entah
mengapa aku ingin saja terus melihat senyuman itu. Tiba-tiba muncul pikiran di
benakku, Kok aku baru sadar ya kalau
senyuman Kak Arfy itu manis sekali???.
“Da, maafin gue
ya..” Kata Kak Arfy
Aku tersadar. Kak
Arfy sudah berada di sampingku dan merangkulku. Masih dengan senyuman yang ia
paparkan kepadaku.
“Lo nggak punya
salah apa-apa ke gue..” Jawabku
“Tadi pagi kan gue
kena marah sama elo gara-gara gue ngebangunin Lo dengan cara tidak sopan..”
“Ooo, iya deh, gue
maafin..”
Aku terdiam dengan
pikiranku sendiri. Kak Arfy juga begitu. Beberapa menit kemudian, Kak Arfy baru
membuka mulutnya.
“Apa sih mimpi Lo
itu sampai-sampai Lo marah sama gue?.”
Mimpi? Darimana dia
tau kalau aku bermimpi? Apa jangan-jangan cowok misterius itu adalah Kak Arfy?
Kepalaku bergerak ke samping kanan menatap wajah Kak Arfy.
“Mmm, gue mau
nyeritain mimipi gue itu, tapi asalkan Lo harus ngaku kalo elo yang nulis lirik
lagu ini di kamar gue..”
PLAKK..!!!
Aku melempar selembar
kertas yang tak lain berisi lirik lagu yang sudah aku remas-remas. Kak Arfy
memandangiku dengan gugup. Dipungutnya kertas malang itu.
“Da, gue nggak
pernah nulis lirik lagu ini, sumpah Da..” Jawab
Kak Arfy sambil mem-V-kan jari tangannya yang sedikit bergemetar. Aslinya, aku
sudah yakin seratus persen kalau Kak Arfy yang menulis lirik lagu ini. Tapi dia nggak mau mengaku.
“Ya udah deh kalo
gitu. Kapan-kapan ajalah gue nyeritain mimipi
gue itu, gimana?.”
“Mm, iya deh. Gue
balik dulu yaa..”
Kak Arfy
meninggalkan kamarku dengan sebuah perasaan yang tidak aku ketahui. Aku melihat
kepergiannya dari dalam kamarku. Sepertinya Kak Arfy mempunyai sebuah masalah
yang benar-benar besar sehingga enggan memberitahu masalahnya kepadaku. “Aw..”
Kepalaku terasa sakit lagi. Tanpa membuang waktu lagi, aku langsung merebahkan
kepalaku di atas bantal nan empuk, menuju alam mimpiku yang aneh. Sangat aneh.
***
Aku terbangun dari
alam mimpiku yang aneh. Sedikit demi sedikit air mataku kembali mengalir. Ku
lihat jam sudah menunjukkan pukul 05.55 pagi. Badanku yang terasa berat ku
angkat secara perlahan. Hari ini aku akan hidup sendiri. Tanpa adanya seorang
cowok yang menyayangiku. Lirik lagu itu juga masih menggentayangi pikiranku.
Cepat-cepat ku membuang pikiran aneh-aneh itu. Segera aku bergegas mandi. Jam
08.00 aku akan berangkat kuliah.
Tepat jam delapan
kurang, aku siap berangkat kuliah. Yang mengantarku sekarang adalah Kak Arfy.
Ya. Semuanya kembali ke masa lalu yang kurang membahagiakan. Kak Arfy tidak banyak
bicara kepadaku sejak kejadian kemarin. Mungkin, ia masih mememdamkan masalah
besarnya yang sama sekali tidak aku ketahui.
“Hati-hati ya Da..”
Kata Kak Arfy sesampai di tempat kuliahku. Lagi-lagi ia memberiku sebuah
senyuman yang begitu aneh dalam pikiranku.
“Iya Kak..” Jawabku
pelan dan ia langsung saja pergi.
Bayangan Kak Arfy
semakin menjadi-jadi di dalam pikiranku. Tapi cepat-cepat aku menepis bayang
itu, dan ku gantikan dengan membaca sebuah buku ilmu pengetahuan yang berkaitan
dengan mata kuliahku sekarang ini.
“Rajinnya Manda
ini..” Goda Tya tiba-tiba.
“Ya dong..” Jawabku
sambil tersenyum.
“Em Da, katanya,
Shanin dan Vino mau tunangan siang ini. Gue sama elo di undang. Lo mau ikut
nggak? Maaf sebelumnya ya Da..”
“Ikutlah, gue kan
sahabatnya Shanin..”
“Ya udah deh, lanjutin dah bacanya..”
Sejujurnya, aku
panas mendengar kalimat yang di ucapkan Tya. Dan sebenarnya aku tidak ingin
hadir di acara pesta pertunangan Shanin dan Vino. Tapi aku tidak enak dengan
Shanin. Shanin adalah sahabatku. Dulu, ia juga hadir di acara pertunangan aku
dengan Fed. Suka tidak suka, malas tidak malas, yang penting aku harus hadir di
acara itu. Kalau tidak, aku pasti di anggap sombong sama Shanin.
“Wah, gue harus
beli kado sekarang juga nih untuk Shanin..” Kataku kaget, dan di dengar oleh
Tya.
“Tenang Da, kita
nanti pulangnya nggak siang-siang kok. Pas pulangnya aja Lo beli kado,
gimana?.” Saran Tya. Aku mengangguk.
Masih ada waktu untuk membeli kado untuk Shanin.
***
Akhirnya pulang
juga. Aku berlarian ke luar menerobos mahasiswa lain yang sedang berjalan. Ada
satu diantara mereka yang memarahiku. Di luar gerbang,
aku melihat Kak Arfy yang sedang membaca buku. Ia terlihat berbeda. Ia memakai
jaket hitam dan kacamata hitam, sehingga banyak orang yang tidak mengenalinya.
Termasuk aku. Tadi ku kira orang itu adalah penjahat, tau-taunya orang itu
adalah Kak Arfy. Kenapa
juga dia pake gitu-gitu segala..
“Kak Arfy, hai..”
Sapaku
“Hai juga..”
Jawabnya
“Kok elo pake
kacamata hitam segala sih? Apa Lo sakit mata ya?.”
Kak Arfy tersenyum dan mendekatiku. “Dari dulu emang gue selalu pake ini. Lo aja yang nggak
pernah merhatiin gue. Ya udah deh, kita pulang sekarang. Gue lelah nih abis
praktikum..” Kata Kak Arfy dengan suara lemah. Memang benar. Ia terlihat sangat
lelah dan letih.
Yah, Kak Arfy lelah, pasti dia nggak mau nganter Manda,
gimana dong ini?
“Ada apa Da?.”
“Mmm, nggak ada
deh.”
“Bohong pasti.
Emangnya ada apa sih?.”
Bilang nggak ya?
“Mmm, sebenarnya
gue sekarang ini mau beli kado buat Shanin karna nanti siang dia kan mau
tunangan. Tapi Lo lelah, ya.. gue ngalah
aja, Lo pulang sendiri aja deh, biar gue beli kado sendiri..”
“Oh ya, gue juga
lupa. Shanin kan mau tunangan sama Vino. Hebat banget tu Vino, bisa dapetin
cewek cantik kayak Shanin..”
“Emang Lo kenal
sama Vino?.”
“Ya kenallah, orang
dia sahabat gue waktu SMA sekaligus saingan gue, hehehe.. Ayo dah kalo begitu,
kita cari kado buat Shanin sekarang..”
“Hah? Lo kan lelah,
Lo pulang aja sana, gue bisa pulang sendiri kok..” Paksaku.
Aku tidak ingin membuat repot Kak Arfy. Kasian dia..
“Nggak bisa Da, gue
harus nganter elo..” Bantah Kak Arfy mengalahkan rasa lelahnya.
“Kenapa Kak? Lo kan
lelah?.”
“Ingat Da, gue
selalu ada untuk Lo, dimanapun Lo berada, gue tetap bersama Lo. Gue nggak ingin
Lo terjadi apa-apa..” Kata Kak Arfy.
Hatiku akhirnya
luluh mendengar jawaban dari Kak Arfy yang sepertinya meyayat dalam hati. Semua
itu benar. Kak Arfy selalu ada untukku. Tapi aku tidak pernah sadar akan
kehadirannya di hidupku ini.
“Ya udah deh Kak,
Manda nurut aja, tapi kalo Kak Arfy lelah, pulang aja. Manda nggak ingin
ngerepotin Kak Arfy..”
Ia tersenyum dan
membuka kacamatanya. Wajahnya terlihat lain saat ia membuka kacamata itu yang
menempel di kedua matanya. Perasaan asing
lagi Da, buang-buang.. Aku menaiki motor Kak Arfy menuju sebuah toko yang
jauh. Ingat Da, gue selalu ada untuk Lo,
dimanapun Lo berada, gue tetap bersama
Lo…
***
Hal pertama yan aku ucapka
kepada Kak Arfy yaitu ungkapan ‘terimakasih’ karena dia sudah mengantarku
membeli kado untuk Shanin dalam kondisi yang sangat lelah dan letih. Ku lihat, ia
langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur tanpa menggati pakaiannya terlebih
dulu. Kak Arfy sangat letih, aku harus melalukan sesuatu.. Kak Arfy sangat menyukai martabak asin. Ide telah ditemukan. Aku
langsung menyambar ke dapur untuk membuat martabak asin kesukaan Kak Arfy.
Bau khas dari martabak asin
memenuhi seluruh ruangan di rumahku ini. Dalam sekejap, mata Kak Afry terbuka.
Hidungnya sudah dapat menyimpulkan kalau bau enak ini adalah makanan favoritnya
yaitu martabak asin.
“Wah wah, Manda lagi buat martabak nih, bagi-bagi dong..”
Aku tersenyum kecut melihat
wajah Kak Arfy
yang terlihat kelaparan.
“Nggak boleh.” Candaku berusaha
untuk bisa mengecewakan Kak Arfy.
“Hem, Manda pelit deh..” Kata
Kak Arfy
memanyunkan bibirnya. Sepertinya dia benar-benar kecewa.
“Hehehe, ya bolelah Kak..” Aku
menyerah dalam misiku untuk mengecewakan Kak Afry.
Tanpa aku sadari, tangan kanan
Kak Arfy langsug menyerbu maratabak asin yang ada di atas piring. Weh, enak aja tu anak.. Mukaku berubah
menjadi cemberut. Kak Arfy membawa pergi martabakku menuju kamarnya.
“Thanks ya Manda ku, hehehe..”
“Heh, dasar Lo ini! Nyuri
martabak orang aja..”
Aku berlari mengejar Kak Arfy.
Tapi ini gagal. Pintu kamar Kak Arfy di kunci rapat. Tentu saja aku tidak dapat
masuk ke dalam. Seandainya aku punya kunci kamar Kak Arfy...
“Apaan sih ribut-ribut ini?.”
Tanya Mama
“Nggak ada kok Ma..”
“Oh, katanya kamu mau pergi ke
acara tunangan Shanin?.”
“Oh ya, Manda siap-siap
dulu..”
Secepat kilat aku berlari
menuju kamarku. Benar. Aku hampir lupa dengan acara tunangan Shanin, sementara
jam sudah menunjukkan pukul satu siang.
Message from Tya:
Cptn ya Da, gue mw
brangkt nh..”
Message for Tya:
Oke Ty, gue mw
siap-siap..
Message from Tya:
Lo brngkt ma cpa?
Message for Tya:
Hmm, gue bsa brngkt sndiri kok..
Yup! Satu masalah lagi. Aku
bingung mau berangkat sama siapa. Papa pergi entah kemana. Mama lelah karena
barusan pulang kerja. Deva pasti nggak mau. Tuh anak memang pelit. Sama
pacarnya baru nggak pelit.
“Hai Da..”
Sial. Aku kaget setengah mati.
Tiba-tiba saja Kak Arfy menampakkan diri di dalam kamarku, tanpa permisi dulu.
Mau apa dia kesini?
“Da, gue ikut ya ke
acara tunanangan Shanin dengan Vino, gue kan sahabatnya Vino..”
“Lo lelah kan?.”
“Lelahnya udah hilang gara-gara
abis makan martabak asin buatan putri cantik ini, hehehe..” Jawab Kak Arfy
sambil mencubit pipiku.
“Idih, sakit tauu, ya udah deh
Kak, nanti Kak Arfy yang gonceng Manda yaa..”
Kak Arfy mengangguk
dan pergi begitu saja. Beberapa menit kemudian, ia datang menemuiku. Lantas
aku kaget bukan main melihat wajahnya yang selama ini tak pernah ku perhatikan.
Kok aku baru sadar ya kalo Kak Arfy itu ganteng banget.. Kemana aku selama
ini???
“Woi Da, Lo udah
siap nggak? Ngapain Lo ngeliat gue kayak gitu? Emangnya ada yang berbeda dari
gue?.” Kata Kak Arfy mengagetkanku.
“Oh, nggak ada kok.
Yuk deh kita pergi..” Jawabku.
“Kadonya udah Lo
bawa?.”
“Udah.”
Ia tersenyum melihat mukaku yang agak
sedikit malu. Di tariknya
tanganku menuju ruang tengah. Disana ada Mama yang sedang membaca novel.
“Kalian berdua mau
pergi ke acara tunangan yaa?.” Tanya Mama.
“Iya tante, kami pamit
dulu yaaa..” Jawab Kak Arfy.
“Eh Ar,
motor kamu tadi di pinjam sama Andi, terus motor tante lagi di pake sama Deva.
Jadi terpaksa deh kamu naik pake mobil ayahnya Manda aja yaa..” Kata Mama
“Sip tante..” Jawab
Kak Arfy sambil mengacungkan jari jempolnya lalu berlari ke dalam untuk
mengambil kunci mobil.
“Ee Kak, emangnya
Lo bisa ngendarain mobil?.” Tanyaku sambil menarik bajunya.
“Bisa dong, Lo sih
nggak pernah merhatiin gue..” Jawab Kak Arfy dan langsung berlari lagi.
Sebenarnya, aku
sakit hati mendengar perkataan Kak Arfy barusan. Lo sih nggak pernah merhatiin gue. Apa aku banyak salah sama Kak
Arfy? Makanya aku di beri hukuman oleh Tuhan yaitu nggak akan pernah
mendapatkan cowok yang baik dan setia gara-gara aku nggak pernah merhatiin Kak
Arfy. Apa itu benar? Ataukah hanya pikiranku saja?
“Hei! Jangan
ngelamun. Ayo deh kita berangkat sekarang. Teman-teman Lo pasti udah banyak yang nungguin Lo..”
Aku terdiam, lantas mengikuti gerakan
kaki Kak Arfy yang cukup cepat. Ya,
mungkin karena di buru waktu. Sesampai di depan mobil, aku terpaku. Keinginanku
untuk menghadiri acara tunangan Shanin menghilang. Entah apa penyebabnya. Kak
Arfy menarik tanganku. Cepat-cepat aku memasuki mobil itu. Walaupun
kenyataannya terasa berat.
***
Bunyi musik memeriahkan acara istimewa
itu. Di depan, ada dua sosok yang sedang tersenyum diliputi kebahagiaan. Aku
iri melihat itu. Aku cemburu melihat Shanin bahagia dengan Vino. Vino adalah
sosok cowok yang setia. Butuh waktu yang lama untuk mencari sosok setia seperti
Vino.
“Hai Ry!
Lama ya kita nggak jumpa. Ohya, gimana kabar Lo sekarang?.” Sapa
Kak Arfy dan langsung menduduki bangku kosong di samping Ary berada.
“Baik. Oh, Lo Arfy ya?
Saingan number one nya Vino?.” Tebak Ary sambil
menunjuk ke kepala Arfy.
“Iya, hehehe..”
Aku baru tau juga. Ternyata
Ary sudah kenal Arfy sejak dulu. Bukan Vino saja yang sudah kenal Arfy. Aku
melirik ke samping kanan. Di samping kananku ada Stefy, lalu Tya. Mereka
tersenyum manis menatapku.
“Wah Fy, itu cowok
Lo ya? Ganteng banget.. Siapa dia?.” Tanya
Stefy iseng.
“Itu Kak Arfy. Dia kakak gue.” Jawabku
singkat.
“Lho? Lo kan nggak punya..”
“Ssst, kalian jangan berisik, besok aja
lanjutin omongannya.” Kilah Tya.
Aku dan Stefy menurut. Mataku menatap
lurus ke depan. Terbayang-bayang masa laluku saat bersamanya. Kami juga sudah bertunangan. Tapi cinta kami tidaklah
abadi. Dia sudah memilih cewek lain. Dia sudah tidak mencintaiku lagi. Setelah
acara selesai, aku dan teman-temanku member selamat kepada Shanin dan Vino.
Tampaknya mereka terlihat bahagia.
“Long last ya No!
Gue nggak percaya kalo Lo udah dapet cewek cantik kayak gini..” Kata Arfy.
“Hehehe..” Kata
Vino.
“Psst, itu siapa
No?.” Bisik Shanin.
“Itu temen SMA gue,
namanya Arfy.”
“Kok dia deket ya
sama Manda?.”
“Pacarnya kali..”
Aku tau apa yang
dibicarakan Shanin dan Vino. Tetapi aku pura-pura tidak tau. Perasaaanku kini
mulai terasa aneh. Apalagi tepat di belakang Kak Arfy. Jantungku kini semakin
berdebar-debar tak karuan.
“Yuk pulang Kak..”
“Oh ya, ayo dah..” Jawab
Arfy sambil meninggalkan tempat itu.
“Eh Da , tu siapa?
Cowok Lo?.” Tanya Tya heran.
“Besok ajadah gue
jelasin..” Kataku lalu menghilang di balik kerumunan orang yang sedang berlalu
lalang.
“Itu kakaknya Manda
Ty, namanya Arfy. Tapi gue nggak yakin kalo Arfy kakaknya Manda, rupanya aja
nggak mirip..” Jelas Stefy. “Tapi dia ganteng.. Kok Manda nggak pernah kasi tau
ke gue ya tentang Arfy?.” Sambung Stefy lagi yang
perkataannya langsung di comment sama Ary.
“Weh, Lo jangan sampe fall in love sama
Arfy, awas ya kalo Lo suka sama dia, gue bakalan bunuh tu anak..”
Stefy cengengesan melihat kekasihnya
cemburu. Ary, Ary, Lo itu cowok yang
paling istimewa kok. Mana mungkin gue suka sama Arfy? Lo itu cinta terakhir
gue..
***
Di dalam mobil, aku terdiam tanpa
ekspresi. Kak Arfy melaju
mobilnya dengan kecepatan rendah. Ia sama sekali tidak ingin terjadi apa-apa
dengan mobil ini. Aku hanya ingin cepat-cepat pulang
dan langsung merebahkan tubuhku di atas kasur. Tentunya untuk menghilangkan
rasa penat di dalam tubuhku ini.
“Eh Da, kita mampir ke kafe yuk! Gue
laper nih..” Kata Kak Arfy sambil memegang perutnya.
“Mmm..”
“Kenapa Da? Perut gue udah melilit
nih..” Kata Kak Arfy lagi.
“Tapi gue pengen cepat-cepat pulang,
badan gue ini sakit sekali, tapi karna Lo laper, kita ke kafe aja, tapi gue
nggak makan kok, gue nggak lapar..” Jawabku terpaksa.
Sepertinya Kak Arfy menangkap perasaan
ketidak mauanku untuk mampir ke kafe. Dibelainya rambut hitamku yang panjang.
“Ya udah. Kita pulang aja. Gue makannya di rumah aja.” Jawabnya sambil tersenyum.
Tangannya masih setia memegangi perutnya yang kelaparan.
“Nggak Kak, kita ke kafe aja..”
“Tapi Lo kan maunya
pulang?.”
“Iya sih, tapi gue kasian ngeliat Lo,
kita ke kafe aja sekarang..”
“Udahlah Da, gue
nggak ingin badan Lo tambah semakin sakit. Ingat Da, gue selalu ada untuk Lo.
Gue selalu ngalah, apapun keinginan Lo, gue selalu terima. Meskipun gue nggak
mampu, tapi gue tetep berusaha untuk menjalani keinginan Lo.”
Mendengar ucapan
yang dilontarkan dari mulut Kak Arfy, aku sepertinya ingin menangis. Baru
pertama kali ini aku menemukan sesosok lelaki sebaik Kak Arfy. Dan aku tak
pernah menyadarinya. Tak pernah!
***
Tepat jam setengah
Sembilan aku sudah berada di kampus. Aku dapat
melihat wajah bahagia Shanin dan Vino. Benar-benar pasangan sejati. Aku juga melihat beberapa temanku yang sedang menikmati
kebahagiaan bersama pasangannya.
“Nah itu Manda..”
Teriak Tya yang tentu saja membuatku kaget.
“Ada apa sih..?.”
Jawabku malas.
“Mmm, gimana
yaa..?.”
“Gimana apanya? Ty,
gue lelah menjalani hidup gue ini. Lo enak Ty, sudah mendapat cowok yang baik
dan setia. Kalo gue? Lebih baik gue mati aja Ty, gue udah frustrasi Ty!.”
Tya menenagkanku.
Ia tak menyangka mendapat bentakan keras dariku. Aku juga sama sekali tak
menyangka kalau aku membentak sahabat sejatiku sendiri. Tya memperbaiki tempat
duduknya. Sekarang ia tepat di hadapanku.
“Da, Lo yakin nggak
ada satu cowok yang sayang sama elo?.”
Aku ragu. Ada satu
cowok yang sebenarnya sangat sayang kepadaku. Tapi dia sudah ku anggap sebagai
kakak kandungku sendiri. Aku ragu untuk berkata ‘ia’, dan ragu untuk berkata
‘tidak’.
“Gue tanya sekali
lagi. Ada nggak satu cowok yang sangat sayang sama elo?.”
“Gue..gue nggak
tau..”
“Terus, siapa cowok
cakep yang ngantar Lo pergi ke acara tunangan Shanin?.”
“Namanya Kak Arfy.” Jawabku malu. Entah
mengapa jantungku selalu berdebar-debar ketika mengucapkan kata ‘Arfy’.
“Dia bukan kakak
kandung Lo kan?.”
Aku mengangguk.
“Sejak kapan Lo
tinggal sama Arfy?.”
“Mmm, sejak dia
SMP.”
“Dia sayang elo
nggak?.”
“Sayang.”
“Dan Lo nggak
pernah menyadari kalo Arfy itu sayang sama elo?.”
“Mmm, gue nggak
tau. Tapi jujur ya Ty, gue merasa bersalah sama dia. Gue inget dulu. Dia selalu
menjaga gue, malahan sampai sekarang. Dia selalu ada untuk gue. Tapi gue nggak
pernah sadar akan keberadaannya di dunia ini.”
“Masalah selesai Da.
Sebenarnya Lo adalah cewek paling beruntung di dunia ini. Lo mempunyai
seseorang yang terus menyayangi Lo. Walaupun Lo nggak sayang sama Arfy, tapi
gue yakin. Pasti suatu saat nanti Lo akan sayang sama dia. Lo mengerti untuk
apa ia ada di dunia ini. Dan Lo pasti mengerti kalau dia adalah cowok yang
sangat menyayangi Lo, mencintai Lo..”
“Gue sayang sama
Kak Arfy, maafin gue ya. Gue baru sadar sekarang kalau Kak Arfy adalah cowok
impian gue. Tapi gue nggak yakin kalau gue jadi pacarnya. Gue malu Ty.. Gue
banyak salah sama dia. Pasti dia nggak mau jadi pacar gue..”
“Hehehe, akhirnya
Lo sadar juga. Awareness of Love. Buruan ah ntar
pas pulang, Lo tembak dia, hahaha…”
“Ih Tya ini, gue
malu tauuu.. Harusnya dia yang nembak gue. Bukan gue yang nembak dia.”
Benar! Aku sudah
mendapat cowok yang baik dan setia. Malahan sejak dulu. Sebelum aku mengenal
Tya dan juga temanku yang lain. Tuhan, rasanya sangat senang. Aku benar-benar
mencintai Kak Arfy. Kini, giliran aku yang harus membalas semua jasa kebaikan
Kak Arfy.
***
Rasanya sangat senang saat kuliah
selesai. Aku tak sabaran
menemui Kak Arfy. Tepat di luar gerbang, wajah manis
Kak Arfy sudah dapat aku lihat. Lagi-lagi rasa gugup setengah mati
menggentayangiku. Aku malu untuk berhadapan dengan Kak Arfy. Tidak seperti biasanya. Kemarin atau tadi pagi.
“Wah, Lo kenapa Da?
Lucu amat. Nunduk-nunduk gitu? Emangnya ada masalah?.” Tanya Kak Arfy.
Aku tetap diam.
Sama sekali tidak berani mengangkat wajahku. Jantungku berdetak semakin tidak
karuan. Keringat dinginku sudah membasahi seluruh tubuhku.
“Fy, Lo kenapa? Lo
nggak seperti biasanya..”
Perlahan, dengan
semua keberanian, ku angkat wajahku. Di depan mata, aku sudah bertatapan
langsung dengan Kak Arfy. Ia tersenyum. Ku akui senyuman itu adalah senyuman
yang paling terindah.
“Mmm, gimana kalo
kita makan di restoran? Sekarang juga.” Kata Kak Arfy.
“I…iyaa..” Jawabku.
Jadilah hari ini
aku makan siang berdua dengan Kak Arfy. Sebelum itu, ia jarang mengajakku makan
siang. Ada apa ya? Apa jangan-jangan dia tau kalau aku suka padanya dari Tya?
Tidak mungkin. Kak Arfy tidak mengenal Tya. Mungkin saja ini hanya kebetulan.
Restoran Sari Asih.
Restoran ini termasuk restoran yang mewah. Tapi lebih mewah lagi kalau kita
datang pada malam hari. Kak Arfy menarik tanganku untuk segera masuk ke dalam.
Aku benar-benar malu dibuatnya.
“Da, pesan apa?.”
“Apa aja deh.”
“Ya udah deh.”
Pelayan mencatat pesanan
yang di pesan oleh Kak Arfy. Ayam lalapan dan juice jeruk. Aku menurut saja.
Lagipula aku sudah bilang tadi kalau aku memesan apa yang Kak Arfy pesan.
Setelah itu, aku menunduk terus. Rasa-rasa aneh menyerang tubuhku. Sama seperti
tadi. Kak Arfy hanya tersenyum lucu saja melihat aku yang sedang aneh hari ini.
Pesanan akhirnya
datang. Tanpa ba bi bu, Kak Arfy langsung menyantap makanan itu. Aku..
entahlah. Hari ini aku tidak nafsu makan. Tentu saja ini akibat dari perasaan
aneh itu.
“Lo nggak makan Da?.”
Aku diam. Kak
Arfy sepertinya mengerti apa yang aku rasakan sekarang. Diambilnya sendok di
piringku. Aku mendadak kaget. Dia.. Dia menyuapiku. Sama seperti Fed menyuapiku
dulu. Tuhan, aku senang hari ini. Sangat senang. Terimakasih Tuhan karena telah
menciptakan Kak Arfy dan telah menakdirkan bahwa Kak Arfy adalah my true love.
Terimakasih Tuhan..
***
Siang itu, kedua orangtuaku sedang
pergi. Deva dan Devi menghilang entah kemana. Sedangakan Kak Arfy berdiam diri di depan televisi. Ada
niatanku untuk menemuinya. Meskipun perasaan itu masih hinggap di tubuhku.
Perlahan, ku ambil lirik lagu itu. Aku harus tau
siapa yang menulis ini.
“Hai Kak.” Sapaku ramah.
“Hai juga Da. Ada
apa?.”
“Manda…Manda..boleh
nggak duduk di samping Kak Arfy?.” Kataku malu.
“Boleh.”
Aku sudah berada di
samping Kak Arfy. Dalam diam, aku memerhatikan wajahnya yang selama ini hampir
aku lupakan. Jasanya, kebaikannya, hari ini aku menyadari. Kak Arfy lah orang
yang selama ini aku cari. Bukan Fed ataupun Raffi. Adalah Kak Arfy. Aku yakin
Kak Arfy akan setia kepadaku. Bukannya dari dulu ia selalu menyayangiku?
“Kak, jawab ya
pertanyaan Manda dengan jujur.” Aku menghela nafas. “Kakak ya yang nulis lirik
lagu ini?.”
Ku lihat wajah pucat Kak Arfy. Semakin
aku dekat dengannya, semakin banyak lukisan pucat di wajahnya. Aku yakin sekali dia yang menulis ini.
“Em Da, gue..emang
gue yang nulis. Maaf ya.”
Aku tersenyum. Memang benar Kak Arfy
yang menulis lirik ini. Aku
bahkan tidak mengenali tulisan Kak Arfy.
Manda…Manda.. gimana sih kamu ini..
“Jangan bilang maaf
dong Kak. Justru Manda harus berterimakasih sama Kak Arfy. Kak Arfy lah yang
menjadi cahaya hidup Manda, Kak Arfy lah yang selalu menemani Manda, dan Kak
Arfy lah yang selalu ada buat Manda, Kak, gue sayang sama elo..”
Kak Arfy tertawa
dengan menunduk. Aku semakin geregetan melihat wajahnya yang lucu.
“Woi Kak, kalo ketawa bagi-bagi dong..”
“Hehehe, maaf.. Jadi, sekarang Lo udah
sadar kalo ada satu cowok yang selalu menyayangi Lo?.”
“Iya Kak, dan cowok itu adalah Kak Arfy.
Perisai hidup Manda..”
“Makasih ya Da atas
kesadaran Lo. Gue senang Da, sebenarnya, dari dulu gue suka sama Lo, tapi gue
malu mau nyatain cinta ke elo, gue takut Lo nanti menolak cinta gue, lebih baik
gue jadi Kakak Lo aja, biar gue banyak waktu sama elo..”
“Ih Kak Arfy..”
Aku dan Kak Arfy larut dalam setetes
cinta. Cinta yang nyata.
Cinta yang selama ini aku cari. Kak Arfy merangkulku. Ia menceritakan sebuah
kisah yang sering dia ceritakan di waktu aku dan dia masih SMP. Kisah seorang
gadis yang mencari pasangannya, dan tentu saja aku menyukai cerita itu.
Terimakasih Kak
atas seluruh cintanya.... Kini aku sadar, kaulah cinta yang sebenarnya….
____________________________________________________________________________________________________________________________________END______________________________________________________________________________________________________________________