Senin, 26 November 2012

Cerpen : Setangkai Bunga Mawar Terakhir Darinya

Haii!!! Ini cerpen pertama aku loh.. Baca ya...
Gomawo.. :D



Aku melihat keindahan kota Malang ini. Baru pertama kali aku mendatangi kota ini. Kota yang penuh dengan berbagai wisata. Aku sangat bahagia. Mulai saat ini, hari ini, aku tinggal di Kota ini. Sungguh indah.
Aku melepaskan jaket merah mudaku yang bergambar strawberry. Itu adalah jaket pemberian dari sahabatku yang bernama Nova. Itulah kenangan terindah dari Nova semenjak aku berpisah dengannya. Walaupun hanya sekedar jaket, aku merasa senang dan bahagia.
Ada satu cowok yang sangat sedih mendengar aku sudah tidak tinggal lagi di kota Bandung. Kota kelahiranku. Nama cowok itu adalah Gabriel atau bisa dipanggil Iyel. Ia cukup baik, pintar, dan ganteng. Dia juga sahabat terbaik kakakku sewaktu kakakku belum kuliah di tempat ini. Di kota Malang.
Sekarang aku menyadari bahwa Gabriel sangat cinta kepadaku. Akupun juga cinta padanya. Aku sudah menyimpulkan bahwa Gabriel adalah pilihan hatiku yang terakhir, dalam hidupku. Tapi, apalah daya, aku sudah berpisah dengannya, dan aku tidak tau apakah suatu hari nanti aku akan bertemu lagi dengannya.
“Ify, diluar dingin. Kok jaketnya dilepas sih?” Tanya kakakku yang bernama Kak Alvin. Ia mendekatiku dan langsung duduk disampingku.
“Nggak terlalu dingin kok kak…ternyata, tinggal di Malang enak juga ya. Pemandangannya indah, sejuk, Ify suka tinggal disini.”
Kak Alvin tersenyum mendengar perkataanku. Sudah lama ia tinggal di tempat ini. Tempat ia menuntut ilmu, tepatnya di universitas Brawijaya. Aku sangat berkeinginan kuliah disana. Mengikuti jejak kakakku.
Papa dan Mama menetap di kota ini. Papa mendapat pekerjaan baru di kota ini. Karna itulah aku. Mama, dan adikku, Deva pindah di kota ini.
Aku berfikir sejenak. Aku akan menjadi murid baru di sekolah yang belum aku ketahui namanya. Aku bisa membayangkan bagaimana rasanya aku menjadi murid baru. Rasanya begitu malu. Maju ke depan kelas sambil memperkenalkan diri. Sebenarnya, aku tak ingin pindah menuju kota ini. Aku ingin menemani Tante Rifa yang ada di Bandung sana, dan…aku masih ingin melihat senyuman ceria dari Gabriel.
Memikirkan tentang Gabriel. Ini baru hari ketiga aku berada di kota Malang. Rasanya, aku sudah sangat rindu pada Gabriel. Apalagi selama-lamanya aku berada di tempat ini. Tapi, aku harus kuat menjalani hidupku. Aku akan berusaha semampuku untuk tetap ceria, dan berdoa supaya suatu hari nanti aku diperkenankan oleh Tuhan untuk bertemu dengan Gabriel. Semoga.
“Masuk dulu Fy. Kamu kan belum sarapan.” Pinta Kakakku ketika aku tengah memikirkan Gabriel.
Aku tersadar. Aku memang belum sarapan. Kalau aku telat sarapan semenit saja, pertutku sudah melilit kesakitan. Aku melirik wajah kakakku. Aku mengangguk pelan dan langsung masuk ke dalam rumah. Ku lihat mama sedang sibuk menyiapkan sarapan. Perutku suda mulai kelaparan. Dengan cepat, aku duduk di kursi ruang makan dan langsung makan dan terus makan.
“Pelan-pelan dong kak makannya.” Kata adikku, Deva yang berada di sampingku. Tapi aku tidak memperdulikannya. Aku malah asyik makan, dan…
“Ukh…Ukh..”
Aku tersendat. Deva mentertawakanku. “Hahaha, itu akibatnya kalo nggak mau dengerin nasihat cowok ganteng plus manis kayak Deva.. Hahaha…”
“Dasar cowok narsis.” Aku sangat cemberut sambil mengusap-ngusap mulutku yang penuh dengan nasi.
“Sudah-sudah kalian berdua,, oya Fy, kata Papa, kamu akan sekolah di SMA 1 Malang. Mau nggak?” Kata Mama tanpa melihat wajahku.
 “Iya Ma, Ify mau.”
Aku sangat senang. Akhirnya, aku sudah menemukan sekolahku. Besok, aku akan bertemu teman baru, guru baru, dan juga pengalaman baru. Seketika itu juga aku melupakan Gabriel.
*****
“Ify bangun,, udah siang nih!”
Mama tengah berusaha membangunkanku. Ketika itu, aku masih memeluk boneka Teddy Bear kesukaanku. Salah satu kenagan dari Gabriel. Akhirnya, aku bangun juga dan begitu kaget. Apa? Aku telat bangun? Dengan cepat aku menuju kamar mandi tanpa menyapa Mama.
Brrr…digin sekali. Di bulan Agustus ini, udara sangat dingin. Berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Cukup membasuh muka dan gosok gigi saja. Itu lebih dari cukup. Aku nggak mau berlama-lama di kamar mandi.
Setelah memakai pakaian sekolah yang rapi, aku menuju ruang makan. Aku mengambil roti tawar saja dan langsung menuju ke mobil. Aku melihat papa yang lelah menungguiku sambil meliha jam tangannya.
“Ify, sisiran dulu.” Tiba-tiba Mama memanggilku. Wajahku cemberut kalau aku disuruh sisiran sama Mama.
“Nanti Ify sisiran di mobil. Ify janji.”
Aku berlari menuju kamarku dan langsung mengambil sisir merah mudaku. Itu bukan pemberian dari siapa-siapa. Aku membelinya sendiri di mall. Dengan cepat, aku menuju Papa.
”Maaf ya Pa karna udah lelah nungguin Ify.”
Papa hanya tersenyum kecil saja. Ia sudah terbiasa dengan sifat putrinya itu. Cepat-cepat aku menaiki mobil sambil menyisir rambutku yang awut-awutan, tanpa dengan mengaca. Aku tak peduli bagaimana rupaku nanti.
Beberapa menit kemudian, aku sudah berada di sekolah baruku. Aku diam sejenak. Memandangi sekolah baruku itu. Aku ragu untuk masuk ke dalam. Tapi, aku harus memberanikan diri untuk masuk. Untunglah Papa yang baik hati siap mengantarku masuk ke dalam sekolah.
Sampai juga aku di kelasku yang berada di lantai dua. Dengan gugup, aku segera masuk ke dalam kelas. Disana ada seorang guru yang siap membantuku untuk segera memperkenalkan diri dihadapan teman baruku.
“Namaku Ify, Alyssa Saufika Umari..”
Aku mengucapkan kata-kata itu secara perlahan dengan muka agak memerah saking malunya. Aku langsung duduk di bangku paling belakang. Kebetulan disana ada seorang cewek yang duduk sendirian. Tanpa ragu, aku duduk disampingnya dan ia menyapaku.
“Hai, namaku Sivia. Lo cantik banget. Gue lupa nih, sapa nama Lo tadi?”
“Ify.”
“Nama yang cantik, gue senang bertemu ma Lo, jadinya gue ada temen ngobrol.”
Sivia terlihat sangat bahagia atas kedatanganku di kelas ini. Aku turut berbahagia karna telah mendapatkan kawan baru yang ramah. Aku yakin Sivia nanti bakalan menjadi sahabat terbaikku. Lihat saja nanti!
*****
Hatiku girang. Hari ini kak Alvin yang menjemputku. Aku bergegas menuju mobil kak Alvin. Kak Alvin tersenyum ramah padaku. Ketika aku memasuki mobil, aku sangat kaget. Aku melihat ada cowok lain yang ikut tersenyum padaku. Bahkan senyumnya lebih manis disbanding senyuman kakakku.
“Ohya Fy, kakak belum bilang sama kamu. Ini temen sekampus kakak. Namanya Rio.”
Aku memandangi wajah teman kakakku itu. Sesaat, aku sangat tertegun melihat wajah kak Rio. Wajahnya begitu manis, manis sekali. Kak Rio menyapaku sambil tersenyum manis. Tepat dihadapanku, dan hatiku berdebar tak menentu.
“Hai! Maaf ya ganggu kamu.”
“Oh ya e,, enggak ap..apa-apa kok kak..”
Aku benar-benar tidak percaya akan berhadapan dengan orang ini. Manusia atau malaikat kah dia? Oh, seketika aku merasa bahagia. Bahagia berada di kota Malang ini. Bahagia pula karna aku telah bertemu dengan kak Rio yang sedari tadi tersenyum kepadaku.
Ada satu hal lagi yang membuatku merasa bahagia. Aku diajak berkunjung ke rumah kak Rio. Hari ini juga. Mimpikah aku ini? Tak terasa tubuhku bergetar hebat. Ada pula getaran-getaran halus yang masuk secara perlahan-lahan di dadaku. Apakah ini yabg di maksud dengan cinta? Sebelumnya, aku belum pernah merasakan hal ini sebelumnya. “Oh kak Rio, andai kata aku bisa bersamamu, aku akan menyanyikan lagu ‘pilihan hatiku’ di hadapanmu.” Kataku dalam hati.
“Hus…kita udah sampe di rumah Rio. Ngapain ngelamun?” Kata kak Alvin
Aku tersadar. “Oh ya, Ify nggak ngelamun kok kak. Kalo gitu, Ify turun dulu.”
Aku turun dengan jantung yang berdebar-debar. Rumah kak Rio tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil. Tidak mewah dan tidak jelek. Lagi-lagi kak Rio tersenyum menatap wajahku yang begitu malu.
“Selamat datang ya di rumahku. Maaf ya kalo seandainya rumah kakak jelek di matamu.” Ucap kak Rio dengan suara yang lembut
“Oh, e, i..iya. Rumah ka..kak bagus k..kok.”
Aku di ajak masuk ke dalam rumah kak Rio. Kak Alvin menyusulku dari belakang sana. Aku terheran-heran. Ada apa ya ini? Kok aku di ajak kesini? Ada masalah apa? Kak Alvin datang dan langsung duduk di sampingku.
“Ada apa kak? Kok Ify di ajak kesini?”
Kak Alvin hanya tersenyum saja. “Kan hanya sekedar berkunjung saja.”
Aku agak kesal. Aku mengira kalau kak Rio ingin membicarakan sesuatu padaku dan aku langsung menerimanya. “Duh fy, jangan begitu dong, kamu hanya gadis biasa. Tidak cocok bersanding dengan cowok tampan sepert kak Rio. Mungkin saja kak Rio sudah punya pacar. Masa’ cowok se-ganteng dia belum juga punya pacar?” Kataku dalam hati.
Puas aku berada di rumah kak Rio, aku dan kak Alvin pamit untuk pulang. Sebelum pulang, aku melihat kak Alvin membisikkan sesuatu kepada kak Rio yang tak mungkin bisa ku dengar.
“Bagaimana Yo dengan adikku?”
Rio menggangguk pelan.”Aku setuju kok Vin.”
Aku cemberut karna kak Alvin melarangku untuk mendengar bisikan yang ia sampaikan kepada kak Rio. “Nanti kamu akan tau.” Bisiknya ke telingaku. Aku mengangguk dan masih penasaran apa yang di bisikkan kakakku itu. Tapi biarlah. Suatu hari nanti, aku pasti mengetahuinya. Sesuai janji kak Alvin.
*****
Pagi hari yang cerah. Baru beberapa minggu saja, aku sudah aktif di sekolah baruku. Aku juga banyak mendapatkan teman baru yang tak kalah ramahnya dari Sivia. Aku mengikuti ekskull vocal group karna aku pandai menyanyi. Suaraku bagus kata teman-temanku.
Ada satu sahabatku yang dekat denganku selain Sivia. Namanya Mia. Cewek itu juga cantik. Rambutnya panjang melebihi pingganggnya. Mia sering di olok Rapunzel oleh teman-temannya. Apalagi yang cowok.
“Heh, gue laper nih. Ke kantin yuk? Ajak tuh Rapunzel.” Kata Sivia
“Iya deh,”
Aku menuruti ajakan Sivia. Lagipula perutku sudah mulai kelaparan. Aku memanggil Mia yang daritadi tersenyum aneh. Kenapa tuh anak? Dari tadi senyum-senyum melulu? Mia mendekatiku sambil tersenyum bahagia. Senyuman yang membuatku penasaran. Aku memang ciri-ciri orang yang penasaran.
“Kenapa sih Lo ini? Senyam-senyum dari tadi?”
Lagi-lagi Mia tertawa kecil. “Hahaha,, nanti gue kasi tau. Ada apa Lo manggil gue?”
“Ikut ke kantin yuk ma gue n’ Sivia.”
Mia mengangguk. Malahan, Mia berjanji akan mentraktirku juga Sivia. “Wah-wah, bener-bener cewek aneh. Padahal gue yang ajak eh malah dianya yang mentraktir gue.”
“Hus..Ini keberuntungan kita lho. Jarang banget Mia berbuat baik ke kita-kita.” Kata Sivia
Mia hanya tertawa lagi. Aku bingung sikap tuh cewek. Nanti juga gue akan tau. Aku, Sivia, dan Mia langsung berjalan menuju kantin.
*****
“Lo mau pesan apa?” Tanya Mia kepadaku
“Mie gorena sama juice orange aja deh.”
“kalo Lo Siv, mau pesan apa?”
“Bakso sama juice strawberry.”
“Oke, gue yang pesenin. Kalian berdua nunggu aja ya.”
Aku dan Sivia menggangguk. Nggak biasanya Mia bersifat kayak gitu. Biasanya, kalau mau di ajak ke kantin, dia sering nolak. Aku makin penasaran. Ku lihat Sivia hanya biasa-biasa saja. Tidak terlalu penasaran seperti aku.
Beberapa menit kemudian, pesanan datang. “Tumben Lo beli soto. Biasanya, Lo nggak demen soto.” Kata Sivia kepada Mia
Mia hanya tersenyum kecil dan langsung memakan soto tanpa menjawab pertanyaan Sivia. Sivia kesal pada Mia.
“Kalian pengen tau kenapa sikap gue berubah 180 derajat?” Tanya Mia
“Pengen-pengen.” Jawabku
“Denger baik-baik ya cerita gue. Kalian kenal nggak sama Ary?”
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku tanda tidak tau. Tapi Sivia tau. Aku kan baru disini, mana kenal yang namanya Ary. Teman sekelas ku saja belum semuanya yang aku kenal.
“Emang ada apa dengan cowok pujaan hati Lo itu? Ooo, gue tau, pasti Lo di tembak kan sama Ary? Ayo nagku-ayo ngaku, makanya hari ini Lo bahagia.” Kata Sivia
Muka Mia memerah. Benar apa yang dikatakan sama Sivia. Memang benar Ary, pujaan hati Mia telah menembak Mia dua hari yang lalu.
“Ah Lo Siv, Lo tau aja, gue jadinya malu nih.”
Aku hanya diam mendengar perkataan Sivia dan Mia. Seketika itu juga aku mengingat Kak Rio. Ya, dia telah menjadi pujaan hatiku. Andai saja diriku seperti Mia. Tentu saja aku senang, ditembak cowok yang menjadi sang pujaan hati.
“Gue..gue juga punya pujaan hati. Dia gaaanteeengg banget. Maaaniiiisss banget. Tapi, gue nggak tau apa pujaan hati gue itu suka sama gue.” Aku berkata dihadapan kedua sahabatku ini secara tak sengaja. Aku juga nggak tau mengapa tiba-tiba kalimat itu yang aku ucapkan pada kedua sahabatku.
“Hemm, sapa namanya? Kok gue baru tau sih? Anak mana dia?” Tanya Mia
“RAHASIA. Pokoknya, dia nggak sekolah disini dan dia udah tamat SMA. Dia sekarang sedang kuliah sama kakak gue.”
Sivia dan Mia tertawa terbahak-bahak. Aku terheran-heran. Apanya yang lucu? Apa kata-kataku tadi tidak cocok untuk di keluarkan sehingga menjadi lelucon ria di kedua sahabatku ini?
“Hahaha, anak kuliahan? Nggak cocok ah. Lo itu masih kecil.” Kata Mia
“Emang kenapa? Gue liat, cowok pujaan hati gue itu masih kayak anak-anak SMA kok. Nggak tua-tua gitu kayak papi Lo.”
“Alah Lo ini, papi gue itu masih muda tau dibanding papi Lo.”
“Sudah-sudah. Kok malah ngomongin papi papi segala. Ya udah deh Ify ku yang manis, mudahan aja cinta Lo itu akan terwujud. Bagaimanapun orangnya. Gue tetep seneng kok.” Kata Sivia. Perkataan Sivia itulah yang membuat hatiku sejuk dan ingin berusaha untuk mendapatkan cowok inpianku. Harus!         
*****
Dear Diary
Aku senang sekarang karna aku telah bertemu dengannya. Dulu, aku hanya membayangkan sosoknya saja. Tapi sekarang, aku nyata bertemu dengannya. Aku telah berusaha memberikan senyuman terindah yang hanya untuknya, dan aku berhasil.
Hari itu, tanggal 24 April, hari yang bersejarah bagiku. Hari yang selalu kuingat dalam hidupku. Hari dimana aku telah bertemu dengannya. Hari dimana aku dapat memberikan senyuman untuknya, dan dia hanya tersipu malu melihat senyumanku. Apa aku ini terlau gombal?
Tuhan,Kau telah memberikanku sebuah cinta. Aku sudah merasakan apa itu cinta. Tapi Tuhan, izinkanlah aku untuk bersamanya. Aku ingin sekali bersamanya. Dalam suka dan duka. Aku ingin cepat-cepat pergi ke rumahnya dan langsung memberikannya bunga mawar merah yang paling indah.
Apakah aku mampu bertahan hidup di dunia ini? Apakah aku mampu bertahan menjalani cobaan berat ini? Beberapa Tahun yang lalu, tanggal 16 Agustus, hari itu adalah hari yang paling menyedihkan dalam hidupku. Aku divonis menderita penyakit jantung. Penyakit yang sungguh-sungguh mengerikan dalam hidupku.
Waktu itu, aku masih SMA kelas 2. Aku masih seceria seperti anak remaja lainnya. Tiba-tiba, tubuhku melemah. Dadaku nyeri. Aku pingsan. Untung saja aku sedang berada di rumah Tanteku yang ada di Surabaya. Waktu itu aku liburan semester.
Aku tersadar beberapa saat. Melihat tempat sekelilingku. Aku melihat Tanteku yang sedari tadi sedang menangis. Hatiku iba. Tanteku sangat bersedih. Aku menyadari kalau aku menderita penyakit jantung. Aku seperti ingin pergi dari dunia ini. Tapi aku tidak tega. Melihat mama dan papaku menangis tersedu-sedu, karna aku anak tunggal. Ya, aku anak tunggal.
Aku berusaha menenangkan Tanteku. Akhirnya, dia tenang juga. Aku berusaha semampuku untuk berbicara. Walaupun kondisiku sangat lemah. “Tante, apakah mama dan papa tau kalau aku menderita penyakit ini?” Tanteku menjawab dengan sedih. “Belum.” Oh, syukurlah , batinku. “Tante, plis ya jangan kasih tau penyakitku ini pada mama dan papa. Bilang aja kalau aku terkena penyakit tifus.” Tanteku hanya menggangguk pelan. Tanpa bertanya sedikitpun.
Dann..sampai saat ini kedua orangtuaku tidak mengetahui kalau aku terkena penyakit jantung. Hanya aku, Tanteku dan Tuhan yang mengetahui penyakit ini. Tapi aku masih bersyukur diberi kesempatan oleh Tuhan untuk dapat menghirup udara segar di dunia. Hari itu, tanggal 1 September, dokter mengatakan kalau jantungku baik-baik saja. Tapi, tidak selamanya. Dokter mengatakan, “Suatu saat nanti jantungmu akan terasa sakit serta tidak berfungsi lagi, maka kamu perlu mencari donor jantung supaya kamu selamat.”
Tuhan, mengapa Engkau memberikan cobaan yang berat ini padaku? Apa sebenarnya salahku sampai-sampai aku menderita penyakit ini? Kau tidak boleh begitu. Kau harus bersyukur pada Tuhan karna saat ini jantungmu tidak terjadi apa-apa.
Harapanku untuk-Mu Tuhan, semoga aku diberi umur yang panjang setidaknya ketika aku sudah memberi bunga mawar kepada orang yang ku cintai. Aku ingin melihatnya tersenyum padaku. Aku cinta dia Tuhan. Aku sayang dia Tuhan. Semoga Engkau mengirim cintaku padanya, di dalam mimpi indahnya.
Maafkan aku ya kalau aku banyak salah sama kalian, seandainya aku telah tiada, ku harap kalian tidak terlalu sedih memikirkanku. Anggap saja aku tidak pernah berada di dunia ini. Selesai.
*****
Angin berhembus kencang. Memasuki jendela kamarku yang belum ku tutup tadi. Aku beranjak menutup jendela. Tak sengaja aku melihat gugusan bintang di langit. Bintang yang bertebaran dengan indahnya di langit. Perlahan, aku menutup jendela kamarku. Tiba-tiba, ada pesan masuk di HP ku.
Malam!
 Lo udah kerjain PR dari bu Syifa nggak?????
Aku lupa. Aku belum mengerjakan PR yang diberikan oleh bu Syifa lusa lalu. Cepat-cepat aku membalas pesan Sivia.
Belum,,, kelupaan.
Ya udh deh, gue mo kerjain skrg.
Mumpung gue blm ngantuk.
Aku mengambil buku paket matematika dan langsung mengerjakannya dengan teliti. Tak ku duga, ternyata kak Alvin datang ke kamarku. Ia melihatku sedang mengerjakan tugas.
“Bisa kakak bantu?”
“Nggak deh kak.”
Aku mengerjakan tugasku dengan teliti. Tiba-tiba bayangan wajah kak Rio hadir di dalam pikiranku. Aku tersenyum sendiri. Ingin rasanya aku menulis surat kepada kak Rio agar ia tau sebagaimana perasaanku terhadapnya.
“Lo kok senyum sendiri sih?”
“Ada deh pokoknya.”
“Lagi mikirin cowok ya?”
Aku kaget dengan pertanyaan kakakku. Lagi mikirin cowok? Kok dia bisa tau? Aku tidak berani berkomentar apa-apa tentang pertanyaan kakakku.
“Hehehe, pasti mikirin Gabriel kan? Udah dah fy, jangan pikirin dia lagi. Pikirkan saja masa depanmu. Jangan mikirin cowokmu itu aja.”
Idih, kakakku yang sok tau. Sejujurnya aku hampir melupakan Gabriel. Kini, bayangan Gabriel telah tergantikan oleh sosok kak Rio yang dari tadi hinggap di pikiranku. Tapi jika dipikir-pikir, kasian juga Gabriel. Dia menangis ketika aku berpisah dengannya. Apalagi kalau dia tau bahwa aku telah jatuh cinta kepada cowok lain. Pasti hatinya sakit.
Kak Alvin lelah menunggu jawabanku, dan dia langsung pergi meninggalkan kamarku. Hatiku lega. Aku paling nggak suka ngomongin cowok di hadapan kakakku.
Akhirnya selesai juga tugas dari bu Syifa. Rasa kantukku tiba-tiba datang begitu saja. Aku bergegas merapikan alat tulisku dan langsung merebahkan tubuhku di kasur. Bayangan kak Rio hadir lagi di pikiranku bersamaan dengan bayangan Gabriel. Dua orang yang amat ku cintai. Aku bingung mau pilih yang mana.
*****
Aneh. Tumben Bu Siska memanggilku ke ruangannya. Tanpa ba-bi-bu, aku segera menuju ruangan Bu Siska. Bu Siska tersenyum ketika melihat kedatanganku. Aku jadi terheran-heran.
“Ada apa Bu?”
Bu Siska menghela nafasnya. “Minggu depan, ada acara penting di Taman Budaya. Sekolah kita di undang untuk memeriahkan acara itu. Ibu ingin kamu tampil di acara itu. Kamu kan pinter nyanyi.”
Aku diam sesaat. Mau tidak mau aku harus tampil di acara itu. Aku kan ikut paduan suara? Ya wajiblah aku tampil di acara itu.
“Baik Bu.” Jawanku singkat. Tanpa ada beban sedikitpun.
Bu Siska tersenyum bahagia.”Ya udah deh. Mudah-mudahan nantinya kamu tampil dengan bagus. Tanpa ada kesalahan.”
“Baik Bu.”
Aku minta izin keluar dari ruangan Bu Siska. Aku berfikir keras. Inilah kesempatanku untuk menyanyikan lagu favoritku. “PILIHAN HATIKU” kepada orang yang ku cintai, dan aku berharap pula supaya kak Rio hadir di acara itu. Aku berlari-lari riang menuju kelasku.
“Ada apa Fy? Wah, apa Lo udah di tembak sama Mr. Rahasia itu?” canda Mia
“Enggak juga kok, gue disuruh Bu Siska untuk hadir di Taman Budaya. Katanya disana ada acara, dan gue disuruh nyanyi disana.”
“Hebat dong, gue nanti boleh nonton ya?” kata Sivia
“Iya Siviaku…”
Aku mencubit pipi Sivia. “Aw.” Jeritnya. Aku dan Mia tertawa. Sivia mengelus-ngelus pipinya yang kesakitan.
“Boleh tau, Lo mau nyanyi lagu apa?” Tanya Sivia
“Geisha, pilihan hatiku.”
“Pasti Lo mau nyanyiin lagu itu ke pujaan hati Lo ya? Hahaha..” kata Mia
Aku tidak menjawab pertanyaan Mia. Aku hanya tersenyum girang saja. Mia dan Sivia menatapku dengan tatapan penasaran. Nanti mereka akan tau, pikirku.
*****
“Lagi apa ya dia sekarang?” pikirku dalam hati sambil menggoyang-goyangkan pulpen merah mudaku. Aku sedang menulis surat untuk kak Rio ku tercinta. Semoga saja dengan surat itu, kak Rio mengerti perasaanku terhadapnya. Tapi jika dipikir-pikir, aku sangat malu jika menulis namaku di surat itu. Yeah, jangan ditulis aja.
Akhirnya, suratku jadi juga. Ku lipatkan surat itu ke dalam amplop putih. Aku bisa membayangkan wajah kak Rio yang sedang tersenyum manis padaku.
“Lo mau kemana fy?” Tanya kak Alvin menghadangku
“Eee, ke rumah teman. Ify pergi dulu ya..”
“Ya udah. Ohya, kata mama, Lo mau tampil ya di taman budaya?”
Aku menggangguk pelan. “Hehehe, nanti gue pasti datang bareng sahabat gue.”
“Siapa?”Tanya aku penasaran
“Rio lah, siapa lagi selain Rio..”
Hatiku terasa bahagia. Kak Rio, ternyata akan datang juga. Apa reaksinya ya kalau ia melihatku menyanyi di panggung? Aku bergegas pergi meninggalkan kak Alvin. Rumah kak Rio tidak terlalu jauh dari rumahku. Jadi, aku hanya berjalan kaki saja sambil memandangi sepucuk surat kecilku.
*****
Aku melihatnya. Aku benar-benar melihatnya sekarang dengan kedua bola mataku sendiri. Dia, kak Rio, dia sedang bermain basket di halaman rumahnya yang cukup lebar. Caranya bermain bagus sekali. Aku sudah tau kalau kak Rio sering menang lomba bermain basket.
Bunyi pantulan basket memasuki telingaku. Sudah sepuluh menit lebih aku melihatnya bermain basket. Aku berfikir sejenak. Bagaimana cara aku memberi surat ini? Apa aku lempar saja di pagarnya? Yap, itu harus. Tidak ada cara lain selain itu.
Oh tidak! Dia melirikku. Aku cepat-cepat memalingkan wajahku ke arah lain. Betapa malunya diriku. Jantungku sampai berdetak tak menentu. Tapi syukurlah, ia tidak mempedulikanku. Ia masih saja bermain basket dengan riang.
Tanpa berfikir panjang lagi, cepat-cepat aku menaruh surat itu di dekat pagar kak Rio dan berharap supaya surat itu di baca oleh kak Rio, meskipun namaku tidak terpampang disana. “Selamat membaca ya Kak Rio.” Ucapku dalam hati. Sebenarnya, aku masih betah melihat kak Rio bermain basket. Tapi aku harus cepat-cepat pergi dari tempat itu.
*****
Untuk  Orang Yang Ku cinta, ‘RIO’
Apa kabar Yo? Semoga kau panjang umur dan sehat selalu. Aku disini baik-baik saja. Ku harap, kamu juga begitu. Kamu pasti tidak suka datangnya surat ini ya? karna aku tidak bisa menulis surat ini dengan baik. Aku akui itu.
Yo, aku ingin memberimu sebuah lirik lagu. Baca ya:

Berdiri ku disini hanya untukmu
Dan yakinkan ku untuk memilihmu
Dalam hati kecilku inginkan kamu
Berharap untuk dapat bersamamu

Aku kan ada untuk dirimu
Dan selalu tuk mu

Terlukis indah raut
Wajahmu dalam benakku
Berikan ku cinta terindah
Yang hanya untukmu

Tertulis indah puisi cinta
Dalam hatiku
Dan aku yakin kau memang
Pilihan hatiku

Kau tau sebagaimana perasaanku kepadamu? Yo, jujur aku akui, aku sangat sayang padamu, aku sangat cinta padamu, dan aku BERHARAP UNTUK DAPAT BERSAMAMU.
Intinya dari surat pendek ini, aku ingin mengungkapkan rasaku padamu bahwa aku SANGAT MENCINTAIMU.
Itu saja surat pendek dan jelek dariku, maaf kalo ada suatu kesalahan, oh ya, jangan lupa datang hari sabtu sore di Taman Budaya, disana ada AKU yang siap menungguimu.
Love u Rio :D
From: Orang yang tidak kamu ketahui
 Rio menatap lembaran surat itu. Hatinya tidak tergerak sedikitpun pada surat itu. Biasanya, jika ada orang yang suka padanya, orang itu langsung mengungkapkan perasaan cintanya, bukan melalui sebuah surat.
Tunggu, acara di Taman Budaya? Bukannya Alvin akan mengajaknya datang kesana? Benar. Alvin mengajaknya kesana di waktu yang sama pula dengan surat itu.
Rio menutup surat pendek itu dan menyimpannya di laci mejanya. Ia membayangkan, kalau seandainya orang yang ia cintai mengirim surat itu, betapa malunya dirinya. Seharusnya, ia yang harus menyampaikan perasaannya duluan kepada orang yang dicintainya.
“Tenang ya Yo, Kamu harus bisa mengungkapkan perasaan cintamu kepadanya, orang yang selama ini kamu cintai, sebelum waktuku di dunia habis.” Ungkap Rio dalam hati. Ia tak tau mengapa kata-kata itu hadir di dalam pikirannya. Apakah ini tanda-tanda ia akan meninggalkan dunia?
*****
Hari yang di tunggu-tunggu telah tiba. Kini saatnya aku akan tampil di acara Taman Budaya. Hatiku berdebar-debar jika nantinya aku akan menyanyikan lagu ku itu. Lagu yang ku khususkan untuk Kak Rio, dan lebih mendebar-debarkan lagi, kak Rio akan menumpang mobil kak Alvin sekarang ini juga. Jadi, aku dapat melihatnya lagi untuk yang ketiga kalinya.
Sampailah aku di rumah kak Rio. Kak Alvin memanggil kak Rio keras-keras. Akhirnya Rio membuka pintu dan langsung menemui aku dan kakakku. Aku menatap wajah kak Rio dengan gemetar. Timbul pertanyaan di dalam pikiranku. Sudahkah ia membaca suratku?
“Hai Fy!” Sapa kak Rio dengan penuh senyuman yang manis
“Hai juga kak!” Balasku apa adanya
Jantungku berdebar-debar sekali. Tidak seperti tadi, sebelum kak Rio datang di mobil ini. “Kau harus bisa Fy, jangan malu gitu!” ucapku dalam hati. Ya, aku memang malu. Mukaku saja sudah sangat pucat. Apalagi nanti sewaktu aku tampil. Tuhan, kuatkanlah hamba-Mu ini!
*****
Tak terasa aku sudah sampai di Taman Budaya. Jantungku kian bertambah berdebar-debar lagi. Mukaku kian pucat. Kak Alvin menatapku dengan khawatir.
“Lo nggak apa-apa Fy?”
“Oo, nggak apa-apa kok kak.”
Aku berbohong kepada kakakku. Kini, tiba saatnya aku bersiap tampil di muka umum. Dengan jantung yang berdebar-debar, aku menaiki panggung sambil menghela nafas panjang. Dari jauh, aku melihat teman-temanku termasuk Sivia dan Mia. Mereka sedang bertepuk tangan. Aku tersenyum tipis. Tiba-tiba jantungku berdebar-debar lagi karna kak Alvin dan kak Rio menduduki kursi yang paling depan.
“Fy, kamu pasti bisa. Ini demi kak Rio.”Ucapku dalam hati
Alunan musik kini berbunyi. Aku berusaha semampuku untuk bisa menyanyi dengan sebaik mungkin. “Lagu ini kupersembahkan untuk orang yang aku sayangi dan dia sedang melirikku sekarang dengan senyuman yang manis.” Gila? Darimana aku mendapat kata-kata aneh itu? Secara tidak sadar aku mengucapkan kalimat itu. “Oke Fy, kita mulai.” Ucapku dalam hati.

Berdiri ku disini hanya untukmu
Dan yakinkan ku untuk memilihmu
Dalam hati kecilku inginkan kamu
Berharap untuk dapat bersamamu

Aku kan ada untuk dirimu
Dan selalu tuk mu

Terlukis indah raut
Wajahmu dalam benakku
Berikan ku cinta terindah
Yang hanya untukmu

Tertulis indah puisi cinta
Dalam hatiku
Dan aku yakin kau memang
Pilihan hatiku
Aku menyanyikan lagu itu sebisaku sambil menitikkan air mata. Aku berhasil menyanyikan lagu itu dihadapan orang yang ku cinta. Ya, aku berhasil. Semua yang hadir di tempat itu bertepuk tangan padaku. Terutama kakakku.
Seseorang melihat wajahku tanpa sepengetahuanku. Tak terasa dia bersedih mendengar lagu itu. Air matanya tak berhenti menetes. Ia ingat surat itu yang didapatkannya beberapa hari yang lalu. Di dalam surat itu ada sebuah lagu yang sama persis dinyanyikan oleh Ify. “Apakah Ify yang mengirimkan surat itu padaku?” Oh, kalau saja benar, betapa bahagia hidupnya. Orang yang ia cintai telah mencintainya pula. Apakah ini yang dinamakan dengan cinta sejati?
“Owh.” Dadanya terasa sakit sekali. Ia menjerit kesakitan. Tapi, ia usahakan untuk tidak menjerit supaya orang-orang tidak tau bahwa ia mederita penyakit mengerikan, yang menyangkut nyawanya. “Tuhan, jantungku, kenapa sakit begini? Apakah aku akan mati?”Ucapnya dalam hati
“Eh Yo, Lo kenapa?” Tanya sahabatku, Alvin
“Nggak apa-apa kok Vin.” Ia berusaha untuk tersenyum. Sakitnya tidak terlalu parah. Mungkin Tuhan memberinya izin untuk segera mengungkapkan perasaan cintanya pada orang yang ia cinta.
*****
Ia menatap wajahnya sekilas di depan cermin nan bening. Wajahnya begitu tampan. Sangat tampan. Disamping tampan, ada gambaran pucat di wajahnya. Kini hidupnya di dunia tinggal sebentar lagi, ia sudah merasakannya. Tiba-tiba, air matanya yang bening membasahi pipinya secara perlahan-lahan.
“Tuhan, mengapa aku ditakdirkan untuk menerima penyakit ini? Mengapa? Seandainya ada pertukaran nasib, jika Kau ingin wajahku menjadi jelek tapi penyakit jantungku sembuh, aku menerimanya. Aku tidak ingin meninggalkan dunia ini. Kasian mama dan papaku, mereka sendirian di rumah mungil ini, tanpa kehadiranku.”
“Rio..???” Ada suara lembut memanggil namaku
“Ya ma?”
“Kok mukamu pucat sih? Ada apa?”
“Rio Cuma kelelahan saja. Soalnya tugas kuliah Rio banyak sekali.” Katanya berbohong
“Kalau ada masalah, beritahu mama ya.”
Aku mengangguk pelan. Mamaku tersenyum manis padaku. “Oh, aku tidak ingin meninggalkan mama, dan senyumannya yang sangat manis, Tuhan, sembuhkanlah penyakitku ini.”
Ia mengambil surat kecil di lacinya. Itu pasti surat dari ify, pikinya. “Aku harus mengungkapkan perasaan cintaku kepadanya. Harus. Sebelum waktuku di dunia habis.” Tekadnya.
Cepat-cepat ia mengambil jaket abu-abunya dan langsung pergi ke toko bunga. Hari ini cuaca sangat tidak mendukung. Angin berhembus kencang. Dadanya terasa sesak ketika angin berhembus ke tubuhnya. Tapi demi cintanya, ia harus pergi ke toko bunga. Walaupun badai kencang melawannya.
*****
Ia memegang setangkai bunga mawar merah. Baunya sangat harum. Walaupun bukan bunga asli, tetapi baunya tetap harum baginya. “Owh.” Rintihnya seketika. Dadanya terasa sakit. Bahakan terasa lebih sakit dari sebelumnya. Kepalanya juga terasa pusing. Tiba-tiba ia terjatuh.
“Adik tidak apa-apa?” Tanya penjual bunga
“Bunga, aku harus memberinya bunga.” Katanya secara tidak sadar. “Tuhan, jangan sekarang, jangan sekarang, berilah aku sedikit waktu saja.” Rintihnya dalam hati.
Matanya kini tertutup rapat. Tapi ia masih memegang setangkai bunga mawar itu. Benar, bunga mawar itu masih ada di tangannya.
*****
“Oh tidak!”
Aku bermimpi buruk, sampai-sampai keringatku bercucuran membasahi sekujur tubuhku yang ketakutan. Mimipiku sangat mengerikan. Entah dalam mimpi itu aku melihat kak Rio sedang dililit ular cobra yang ganas. Ular itu meremas-remas tubuhnya sampai hancur. Apa ini ada kaitannya dengan kak Rio?
Sore ini terasa sangat aneh bagiku. Cuaca tidak mendukung. Di rumah sangat sepi. Semuanya menghilang entah kemana. Hanya Bi Ima saja yang masih ada di rumah.
“Bi, dimana kak Alvin?” Tanyaku panik
“Tadi dia kasih tau bibi, dia mau pergi ke rumah sakit. Katanya ada temannya yang sakit.”
Deg. Hatiku terasa sakit sekali. Walaupun aku belum tau siapa teman kak Alvin yang sakit. Cepat-cepat aku menelpon kak Alvin.
“Halo kak, kakak ada dimana?”
“Di rumah sakit Lisa.”
“Si..siapa yang s..sakit?”
“Rio.. kakak ada di ruang 8F.”
Suara bantingan HP ku terasa keras. Aku memang tak sengaja menjatuhkan HP ku ketika mendengar jawaban kak Alvin yang menusuk-nusuk jantungku. Untung saja aku tidak pingsan. Dengan hati yang tertusuk-tusuk, aku segera pergi ke rumah sakit. Menemui orang yang sangat ku cintai.
*****
Aku melihatnya terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Matanya masih mengatup. Tapi, wajahnya masih saja terlihat tampan. Walau tak seperti biasanya. Aku mendekati kak Alvin dan seorang wanita setengah baya yang kini menangis tersedu-sedu. Mungkin wanita itu mamanya kak Rio. Tak terasa air mataku ikut terjatuh.
“Oh tidak! Kak Rio!”
Hatiku bak bawang yang teriris-iris dengan pisau yang lancip. Air mataku mengalir dengan derasnya, seperti air hujan yang tidak pernah berhenti turun. Aku memegang tangan kak Rio yang sangat lemas dan dingin. Air mataku jatuh di tangannya.
“Kak, kenapa kakak sakit? Kenapa? Ify nggak rela kak. Ify nggak bisa hidup tanpa kehadiran kakak, karna, Ify sayang sama kakak. Sadar kak, sadar, Ify mohon supaya kakak sadar.”
Aku mengis tersedu-sedu. Hanya Tuhan yang dapat membangunkannya. Ajaib. Tuhan mengabulkan doaku. Kedua bola matanya kini terbuka secara perlahan-lahan. Mulutnya seperti ingin membicarakan sesuatu.
“Fy..” ucapnya lembut. Dadaku berdesir.
“K..kak Ri..Rio..?”
“Kamu disini? A..aku ingin mem..memberimu se..sesuatu.”
Dengan bersusah payah, kak Rio mengambil setangkai bunga mawar merah di samping ranjangnya. Sungguh indah bunganya. Ia memberikan kepadaku. Hatiku terpaku. Aku tak dapat bicara sedikitpun.
“Ambil bunga ini Fy, bunga ini hanya untukmu. Sebenarnya, ha..hari ini ak..aku ingin me..menembakmu, tapi..tapi usiaku di dunia ki..kini sudah ha..habis. Aku tak mampu lagi hi..hidup di dunia ini,aku..aku beruntung karna Tuhan masih mem..memberiku izin untuk bi..bisa mem..memberikan setangkai bu..bunga mawar ini pa..padamu, jadi, te..terimalah bunga ini..”
Dadaku terasa sesak. Aku menerima bunga itu dengan hati yang teriris-iris. Tak mampu lagi mulutku untuk mengeluarkan sepatah kata. Ternyata, kak Rio begitu mencintaiku, dan aku baru menyadarinya sekarang.
“Kak, Ify juga ingin bilang kak. Kalo Ify yang memberikan surat itu kak…”
“Kau Fy ya..yang memberi surat itu..?”
Aku mengangguk pelan, dan ia pun tersenyum.
“Fy, aku ju..ga sa..sayang k..kamu..” Suaranya kian melemah dan semakin melemah hingga kedua bola matanya yang indah tertutup pelan secara perlahan bersama senyuman yang manis. Senyuman yang makin lama makin pudar. Aku tak tahan ingin berteriak keras.
“Jangan tinggalin Ify kak Yo..jangan..Ify nggak bisa hidup tanpa kak Yo..Kalo kak Yo cinta sama Ify, kenapa baru sekarang kak Yo kasi tau ke Ify? Kak Yo, Ify sayang sama Kak Yo…”
Percuma saja aku berteriak keras.Tetap saja kak Rio menutup mata. Aku tak tega melihatnya seperti itu. Tittt… aku melihat suatu alat yang tak ku ketahui namanya. Tapi aku mengerti. Mulai sekarang, dia akan meninggalkan dunia ini. Berjalan menuju dunia lain yang tak kukeahui bagaimana rupanya. Air mataku menetes deras. Aku tak percaya dia telah tiada.
“Kak.. Jangan pergi..” Teriakku keras. Kak Alvin memeluk tubuhku dengan erat. Mencoba untuk menenangkanku. Tapi tetap saja aku menangis, dan aku ingat setangkai bunga mawar tadi. “Ya, aku harus menjaga bunga ini..” Kataku dalam hati sambil mencium bunga mawar itu.
*****
Hari ini berbeda dari hari sebelumnya. Aku merasakan perbedaan yang sangat berbeda. Air mataku tetap saja mengalir, walau tak sebanyak tangisanku kemarin. Kini, tiada lagi senyuman, canda, tawa, dari kak Rio. Yang tersisa hanya kesedihan yang luar biasa, perih di hatiku, juga setangkai bunga terakhir darinya. Bunga itu membuat diriku kuat memulai kehidupan baru. Tanpa adanya sosok pemberi bunga itu.
Tak terasa sudah hampir setahun aku berada di kota Malang. Namun, kesedihan masih saja menghantuiku. Aku mencoba mencari orang lain sebagai pengganti kak Rio. Tapi, tak ada satupun orang yang cocok menggantinya.
Pernah ada rasa cinta antara kita kini tinggal kenangan
Ingin kulupakan semua tentang dirimu
Namun tak lagi kan seperti dirimu oh kekasih…
Tit… HP ku bordering keras. Aku kaget. Pagi-pagi buta sudah ada yang menelponku. Ku ambil HP ku yang berada di meja belajar. Hatiku bergetar. Ternyata itu suara Tante Rifa. Tumben dia telpon aku. Nomornya baru lagi, dan aku sangat rindu pada tante yang satu ini.
“Apa kabar Tan?”
“Baik, kalau kamu sendiri gimana?”
“Baik juga Tan, kok ganti nove sih?”
“Iya, soalnya HP tante yang dulu rusak. Fy, tante ingin memberitahu hal penting padamu. Sesuatu yang harus kau pilih dengan hati nuranimu. Tapi lewat sms aja ya?”
“Baik tante..”
Wuih, cepat banget dia memutuskan sambungan. Sebenarnya, aku ingin berbicara banyak tentang dirinya, teman-temanku yang ada di Bandung, tapi ya sudahlah. Toh aku bisa telpon dia lagi. Kaya’ nggak ada waktu saja. Ya, hatiku sangat gembira pula. Sudah lama aku tidak mendengar suara lembut tante Rifa. Perlahan-lahan, aku rindu kota kelahiranku. Rindu akan kenangan-kenangan manis dari kota itu.
Tit..Tit..Tit..Tit.. Ada pesan masuk di HPku. Aku yakin itu dari tante Rifa. Benar juga. Itu dari Tante Rifa. Hatiku berdebar-debar karna ingin tau apa yang akan disampaikan oleh tante Rifa.
Baca ya sms tante. Smoga km tdk kberatn mmbca psn sngkt ini
Fy, sdh lama tante tdk mlht wjhmu yg cantik. Hmpr sethn pnh tante blm mlht snyumn manismu. Tante ksepian di rmh tnpa kehadiranmu. Sbnrnya, tante ingin km tnggal di rmh tante. Tp oratuamu melarang. Ya bgaimanapun jg tante tdk bsa mncegahmu lg. Tp, tante sdh bicara dg orgtuamu akn keinginan tante supaya km tnggal di rmh tante n’ orgtuamu setuju. Mngkn sj skrg km sdh dewasa, bsa bertanggung jwb sndiri. Skrg, tante memohon kpdmu agar km tnggal di rmh tante. Ceriakanlah hari2 tante, bahagiakanlah tante..
Gtu sj dri tante, mav yak lo ada kata2 yg tdk baik dari tante.
Ya benar. Tante Rifa tinggal sendiri. Suaminya sudah meninggal kira-kira sewaktu aku masih SD. Sudah sangat lama bukan? Dan tante Rifa belum juga memiliki anak. Kasian juga dia.. Aku sudah menganggap tante Rifa sebagai ibu kandungku sendiri. Hah, aku bingung mau jawab apa. Lebih baik, aku musyawarahan saja bersama keluargaku. Agar pilihanku tidak aku sesalkan.
Nnti dh Ify jwb yya…
Love tan…
Jawaban yang sederhana. Jika seandainya aku menerima keinginan tante, aku yakin kalau aku tak akan bisa kuliah di brawjaya. Ah sudahlah. Tapi sejujurnya aku ingin tinggal dengannya. Tak peduli aku akan bersekolah dimana. Cepat-cepat aku berlari menemui orangtuaku.
****
Yeah, aku sudah menceritakan keinginan tante Rifa kepada kedua orangtuaku yang tertunya pasti sudah tau dari dulu sebelum aku mengetahui masalah itu. Orangtuaku menyuruh aku tinggal disana, menemani hari-hari tante Rifa. Disini kan masih ada kak Alvin dan deva yang menemani orangtuaku.
Setelah difikir-fikir secara matang, aku menerima tawaran tante Rifa. Ya, tante Rifa sangat senang mendengar jawaban dariku. Dia tak kesepian lagi. So, selamat tinggal Kota Malang! Akan ku kenang selalu tempat ini. Terutama…terutama…tiba-tiba air mataku jatuh lagi. Aku teringat kak Rio. Mana mungkin aku bisa hadir di pemakamannya, sedangkan aku kini akan tinggal di Bandung. Hah, sabar Fy. Masih ada bunga mawar merah yang menemanimu, dimanapun kamu berada, dan aku yakin kak Rio pasti bahagia, karna aku bahagia. Begitu pula sebaliknya, jika aku sedih, tentu saja kak Rio akan sedih.
Akhirnya, sampailah aku di bandara Husein Sastranegara. Aku tak percaya. Sungguh tak percaya. Sekarang, hari ini, mulai saat ini, aku akan tinggal di kota kelahiranku. Tak ku sadari, ada seseorang wanita dari jauh memanggilku cukup keras. Itu..  tante Rifa! Aku bergegas menuju tante Rifa. Perasaan rindu, kangen, haru, dan bahagia kini bercampur menjadi satu. Tante Rifa memeluk tubuhku dengan sangat erat. Lebih erat dari pelukan mamaku sendiri. Kak Alvin yang menantarku kemari juga sangat terharu karna pertemuan ini. Setelah lama berpelukan, tante Rifa mencium keningku.
“Fy,kau makin cantik saja.” pujinya membuat pipiku memerah
“Ah tante ini..”
“Lha ini bang Alvin to? Guanteng banget.” Pujinya lagi kearah kakakku
“Makasih tan..”
“Ayo-ayo, tante bawa mobil sendiri kok. Tante akan ngajak kalian berdua ke rumah tante.”
Aku dan kak Alvin mengangguk girang. Baru kali ini aku melihat tante Rifa kegirangan. Biasanya dia suka bersedih dan murung. Gak tau kenapa. Atau mungkin karna dia sendirian hidup di rumah. Kedatanganku kemari adalah obat penyembuh kesedihan tante Rifa.
“Fy, ada seseorang yang sangat merindukanmu.”
“Siapa tan?”
“Nanti kamu akan tau. Orang itu menungu kedatanganmu, dan dia berada di rumah tante.”
Wah, rasa penasaranku kambuh lagi. Aku sangat penasaran dengan orang yang dibicarakan tante Rifa. Apa mungkin Nova ya? Sudah lama sekali aku tidak melihat wajahnya. Apa dia masih senarsis dulu? Banyak pertanyaan yang hadir dalam kepalaku. Membuatku ingin cepat sampai di rumah tante Rifa.
*****
Sampailah aku di depan pintu rumah tante Rifa. Rumahnya benar-benar tak berubah. Tembok rumahnya masih berwarna hijau, gerbangnya pun masih berwarna hitam. Begitu pula rumah pohon yang sering dinaiki sama anak-anak jahil. Hihihi, aku selalu terkekeh mengingat masa-masa itu.
“Ayo masuk!” ajak tante Rifa
Kami bertiga masuk ke dalam rumah.Tak tau mengapa hatiku sedaritadi berdebar-debar hebat. Aku masih penasaran siapa orang yang diceritakan tante Rifa.
“Masuk ke dalam kamar ini Fy. Disana ada seseorang yang menunggui kedatanganmu.”
Aku masuk dengan hati deg-degkan plus pertanyaan. Perlahan-lahan aku membuka pintu kamar. Hatiku berdesir. Aku melihatnya sekarang. Ia sedang tersenyum memandangi wajahku, senyuman yang sangat aku rindukan. Wajahnya, suaranya dan sifatnya yang sangat aku rindukan pula. Ia melihatku dengan linangan air mata. Tak terasa air mataku jatuh. Oh, sudah lama aku berpisah dengannya. Tuhan, Engkau telah menjabah do’aku, agar suatu hari aku bisa bertemu dengannya, dan sekarang, aku sedang berhadapan dihadapannya.
Dengan perasaan rindu yang dahsyat, aku berlari menuju tempatnya. Dia terlihat bahagia, dan… dia langsung memeluk tubuhku dengan erat. Pelukan yang membuat hatiku terasa bahagia. Aku menangis bahagia di pundaknya, membasahi baju kuningny yang terlihat kering. Tuhan, aku tidak ingin menangis, tapi mengapa aku menangis?
“Ify…” Lirihnya. Aku tak sanggup untuk berbicara. Tubuhku masih berada di pelukannya. Sungguh, aku tak ingin melepas pelukan hangat darinya.
“Fy, aku…aku rindu kamu..”
Hatiku bergetar hebat ketika mendengar suaranya. Tubuhnya makin kurus saja. Dulu, saat terakhir aku melihatnya, tubuhnya tidak kurus seperti ini. Aah, berapa kali sehari ia makan? Aku terkekeh sendiri. Dia heran melihat tingkahku dan langsung melepas pelukannya dari tubuhku. Kini, saatnya aku untuk berbicara. Memanggil namanya yang hampir aku lupakan. Diaa….
“Gab..bri..el..???” Lirihku. Sudah lama aku merindukan nama itu. Gabriel mengelus-ngelus rambutku dan menyeka air mataku dengan tangan yang bergemetar. Senang rasanya hari ini. Aku tersenyum melihat wajahnya.
“Fy..? Tanyanya
“I..iya..” Jawabku
“Aku…aku ingin bilang sesuatu kepadamu.”
“A..apa itu?”
“Aku..aku cinta kamu Fy, maukah kamu menjadi pacar aku?”
Aku kaget mendengar perkataannya. Perasaan bingung kian menghampiriku. Aku benar-benar bingung mau menjawab apa. Sejujurnya aku…aku masih mencintai kak Rio. Aku tak ingin mencintai oranglain selain kak Rio. Gabriel melirik wajahku yang tertunduk lesu.
“Fy, maaf ya perkataanku tadi…”
Aku tetap diam seribu bahasa. Sangat sulit berkata ‘iya’ maupun berkata ‘tidak’. Sangat sulit menerima ataupun menolak. Oh tidak! Ada sesuatu yang aku lupakan. Bunga itu, bunga dari kak Rio tertinggal di Malang, aku lupa membawanya kemari. Betapa bodohnya aku. “Fy, sabar ya, jangan menangis lagi, kau harus melupalan bunga itu, kau harus memilih Gabriel sebagai pilihan hatimu sekarang.” Hati nuraniku berkata kepadaku. Aku bingung sekali.
“Gab, e…kapan-kapan aja ya aku jawab.” Jawabku
Mungkin, perkataanku tadi membuatnya lesu. Aku kasian pada Gabriel. Sudah sangat lama ia merindukan diriku. Sudah sangat lama ia menunggui kedatanganku hanya untuk berkata,”Fy aku cinta kamu, maukah kamu menjadi pacar aku?” Tapi, aku belum bisa menjawab pertanyaan darinya. Oh, betapa jahatnya diriku.
“Aku permisi dulu ya. Oya, entar lagi Nova mau kesini, katanya dia kangen sama kamu.”
Aku mengangguk pelan. Melihat kepergiannya dari rumah ini. Andai kata aku dapat kembali ke Malang, just for take the flower from him… Tiba-tiba dunia terasa gelap.
*****
 Hari ini, detik ini, tahun ini, hatiku benar-benar kuat untuk bisa melupakan kak Rio. Terutama bunga mawar darinya yang masih berada di Malang. Hatiku harus mantap untuk memilih Gabriel.
“Duaaarrr…!”
Duh, aku cemberut sekali. Cowok itu mengangetkanku. Ya, cowok itu adalah Gabriel, dan dialah yang menemani hari-hariku disini, walaupun aku belum menjawab pertanyaan darinya. Mungkin saja dia sudah lupa.
“Fy, entar lagi kan liburan semester, gimana kalo pas liburan gue ajak Lo pergi ke Malang? Gimana? Ajak tuh tante Lo biar seru.”
Perkataan Gabriel tadi membuat hatiku bahagia. Aku rindu mama, papa, kak Alvin dan Deva. Aku rindu Sivia, Mia dan seluruh orang yang pernah aku kenal di Malang. Tentu saja aku menjawab ‘iya’.
*****
Aku, Gabriel, sekarang berada di pemakaman Kak Rio. Aneh. Menapa Gabriel mengajakku ke tempat ini? Bukannya Gabriel tidak mengenal kak Rio? Atau mungkin saja ia kenal.
“Gab, Lo kenal kak Rio?” Tanyaku. Gabriel hanya tersenyum melihatku
“Gue kenal sama kak Rio dari kak Alvin. Dulu, kak Alvin sering cerita ke gue tentang kak Rio. Kebaikannya, perilakunya, kesopanannya, semua tentang kak Rio sudah diceritakan oleh kak Alvin. Nggak tau juga ya kenapa gue merasa dekat sama kak Rio, meskipun gue belum ketemu langsung dengannya. Fy, kak Alvin juga udah cerita ke gue kalo Lo itu suka sama kak Rio. Tapi kak Rio meninggal. Sejujurnya gue sedih mendengar kabar kak Rio meninggal. Gue ngerasa ada sesuatu di hidup gue yang hilang. Fy, seandainya kak Rio masih ada, gue rela kok Lo pacaran sama kak Rio, gue rela Fy karna kak Rio lebih baik dari gue, lebih dewasa gitu dibanding gue. Ya sudahlah Fy, jangan bahas dia lagi. Apa Lo sedih Fy?”
Aku terdiam sesaat. Sama sekali tak percaya dengan penjelasan Gabriel. Tapi aku yakin kalau penjelasannya benar. Selama aku mengenal Gabriel, dia tidak pernah membohongiku. Yeah, yang sudah biarlah sudah. Aku tak boleh sesedih dulu. Ingat Fy, masih banyak orang yang menyayangimu, termasuk Gabriel.
“Gue nggak sedih kok.”
Gabriel tersenyum lega. Ia membuka tas ransel hitamnya.Aku melihatnya dengan seksama. Apa? Bukannya itu bunga mawar pemberian kak Rio? Kok bisa ada di tangan Gabriel?
“Masih inget nggak bunga ini?”
“Ya, itu bunga dari kak Rio. Darimana Lo dapat bunga itu?”
Gabriel menghela nafas sesaat dan mulai bercerita. “Gue dapat bunga ini di kamar Lo. Gue iseng aja ambil bunga ini, tepatnya di meja belajar Lo. Gue yakin ini bunga mawar yang pernah diceritakan kak Alvin. Jadinya, gue ambil aja bunga ini. Fy, kenapa Lo tinggalin bunga ini? Kan kasian Fy. Apa Lo nggak sayang lagi sama kak Rio?”
Hatiku tiba-tiba sedih mengingat bunga itu. Entah air mataku kembali menetes secara perlahan-lahan. “Gab, gue masih sayang sama kak Rio, dan gue lupa bawa bunga ini ke Bandung. Sejujurnya, gue mau ambil bunga ini, tapi..tapi gue nggak enak sama Lo. Gue kasian ngeliat Lo kalo gue jatuh cinta sama cowok lain, makanya gue harus lupain bunga ini dan gue harus…harus nerima permintaan Lo yang dulu Lo kasih ke gue dan sampai saaat ini gue belum menjawabnya. Gab, gue mau kok jadi pacar Lo, tapi..tapi gue masih sayang sama kak Rio..”
“Fy, gue senang kalo Lo berdua sama kak Rio, kan gue udah bilang tadi, gue rela Lo pacaran sama Rio. Fy, gue senang juga kalo Lo jadi pacar gue, Lo boleh cinta sama gue sekaligus sayang sama kak Rio. Lo juga harus menjaga setangkai bunga mawar ini, sebagai tanda sayang Lo pada kak Rio, gue senang Fy..senang…”
“Lo nggak iri sama kak Rio?”
Gabriel tertawa geli mendengar ucapanku. “Ify..Ify…gue nggak akan iri sama kak Rio, omongan Lo tadi lucu banget..lucu…walaupun kak Rio masih ada maupun tidak ada, gue nggak akan iri dengannya. Justru gue malah senang kalo Lo makin sayang sama kak Rio..”
Aku tersenyum. Benar juga yang dikatakan Gabriel tadi. Aku harus mencintai dua kekasihku yaitu Gabriel dan kak Rio. Dua orang lelaki yang sama-sama menjadi pilihan hatiku. Aku mengambil bunga mawar dari tangan Gabriel. Bunga itu terlihat agak kusam. Tapi tak apalah, bunga ini masih terlihat cantik seperti dulu. Saat kak Rio memberi bunga ini untukku.
“Okelah Gab, gue mau jadi pacar Lo sekaligus terus sayang sama kak Rio, meskipun gue dan dia ada di dunia berbeda, gue yakin kak Rio pasti bahagia, karna gue bahagia..”
“Nah gitu dong!” Gabriel merangkulku. Ia juga terlihat bahagia di depan makam kak Rio. Oh, hari ini sungguh indah. Aku bersyukur mempunyai pacar seperti Gabriel. Jarang ada cowok sebaik Gabriel.
“Fy, balik yuk?” ajaknya menarik tanganku
“Tunggu! Pliss, Lo berdiri disini, sebentar aja. Gue mau pergi ke pohon kecil itu.”
Gabriel menuruti kemauaku. Aku berlari kecil menuju pohon kecil itu. Di kelopak mataku, aku membayangkan sosok ‘Rio’ disamping Gabriel, dan benar! Aku melihatnya berdiri disamping tubuh Gabriel. Sesosok cowok yang sangat manis. Dia adalah kak Rio. Ia tersenyum melihatku. Hatiku berdebar-debar hebat. Entah apakah itu hanya imajinasiku saja, atau mungkin…mungkin saja itu bayangan kak Rio yang nyata. Mungkin saja kak Rio diciptakan kembali untuk bertemu denganku atau hanya untuk memberikan senyuman termanis yang dimilikinya.
Dalam hatiku yang terdalam, aku menyanyikan sebuah lagu.Lagu yang sama persis aku nyanyikan di acara Taman Budaya. Lagu khusus untuk kak Rio. Tapi sekarang, lagu itu ku khususkan hanya kepada kak Rio dan juga kepada Gabriel. Dua sosok yang sekarang sedang tersenyum manis ke arahku.

Berdiri ku disini hanya untukmu
Dan yakinkan ku untuk memilihmu
Dalam hati kecilku inginkan kamu
Berharap untuk dapat bersamamu

Aku kan ada untuk dirimu
Dan selalu tuk mu

Terlukis indah raut
Wajahmu dalam benakku
Berikan ku cinta terindah
Yang hanya untukmu

Tertulis indah puisi cinta
Dalam hatiku
Dan aku yakin kau memang
Pilihan hatiku

________________________________END______________________________________________________________________________________________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar