Happy reading.
Sinar matahari yang
begitu terik memancarkan sinarnya di tengah lapangan basket. Seorang cewek
sedang asyik memainkan bola basketnya nggak peduli dengan wajahnya yang
dipenuhi keringat. Juga seluruh bandannya yang basah terkena keringat.
Sudah hampir sejaman cewek itu bermain
basket. Teman-temannya yang lain sedang berusaha untuk meningatkannya agar
berhenti. Tapi cewek itu cuek. Akhirnya, teman-temannya terpaksa
meninggalkannya. Cewek itu tetap tenang saja ketika melihat teman-temannya
menghilang di lapangan.
Fiuh. Lelah juga. Cewek itu beristirahat
sejenak di pinggir lapangan. Diteguknya sebotol air mineral berukuran sedang ke
mulutnya. Setelah itu, entah mengapa dunia seakan-akan berputar. Kepalanya
terasa sakit. Sakit sekali. Cewek itu berusaha untuk tenang dan mencoba untuk
menghilangkan rasa sakitnya itu. Tapi semuanya gagal. Ia sudah tidak tahan
lagi. Tubuhnya pun terjatuh, dan cewek itu merasakan ada tangan yang mengangkat
tubuhnya.
***
Penglihatannya remang-remang. Namun
sedikit demi sedikit Ify mampu melihat keadaan sekitarnya dengan normal.
Dilihatnya sekilas tempat itu. Ia yakini tempat ini adalah UKS. Dan
disampingnya ada seorang cowok manis yang setia menunggunya. Ify sempat kagum
melihat sosok cowok manis disampingnya.
Setelah cukup membaik, akhirnya Ify
bangkit dari tempat tidurnya. Tetapi cowok disampingnya itu melarangnya. Ify
kesal saat ia mendengar perkataan kasar dari cowok itu.
“Lo itu masih
sakit. Jadi jangan bangun dulu!” Ujarnya ketus.
Terpaksa Ify kembali ke
bantalnya dengan mimik wajah kesal. Padahal, ia udah baikan kok. Dan cowok itu
siapa? Ify nggak mengenali cowok itu. Tapi Ify yakin kalau cowok itu salah satu
siswa di SMA Adhira-SMAnya-.
Menit kemudian, Ify
diperbolehkan untuk bangkit dari kasurnya. Ini bukan atas izin cowok itu, tapi
atas izin Kak Mira-petugas UKS-. Sekilas, Ify memandag wajah cowok
disampingnya. Ah sial! Cowok itu juga memandanginya dengan sangat lekat. Dan
tatapannya amat aneh.
“Lo siapa?” Tanya Ify ramah. Ia
tak ingin cowok itu berkata kasar.
Tetapi apa yang terjadi? Cowok
itu malah membentaknya.
“Lo nggak perlu tau siapa gue.
Itu kan bukan urusan lo? Lagian, lo itu juga gila sih. Maen basket di siang
bolong kaya’ gini. Dasar lo! Nggak punya otak. Jadinya lo nyungkep di UKS. Tau
rasa lo!”
Tuhan. Siapa sih makhluk aneh
ini? Kenal aja tidak. Kok beraninya bentak-bentak cewek sih? Dia mungkin yang
nggak punya otak.
Karena tidak tahan, Ify
akhirnya pergi menjauh dari cowok itu. Dan untungnya, di luar gerbang sekolah
udah ada Debo-teman kakaknya-. Debolah yang sering mengantar atau menjemput Ify
sekolah.
Saat Ify berlari menemui Debo,
tangan kanannya ditarik oleh seseorang. Otomatis Ify mengerang kesakitan. Siapa
lagi yang seenaknya menarik tangan Ify kalau bukan cowok aneh tadi itu?
“Apa-apaan sih? Lepasin tangan
gue dong!” Teriak Ify.
“Tidak semudah itu lo lepas
dari gue.” Bentak cowok itu.
“Aduh..” Jerit Ify. Tangannya
udah sakit sekali.
“Woi! Siapa lo?
Berani-beraninya lo ganggu adek temen gue!” Bentak seseorang. Ya, orang itu
adalah Debo.
Perlahan, cowok itu melepaskan
cengkraman di tangan Ify. Sakit di tangan Ify sekarang udah mulai baikan. Dan
Ify bersembunyi di belakang punggung Debo. Ify berharap Debo langsung menghajar
cowok aneh itu.
“Lo siapa? Berani ikut campur
urusan gue sama cewek itu.” Kata cowok itu sambil menunjuk ke arah Ify.
Muka Debo merah padam. “Gue
Debo! Cewek ini adalah adek temen gue. Lo denger nggak? Kalo lo berani ganggu
dia, gue gorok lo nanti.”
“Gue denger.” Jawab cowok itu
santai.
“Terus, napa lo tarik tangan cewek
ini?”
Cowok itu menarik nafas.
“Seharusnya, cewek itu berterimakasih ke gue karna gue udah nolongin dia.
Permisi.”
Mendengar ucapan itu, Debo
menatap heran wajah cowok yang barusan berlalu dihadapannya. Nolongin Ify?
Maksudnya apa?
“Nanti gue jelasin.” Ucap Ify
***
Ternyata, nama cowok itu adalah
Rio. Dia siswa baru di SMA Adhira. Sampai detik ini, Ify masih heran dengan
Rio. Dia itu aneh banget. Kadang-kadang baik ke Ify, kadang-kadang juga sering
membentak Ify? Apa sih arti dari sikapnya itu?
Siang yang lumayan panas ini,
Ify melakukan suatu kegiatan yang sering dilakukannya pada jam itu. Yaitu
bermain basket. Dan Ify heran dengan dirinya saat ini. Tumbennya dia nggak ada
ada semangat bermain. Alhasil, bola yang ia tembak selalu saja meleset. Mungkin
hanya ada satu dua kali bola itu masuk ke ring.
“Gila! Masa’ kapten tim basket
cewek nggak bisa masuin bola ke ring?” Ucap seseorang dari jauh. Diaa..
“Eh lo! Ngapain disini? Ganggu
orang aja.” Ify udah stres berhadapan dengan makhluk satu ini.
“Mau gue ajarin lo cara lay-up
dengan benar?” Tanya cowok itu yang tak lain adalah Rio.
Ify hanya terdiam. Ia tidak
peduli dengan ucapan Rio. Sepertinya, Rio itu ingin pamer. Lihat saja nanti!
Benar kan dugaan Ify. Rio
merebut bola yang dipegang Ify. Dengan cekatan ia pergi menuju ring lalu
melakukan lay-up yang manis. Dalam hati Ify sempat kagum.
“Hei! Lo iri ya sama gue?”
Tanya Rio tersenyum.
Ify tersadar. “Ee, nggak tuh.”
Setelah itu, Rio melempar bola
ke Ify. Karena Ify belum siap, bola itu mengenai kepalanya.
“Aduh, sakit tauu..” Rintih Ify
sambil mengelus kepalanya.
Rio tertawa melihat cewek di
depannya menjerit kesakitan. Lalu, ia pun pergi tanpa mempertanggungjawabkan
perbuatannya itu.
***
BRAK!!
Ify membanting tas ranselnya di
lantai kamarnya. Hari ini, ia kesal bin sebal sama Rio. Tuh cowok, bisanya
pamer aja, nggak mau minta maaf. Debo yang melihatnya tersenyum. Ify..Ify..
“Lo kenapa sih?” tanya Debo
lembut
“Itu, si Rio yang nyebelin
abis.”
“Udah ah, cuekin aja dia.”
Huh. Gampang banget Debo ngomong.
Malam pun tiba. Ify merebahkan tubuhnya di kasurnya. Tiba-tiba bayangan Rio
mengkelebat dipikirannya.
“Gue kenapa ya?”
Di tempat lain, seorang cowok
tersenyum bahagia sejak kejadian tadi. Seakan-akan ‘sesuatu’ yang ada di
dirinya itu menghilang.
“Thanks, lo udah buat hidup gue
berwarna..”
***
@sekolah..
“Fy..” Teriak Via.
“Apa?” Tanya Ify.
Via berusaha untuk mendekati
Ify.
“Lo tau nggak siapa kapten
basket cowok yang baru?”
Hah? Apa Ify nggak salah
denger?
“Fy, lo denger nggak omongan
gue?” Pekik Via menyadarkan lamunan Ify
“Oh, ee, de..denger kok.
Emangnya siapa kapten basket cowok yang baru?”
“Aiss, gitu aja lo nggak tau.
Itu lho, yang namanya Ri..”
“RIO” Tebak Ify keras.
Sementara Via mengangguk.
“Dia kan cocok Fy jadi kapten,
daripada si Excel..”
Ya ampun.. Bakalan mati gue.
Batin Ify. Gue kapten, dia juga kapten.. Ckckck..
***
Sepulang sekolah, Ify berjalan
sendirian. Tepat di dekat sebuah markas, Ify melihat Excel beserta gengnya
sedang tertawa terbahak-bahak. Di tangan kanan Excel ada sebuah batang kayu
yang besar. Awalnya, Ify heran. Namun, Ify cuek. Ia tidak mau memikirkan si
Excel.
Ify berjalan melewati sebuah
taman bunga yang sepi. Mata Ify terbelalak ketika melihat seorang cowok yang
terbaring lemah di antara rumput-rumput hijau. Ify langsung mendekati cowok
itu. Alangkah kagetnya Ify. Muka cowok itu berdarah. Tangannya pun penuh
luka-luka. Rasa kasian Ify tumbuh. Lalu ia membantu cowok itu bangun.
“Lo nggak papa?” Tanya Ify
Cowok itu sadar. Ia
memanggil-manggil nama Ify. “Ify..Ify..”
“Rio, lo kenapa sih? Abis berkelahi ya?”
Rio terdiam. Antara
sadar dan tidak sadar. Ify mengambil sapu tangannya lalu ia bersihkan di mulut
Rio yang penuh darah.
“Lo kok ba..baik
ya..” Ucap Rio pelan.
“Udah ah. Rumah lo
dimana? Nanti gue anter lo pulang..”
Setelah mulut Rio
bersih, Ify membantu Rio berdiri. Tetapi Rio menolak. Ia malah membentak Ify.
“Heh. Lo pergi aja
sana. Gue udah baik. Ngapain juga lo nolongin gue?”
Uh. Aneh banget tuh cowok. Padahal tadi
dia baik, kok sekarang jahat sih?
“Ya udah. Gue
pergi!” Marah Ify. Ia udah tak peduli lagi dengan keadaan Rio. Tetapi, tangan
kanan Ify langsung ditarik Rio. Alhasil, tubuh Ify terjatuh dan menindih tubuh
Rio. Mengetahui hal itu, Ify cepat-cepat menghindar.
“Lo kenapa sih?
Kenapa kadang-kadang lo itu baik? Kenapa juga kadang-kadang lo jahat?” Ify
kesal setengah mati.
“Gue..” Seketika
itu air mata membasahi pipi Rio. Tangannya langsung memeluk tubuh Ify. “Karna
gue cinta ma loo..” Lirihnya. Dan Ify speechles.
***
Sudah dua bulan Ify jadian sama Rio. Mereka menjalani hubungan mereka dengan cara yang aneh.
Kadang-kadang romantis, tapi kadang-kadang musuhan. Sebenarnya Ify berharap
dengan hubungan ini Rio tidak akan jahat lagi sama dia. Tetapi harapannya
salah. Rio semakin membuatnya kesal. Kesal sekalii. Apa sih arti cinta yang Rio
berikan kepadanya?
“Kalo gitu, putus
aja sama Rio.” Saran Debo.
Putus sama Rio juga
ide yang sudah Ify pikirkan sejak dulu. Tapi ketika Ify mengucapkan kata putus,
Rio langsung memohon supaya tidak diputusin. Wajahnya yang memelas membuat Ify
enggan memutusinya. Kan jadinya bingung?
Sore ini Rio mengajaknya jalan-jalan ke
bukit bintang. Ify menurut saja walau hatinya amat panas. Ketika sampai, Rio
berubah menjadi cowok yang romantis. Tidak seperti biasanya. Cuek, nyebelin, ama
kejam.
“Fy, gue sayang sekali sama lo, sayang
banget..”
“Gue juga.” Jawab Ify. Rasa sebelnya
masih ada.
Angin sepoi-sepoi menerpa rambut Ify. Berkali-kali
Rio menyibak rambut Ify sambil membelai-belai. Senyumannya menjadi indah ketika
melihat sang surya akan segera terbenam.
“Yo, napa sih lo
kadang-kadang baik dan kadang-kadang jahat ma gue?” Tanya Ify memecah
keheningan.
Rio tersenyum manis. Jantung Ify jadi
deg-degkan. Baru kali ini lho
Rio senyum kayak gitu.
“Fy, gue janji sama kamu. Mulai dari sekarang dan seterusnya gue nggak akan marahin
lo lagi. Gue janji.”
“Oke. Gue pegang
kata-kata lo.”
Pemandangan menjadi
gelap. Dua insan itu semakin romantis saja menyambut malam tiba.
“Ohya Fy, lo deket
kan sama Debo?”
Ify mengangguk.
Tangannya semakin erat digenggam oleh Rio.
“Bagus kalo gitu.”
Ucap Rio lagi.
“Bagus? Bagus apanya?” Tanya Ify heran.
“Kalo gue pergi,
Debo pasti bias jagain lo.”
“Hah? Pergi?
Emangnya lo mau pergi kemana?” Tanya Ify.
“Gue nggak akan
pergi kemana-mana.” Ucap Rio lemas.
Matanya pun menutup. Merasakan angin yang perlahan lahan menerpa
wajahnya.
***
Sejak kejadian di bukit
Bintang, Ify tidak pernah melihat Rio disekolah. Tuh anak kemana sih? Udah tau
gue kangen ma dia. Ify merasakan suatu perasaan yang aneh. Ini berhubungan
dengan Rio. Tanpa berfikir panjang, Ify bergegas pergi ke rumah Rio untuk
mengetahui sebenarnya Rio itu kenapa. Ya, mudahan aja Rio baik-baik aja.
Sampai di rumah Rio. Ify
mengetuk pintu rumah Rio. Seorang wanita paruh baya dengan mata yang memerah
mempersilahkan Ify untuk masuk. Wanita itu sepertinya habis menangis. Nggak tau
ya kenapa Ify juga ingin menagis melihat wanita yang tak lain adalah mama Rio
menangis.
Bu Zena-Mama Rio-menyuruhnya
untuk masuk ke dalam kamar Rio. Aneh! Batin Ify. Pasti ada sesuatu yang terjadi
pada keluarga itu. Ify pun memasuki kamar Rio dengan jantung yang
berdebar-debar.
Kosong. Kamar itu kosong tanpa
berpenghuni. Tempat tidur kamar itu rapi. Ada beberapa foto seorang cowok yang
tak asing lagi bagi Ify. Cowok itu sedang memegang bola basket sambil
tersenyum. Hah! Ify jadi ikutan tersenyum melihat foto cowoknya itu.
“Nak Ify, ayo ikut tante pergi
ke rumah sakit..” Lirih Bu Zena
“Ke rumah sakit? Emangnya siapa
yang sakit?” Tanya Ify heran
“Pokoknya, kamu ikut aja.”
Ify mengikuti langkah Bu Zena.
Sesampai di rumah sakit, Bu Zena menyuruh Ify untuk memasuki ruang BF1 ( Apedah
), dan Ify menurut. Jantungnya serasa berhenti berdetak ketika melihat seorang
cowok yang terbaring lemah di ranjang itu. Rioo? Lo kenapa? Ify pun pingsan.
***
Batu nisan itu tertulis Mario
Stevano. Ify menangis lirih sambil membelai batu nisan itu. Disampingnya ada
Debo. Setelah cukup, Ify mengajak Debo pergi ke suatu tempat yang menjadi
kenangannya dengan Rio yaitu bukit Bintang.
Sebuah surat terakhir dari Rio.
Ify membuka dan membaca surat itu dengan air mata.
To My love : Ify Alyssa
Apa kabar Fy? Maaf ya, selama ini gue selalu buat lo
kesel ma marah. Fy, jujur ya, sejak pertama gue ngeliat lo, gue udah jatuh
cinta. Karena lo, hidup gue yang tidak bersemangat menjadi bersemangat, itu
karena lo Fy.
Fy, surat ini adalah surat terakhir gue. Pasti lo
penasaran kan kenapa gue sering marah tapi baik juga? Sebenarnya, sejak kecil
gue udah terkena kanker paru-paru dan dokter udah mengkira-kira umur gue udah nggak
lama lagi. Gue syok Fy mendengar ucapan dokter itu, tapi sejak ada lo, ucapan
dokter itu udah nggak menakutkan lagi bagi gue.
Fy, sebenarnya gue nggak rela marahin lo sampe lo nangis.
Tapi Fy, gue pengennya marahin lo biar lo benci ma gue agar saat gue pergi lo
nggak akan nagis. Itulah arti cinta yang gue berikan untuk lo. Ohya Fy, kan ada
Debo tuh, gue harap, Debo mo ngejaga lo disaat gue pergi. Bilang sama Debo ya
kalo gue bener-bener bertrimakasih kepadanya.
Terakhir, makasih ya sayang karena udah buat hidup gue
lebih berwarna dan semangat. Gue akan selalu berada disamping lo, selamanya.
From Your Love : Mario Stevano
:D
END....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar