Senin, 26 November 2012

Cerpen : Arti Cinta

Halooo!!! Sebenarnya cerpen ini aku ambil dari novel dealova karya dyan nuranindya..Nggak papa yaa..
Happy reading.



Sinar matahari yang begitu terik memancarkan sinarnya di tengah lapangan basket. Seorang cewek sedang asyik memainkan bola basketnya nggak peduli dengan wajahnya yang dipenuhi keringat. Juga seluruh bandannya yang basah terkena keringat.

Sudah hampir sejaman cewek itu bermain basket. Teman-temannya yang lain sedang berusaha untuk meningatkannya agar berhenti. Tapi cewek itu cuek. Akhirnya, teman-temannya terpaksa meninggalkannya. Cewek itu tetap tenang saja ketika melihat teman-temannya menghilang di lapangan.

Fiuh. Lelah juga. Cewek itu beristirahat sejenak di pinggir lapangan. Diteguknya sebotol air mineral berukuran sedang ke mulutnya. Setelah itu, entah mengapa dunia seakan-akan berputar. Kepalanya terasa sakit. Sakit sekali. Cewek itu berusaha untuk tenang dan mencoba untuk menghilangkan rasa sakitnya itu. Tapi semuanya gagal. Ia sudah tidak tahan lagi. Tubuhnya pun terjatuh, dan cewek itu merasakan ada tangan yang mengangkat tubuhnya.

***
Penglihatannya remang-remang. Namun sedikit demi sedikit Ify mampu melihat keadaan sekitarnya dengan normal. Dilihatnya sekilas tempat itu. Ia yakini tempat ini adalah UKS. Dan disampingnya ada seorang cowok manis yang setia menunggunya. Ify sempat kagum melihat sosok cowok manis disampingnya.

Setelah cukup membaik, akhirnya Ify bangkit dari tempat tidurnya. Tetapi cowok disampingnya itu melarangnya. Ify kesal saat ia mendengar perkataan kasar dari cowok itu.

“Lo itu masih sakit. Jadi jangan bangun dulu!” Ujarnya ketus.
Terpaksa Ify kembali ke bantalnya dengan mimik wajah kesal. Padahal, ia udah baikan kok. Dan cowok itu siapa? Ify nggak mengenali cowok itu. Tapi Ify yakin kalau cowok itu salah satu siswa di SMA Adhira-SMAnya-.
Menit kemudian, Ify diperbolehkan untuk bangkit dari kasurnya. Ini bukan atas izin cowok itu, tapi atas izin Kak Mira-petugas UKS-. Sekilas, Ify memandag wajah cowok disampingnya. Ah sial! Cowok itu juga memandanginya dengan sangat lekat. Dan tatapannya amat aneh.
“Lo siapa?” Tanya Ify ramah. Ia tak ingin cowok itu berkata kasar.
Tetapi apa yang terjadi? Cowok itu malah membentaknya.
“Lo nggak perlu tau siapa gue. Itu kan bukan urusan lo? Lagian, lo itu juga gila sih. Maen basket di siang bolong kaya’ gini. Dasar lo! Nggak punya otak. Jadinya lo nyungkep di UKS. Tau rasa lo!”
Tuhan. Siapa sih makhluk aneh ini? Kenal aja tidak. Kok beraninya bentak-bentak cewek sih? Dia mungkin yang nggak punya otak.
Karena tidak tahan, Ify akhirnya pergi menjauh dari cowok itu. Dan untungnya, di luar gerbang sekolah udah ada Debo-teman kakaknya-. Debolah yang sering mengantar atau menjemput Ify sekolah.
Saat Ify berlari menemui Debo, tangan kanannya ditarik oleh seseorang. Otomatis Ify mengerang kesakitan. Siapa lagi yang seenaknya menarik tangan Ify kalau bukan cowok aneh tadi itu?
“Apa-apaan sih? Lepasin tangan gue dong!” Teriak Ify.
“Tidak semudah itu lo lepas dari gue.” Bentak cowok itu.
“Aduh..” Jerit Ify. Tangannya udah sakit sekali.
“Woi! Siapa lo? Berani-beraninya lo ganggu adek temen gue!” Bentak seseorang. Ya, orang itu adalah Debo.
Perlahan, cowok itu melepaskan cengkraman di tangan Ify. Sakit di tangan Ify sekarang udah mulai baikan. Dan Ify bersembunyi di belakang punggung Debo. Ify berharap Debo langsung menghajar cowok aneh itu.
“Lo siapa? Berani ikut campur urusan gue sama cewek itu.” Kata cowok itu sambil menunjuk ke arah Ify.
Muka Debo merah padam. “Gue Debo! Cewek ini adalah adek temen gue. Lo denger nggak? Kalo lo berani ganggu dia, gue gorok lo nanti.”
“Gue denger.” Jawab cowok itu santai.
“Terus, napa lo tarik tangan cewek ini?”
Cowok itu menarik nafas. “Seharusnya, cewek itu berterimakasih ke gue karna gue udah nolongin dia. Permisi.”
Mendengar ucapan itu, Debo menatap heran wajah cowok yang barusan berlalu dihadapannya. Nolongin Ify? Maksudnya apa?
“Nanti gue jelasin.” Ucap Ify
***
Ternyata, nama cowok itu adalah Rio. Dia siswa baru di SMA Adhira. Sampai detik ini, Ify masih heran dengan Rio. Dia itu aneh banget. Kadang-kadang baik ke Ify, kadang-kadang juga sering membentak Ify? Apa sih arti dari sikapnya itu?
Siang yang lumayan panas ini, Ify melakukan suatu kegiatan yang sering dilakukannya pada jam itu. Yaitu bermain basket. Dan Ify heran dengan dirinya saat ini. Tumbennya dia nggak ada ada semangat bermain. Alhasil, bola yang ia tembak selalu saja meleset. Mungkin hanya ada satu dua kali bola itu masuk ke ring.
“Gila! Masa’ kapten tim basket cewek nggak bisa masuin bola ke ring?” Ucap seseorang dari jauh. Diaa..
“Eh lo! Ngapain disini? Ganggu orang aja.” Ify udah stres berhadapan dengan makhluk satu ini.
“Mau gue ajarin lo cara lay-up dengan benar?” Tanya cowok itu yang tak lain adalah Rio.
Ify hanya terdiam. Ia tidak peduli dengan ucapan Rio. Sepertinya, Rio itu ingin pamer. Lihat saja nanti!
Benar kan dugaan Ify. Rio merebut bola yang dipegang Ify. Dengan cekatan ia pergi menuju ring lalu melakukan lay-up yang manis. Dalam hati Ify sempat kagum.
“Hei! Lo iri ya sama gue?” Tanya Rio tersenyum.
Ify tersadar. “Ee, nggak tuh.”
Setelah itu, Rio melempar bola ke Ify. Karena Ify belum siap, bola itu mengenai kepalanya.  
“Aduh, sakit tauu..” Rintih Ify sambil mengelus kepalanya.
Rio tertawa melihat cewek di depannya menjerit kesakitan. Lalu, ia pun pergi tanpa mempertanggungjawabkan perbuatannya itu.
***
BRAK!!
Ify membanting tas ranselnya di lantai kamarnya. Hari ini, ia kesal bin sebal sama Rio. Tuh cowok, bisanya pamer aja, nggak mau minta maaf. Debo yang melihatnya tersenyum. Ify..Ify..
“Lo kenapa sih?” tanya Debo lembut
“Itu, si Rio yang nyebelin abis.”
“Udah ah, cuekin aja dia.”
Huh. Gampang banget Debo ngomong. Malam pun tiba. Ify merebahkan tubuhnya di kasurnya. Tiba-tiba bayangan Rio mengkelebat dipikirannya.
“Gue kenapa ya?”
Di tempat lain, seorang cowok tersenyum bahagia sejak kejadian tadi. Seakan-akan ‘sesuatu’ yang ada di dirinya itu menghilang.
“Thanks, lo udah buat hidup gue berwarna..”
***
@sekolah..
“Fy..” Teriak Via.
“Apa?” Tanya Ify.
Via berusaha untuk mendekati Ify.
“Lo tau nggak siapa kapten basket cowok yang baru?”
Hah? Apa Ify nggak salah denger?
“Fy, lo denger nggak omongan gue?” Pekik Via menyadarkan lamunan Ify
“Oh, ee, de..denger kok. Emangnya siapa kapten basket cowok yang baru?”
“Aiss, gitu aja lo nggak tau. Itu lho, yang namanya Ri..”
“RIO” Tebak Ify keras. Sementara Via mengangguk.
“Dia kan cocok Fy jadi kapten, daripada si Excel..”
Ya ampun.. Bakalan mati gue. Batin Ify. Gue kapten, dia juga kapten.. Ckckck..
***
Sepulang sekolah, Ify berjalan sendirian. Tepat di dekat sebuah markas, Ify melihat Excel beserta gengnya sedang tertawa terbahak-bahak. Di tangan kanan Excel ada sebuah batang kayu yang besar. Awalnya, Ify heran. Namun, Ify cuek. Ia tidak mau memikirkan si Excel.
Ify berjalan melewati sebuah taman bunga yang sepi. Mata Ify terbelalak ketika melihat seorang cowok yang terbaring lemah di antara rumput-rumput hijau. Ify langsung mendekati cowok itu. Alangkah kagetnya Ify. Muka cowok itu berdarah. Tangannya pun penuh luka-luka. Rasa kasian Ify tumbuh. Lalu ia membantu cowok itu bangun.
“Lo nggak papa?” Tanya Ify
Cowok itu sadar. Ia memanggil-manggil nama Ify. “Ify..Ify..”
“Rio, lo kenapa sih? Abis berkelahi ya?”
Rio terdiam. Antara sadar dan tidak sadar. Ify mengambil sapu tangannya lalu ia bersihkan di mulut Rio yang penuh darah.
“Lo kok ba..baik ya..” Ucap Rio pelan.
“Udah ah. Rumah lo dimana? Nanti gue anter lo pulang..”
Setelah mulut Rio bersih, Ify membantu Rio berdiri. Tetapi Rio menolak. Ia malah membentak Ify.
“Heh. Lo pergi aja sana. Gue udah baik. Ngapain juga lo nolongin gue?”
Uh. Aneh banget tuh cowok. Padahal tadi dia baik, kok sekarang jahat sih?
“Ya udah. Gue pergi!” Marah Ify. Ia udah tak peduli lagi dengan keadaan Rio. Tetapi, tangan kanan Ify langsung ditarik Rio. Alhasil, tubuh Ify terjatuh dan menindih tubuh Rio. Mengetahui hal itu, Ify cepat-cepat menghindar.
“Lo kenapa sih? Kenapa kadang-kadang lo itu baik? Kenapa juga kadang-kadang lo jahat?” Ify kesal setengah mati.
“Gue..” Seketika itu air mata membasahi pipi Rio. Tangannya langsung memeluk tubuh Ify. “Karna gue cinta ma loo..” Lirihnya. Dan Ify speechles.
***
Sudah dua bulan Ify jadian sama Rio. Mereka menjalani hubungan mereka dengan cara yang aneh. Kadang-kadang romantis, tapi kadang-kadang musuhan. Sebenarnya Ify berharap dengan hubungan ini Rio tidak akan jahat lagi sama dia. Tetapi harapannya salah. Rio semakin membuatnya kesal. Kesal sekalii. Apa sih arti cinta yang Rio berikan kepadanya?
“Kalo gitu, putus aja sama Rio.” Saran Debo.
Putus sama Rio juga ide yang sudah Ify pikirkan sejak dulu. Tapi ketika Ify mengucapkan kata putus, Rio langsung memohon supaya tidak diputusin. Wajahnya yang memelas membuat Ify enggan memutusinya. Kan jadinya bingung?
Sore ini Rio mengajaknya jalan-jalan ke bukit bintang. Ify menurut saja walau hatinya amat panas. Ketika sampai, Rio berubah menjadi cowok yang romantis. Tidak seperti biasanya. Cuek, nyebelin, ama kejam.
“Fy, gue sayang sekali sama lo, sayang banget..”
“Gue juga.” Jawab Ify. Rasa sebelnya masih ada.
Angin sepoi-sepoi menerpa rambut Ify. Berkali-kali Rio menyibak rambut Ify sambil membelai-belai. Senyumannya menjadi indah ketika melihat sang surya akan segera terbenam.
“Yo, napa sih lo kadang-kadang baik dan kadang-kadang jahat ma gue?” Tanya Ify memecah keheningan.
Rio tersenyum manis. Jantung Ify jadi deg-degkan. Baru kali ini lho Rio senyum kayak gitu.
“Fy, gue janji sama kamu. Mulai dari sekarang dan seterusnya gue nggak akan marahin lo lagi. Gue janji.”
“Oke. Gue pegang kata-kata lo.”
Pemandangan menjadi gelap. Dua insan itu semakin romantis saja menyambut malam tiba.
“Ohya Fy, lo deket kan sama Debo?”
Ify mengangguk. Tangannya semakin erat digenggam oleh Rio.
“Bagus kalo gitu.” Ucap Rio lagi.
“Bagus? Bagus apanya?” Tanya Ify heran.
“Kalo gue pergi, Debo pasti bias jagain lo.”
“Hah? Pergi? Emangnya lo mau pergi kemana?” Tanya Ify.
“Gue nggak akan pergi kemana-mana.” Ucap Rio lemas.  Matanya pun menutup. Merasakan angin yang perlahan lahan menerpa wajahnya.
***
Sejak kejadian di bukit Bintang, Ify tidak pernah melihat Rio disekolah. Tuh anak kemana sih? Udah tau gue kangen ma dia. Ify merasakan suatu perasaan yang aneh. Ini berhubungan dengan Rio. Tanpa berfikir panjang, Ify bergegas pergi ke rumah Rio untuk mengetahui sebenarnya Rio itu kenapa. Ya, mudahan aja Rio baik-baik aja.
Sampai di rumah Rio. Ify mengetuk pintu rumah Rio. Seorang wanita paruh baya dengan mata yang memerah mempersilahkan Ify untuk masuk. Wanita itu sepertinya habis menangis. Nggak tau ya kenapa Ify juga ingin menagis melihat wanita yang tak lain adalah mama Rio menangis.
Bu Zena-Mama Rio-menyuruhnya untuk masuk ke dalam kamar Rio. Aneh! Batin Ify. Pasti ada sesuatu yang terjadi pada keluarga itu. Ify pun memasuki kamar Rio dengan jantung yang berdebar-debar.
Kosong. Kamar itu kosong tanpa berpenghuni. Tempat tidur kamar itu rapi. Ada beberapa foto seorang cowok yang tak asing lagi bagi Ify. Cowok itu sedang memegang bola basket sambil tersenyum. Hah! Ify jadi ikutan tersenyum melihat foto cowoknya itu.
“Nak Ify, ayo ikut tante pergi ke rumah sakit..” Lirih Bu Zena
“Ke rumah sakit? Emangnya siapa yang sakit?” Tanya Ify heran
“Pokoknya, kamu ikut aja.”
Ify mengikuti langkah Bu Zena. Sesampai di rumah sakit, Bu Zena menyuruh Ify untuk memasuki ruang BF1 ( Apedah ), dan Ify menurut. Jantungnya serasa berhenti berdetak ketika melihat seorang cowok yang terbaring lemah di ranjang itu. Rioo? Lo kenapa? Ify pun pingsan.
***
Batu nisan itu tertulis Mario Stevano. Ify menangis lirih sambil membelai batu nisan itu. Disampingnya ada Debo. Setelah cukup, Ify mengajak Debo pergi ke suatu tempat yang menjadi kenangannya dengan Rio yaitu bukit Bintang.
Sebuah surat terakhir dari Rio. Ify membuka dan membaca surat itu dengan air mata.
To My love : Ify Alyssa
Apa kabar Fy? Maaf ya, selama ini gue selalu buat lo kesel ma marah. Fy, jujur ya, sejak pertama gue ngeliat lo, gue udah jatuh cinta. Karena lo, hidup gue yang tidak bersemangat menjadi bersemangat, itu karena lo Fy.
Fy, surat ini adalah surat terakhir gue. Pasti lo penasaran kan kenapa gue sering marah tapi baik juga? Sebenarnya, sejak kecil gue udah terkena kanker paru-paru dan dokter udah mengkira-kira umur gue udah nggak lama lagi. Gue syok Fy mendengar ucapan dokter itu, tapi sejak ada lo, ucapan dokter itu udah nggak menakutkan lagi bagi gue.
Fy, sebenarnya gue nggak rela marahin lo sampe lo nangis. Tapi Fy, gue pengennya marahin lo biar lo benci ma gue agar saat gue pergi lo nggak akan nagis. Itulah arti cinta yang gue berikan untuk lo. Ohya Fy, kan ada Debo tuh, gue harap, Debo mo ngejaga lo disaat gue pergi. Bilang sama Debo ya kalo gue bener-bener bertrimakasih kepadanya.
Terakhir, makasih ya sayang karena udah buat hidup gue lebih berwarna dan semangat. Gue akan selalu berada disamping lo, selamanya.
From Your Love : Mario Stevano
:D
END....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar