Gomawo.. :D
Aku melihat keindahan kota Malang
ini. Baru pertama kali aku mendatangi kota ini. Kota yang penuh dengan berbagai
wisata. Aku sangat bahagia. Mulai saat ini, hari ini, aku tinggal di Kota ini.
Sungguh indah.
Aku melepaskan jaket merah mudaku
yang bergambar strawberry. Itu adalah jaket pemberian dari sahabatku yang
bernama Nova. Itulah kenangan terindah dari Nova semenjak aku berpisah
dengannya. Walaupun hanya sekedar jaket, aku merasa senang dan bahagia.
Ada satu cowok yang sangat sedih
mendengar aku sudah tidak tinggal lagi di kota Bandung. Kota kelahiranku. Nama
cowok itu adalah Gabriel atau bisa dipanggil Iyel. Ia cukup baik, pintar, dan
ganteng. Dia juga sahabat terbaik kakakku sewaktu kakakku belum kuliah di
tempat ini. Di kota Malang.
Sekarang aku menyadari bahwa
Gabriel sangat cinta kepadaku. Akupun juga cinta padanya. Aku sudah
menyimpulkan bahwa Gabriel adalah pilihan hatiku yang terakhir, dalam hidupku.
Tapi, apalah daya, aku sudah berpisah dengannya, dan aku tidak tau apakah suatu
hari nanti aku akan bertemu lagi dengannya.
“Ify, diluar dingin. Kok jaketnya
dilepas sih?” Tanya kakakku yang bernama Kak Alvin. Ia mendekatiku dan langsung
duduk disampingku.
“Nggak terlalu dingin kok
kak…ternyata, tinggal di Malang enak juga ya. Pemandangannya indah, sejuk, Ify
suka tinggal disini.”
Kak Alvin tersenyum mendengar
perkataanku. Sudah lama ia tinggal di tempat ini. Tempat ia menuntut ilmu,
tepatnya di universitas Brawijaya. Aku sangat berkeinginan kuliah disana.
Mengikuti jejak kakakku.
Papa dan Mama menetap di kota
ini. Papa mendapat pekerjaan baru di kota ini. Karna itulah aku. Mama, dan
adikku, Deva pindah di kota ini.
Aku berfikir sejenak. Aku akan
menjadi murid baru di sekolah yang belum aku ketahui namanya. Aku bisa
membayangkan bagaimana rasanya aku menjadi murid baru. Rasanya begitu malu.
Maju ke depan kelas sambil memperkenalkan diri. Sebenarnya, aku tak ingin
pindah menuju kota ini. Aku ingin menemani Tante Rifa yang ada di Bandung sana,
dan…aku masih ingin melihat senyuman ceria dari Gabriel.
Memikirkan tentang Gabriel. Ini
baru hari ketiga aku berada di kota Malang. Rasanya, aku sudah sangat rindu pada
Gabriel. Apalagi selama-lamanya aku berada di tempat ini. Tapi, aku harus kuat
menjalani hidupku. Aku akan berusaha semampuku untuk tetap ceria, dan berdoa
supaya suatu hari nanti aku diperkenankan oleh Tuhan untuk bertemu dengan
Gabriel. Semoga.
“Masuk dulu Fy. Kamu kan belum
sarapan.” Pinta Kakakku ketika aku tengah memikirkan Gabriel.
Aku tersadar. Aku memang belum
sarapan. Kalau aku telat sarapan semenit saja, pertutku sudah melilit
kesakitan. Aku melirik wajah kakakku. Aku mengangguk pelan dan langsung masuk
ke dalam rumah. Ku lihat mama sedang sibuk menyiapkan sarapan. Perutku suda
mulai kelaparan. Dengan cepat, aku duduk di kursi ruang makan dan langsung
makan dan terus makan.
“Pelan-pelan dong kak makannya.”
Kata adikku, Deva yang berada di sampingku. Tapi aku tidak memperdulikannya.
Aku malah asyik makan, dan…
“Ukh…Ukh..”
Aku tersendat. Deva
mentertawakanku. “Hahaha, itu akibatnya kalo nggak mau dengerin nasihat cowok
ganteng plus manis kayak Deva.. Hahaha…”
“Dasar cowok narsis.” Aku sangat
cemberut sambil mengusap-ngusap mulutku yang penuh dengan nasi.
“Sudah-sudah kalian berdua,, oya
Fy, kata Papa, kamu akan sekolah di SMA 1 Malang. Mau nggak?” Kata Mama tanpa
melihat wajahku.
“Iya Ma, Ify mau.”
Aku sangat senang. Akhirnya, aku
sudah menemukan sekolahku. Besok, aku akan bertemu teman baru, guru baru, dan
juga pengalaman baru. Seketika itu juga aku melupakan Gabriel.
*****
“Ify bangun,, udah siang nih!”
Mama tengah berusaha
membangunkanku. Ketika itu, aku masih memeluk boneka Teddy Bear kesukaanku.
Salah satu kenagan dari Gabriel. Akhirnya, aku bangun juga dan begitu kaget.
Apa? Aku telat bangun? Dengan cepat aku menuju kamar mandi tanpa menyapa Mama.
Brrr…digin sekali. Di bulan
Agustus ini, udara sangat dingin. Berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Cukup
membasuh muka dan gosok gigi saja. Itu lebih dari cukup. Aku nggak mau
berlama-lama di kamar mandi.
Setelah memakai pakaian sekolah
yang rapi, aku menuju ruang makan. Aku mengambil roti tawar saja dan langsung
menuju ke mobil. Aku melihat papa yang lelah menungguiku sambil meliha jam
tangannya.
“Ify, sisiran dulu.” Tiba-tiba
Mama memanggilku. Wajahku cemberut kalau aku disuruh sisiran sama Mama.
“Nanti Ify sisiran di mobil. Ify
janji.”
Aku berlari menuju kamarku dan
langsung mengambil sisir merah mudaku. Itu bukan pemberian dari siapa-siapa.
Aku membelinya sendiri di mall. Dengan cepat, aku menuju Papa.
”Maaf ya Pa karna udah lelah
nungguin Ify.”
Papa hanya tersenyum kecil saja.
Ia sudah terbiasa dengan sifat putrinya itu. Cepat-cepat aku menaiki mobil
sambil menyisir rambutku yang awut-awutan, tanpa dengan mengaca. Aku tak peduli
bagaimana rupaku nanti.
Beberapa menit kemudian, aku
sudah berada di sekolah baruku. Aku diam sejenak. Memandangi sekolah baruku
itu. Aku ragu untuk masuk ke dalam. Tapi, aku harus memberanikan diri untuk
masuk. Untunglah Papa yang baik hati siap mengantarku masuk ke dalam sekolah.
Sampai juga aku di kelasku yang
berada di lantai dua. Dengan gugup, aku segera masuk ke dalam kelas. Disana ada
seorang guru yang siap membantuku untuk segera memperkenalkan diri dihadapan
teman baruku.
“Namaku Ify, Alyssa Saufika
Umari..”
Aku mengucapkan kata-kata itu
secara perlahan dengan muka agak memerah saking malunya. Aku langsung duduk di
bangku paling belakang. Kebetulan disana ada seorang cewek yang duduk
sendirian. Tanpa ragu, aku duduk disampingnya dan ia menyapaku.
“Hai, namaku Sivia. Lo cantik
banget. Gue lupa nih, sapa nama Lo tadi?”
“Ify.”
“Nama yang cantik, gue senang
bertemu ma Lo, jadinya gue ada temen ngobrol.”
Sivia terlihat sangat bahagia
atas kedatanganku di kelas ini. Aku turut berbahagia karna telah mendapatkan
kawan baru yang ramah. Aku yakin Sivia nanti bakalan menjadi sahabat terbaikku.
Lihat saja nanti!
*****
Hatiku girang. Hari ini kak Alvin
yang menjemputku. Aku bergegas menuju mobil kak Alvin. Kak Alvin tersenyum
ramah padaku. Ketika aku memasuki mobil, aku sangat kaget. Aku melihat ada
cowok lain yang ikut tersenyum padaku. Bahkan senyumnya lebih manis disbanding
senyuman kakakku.
“Ohya Fy, kakak belum bilang sama
kamu. Ini temen sekampus kakak. Namanya Rio.”
Aku memandangi wajah teman
kakakku itu. Sesaat, aku sangat tertegun melihat wajah kak Rio. Wajahnya begitu
manis, manis sekali. Kak Rio menyapaku sambil tersenyum manis. Tepat
dihadapanku, dan hatiku berdebar tak menentu.
“Hai! Maaf ya ganggu kamu.”
“Oh ya e,, enggak ap..apa-apa kok
kak..”
Aku benar-benar tidak percaya
akan berhadapan dengan orang ini. Manusia atau malaikat kah dia? Oh, seketika
aku merasa bahagia. Bahagia berada di kota Malang ini. Bahagia pula karna aku
telah bertemu dengan kak Rio yang sedari tadi tersenyum kepadaku.
Ada satu hal lagi yang membuatku
merasa bahagia. Aku diajak berkunjung ke rumah kak Rio. Hari ini juga. Mimpikah
aku ini? Tak terasa tubuhku bergetar hebat. Ada pula getaran-getaran halus yang
masuk secara perlahan-lahan di dadaku. Apakah ini yabg di maksud dengan cinta?
Sebelumnya, aku belum pernah merasakan hal ini sebelumnya. “Oh kak Rio, andai
kata aku bisa bersamamu, aku akan menyanyikan lagu ‘pilihan hatiku’ di
hadapanmu.” Kataku dalam hati.
“Hus…kita udah sampe di rumah
Rio. Ngapain ngelamun?” Kata kak Alvin
Aku tersadar. “Oh ya, Ify nggak
ngelamun kok kak. Kalo gitu, Ify turun dulu.”
Aku turun dengan jantung yang
berdebar-debar. Rumah kak Rio tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil.
Tidak mewah dan tidak jelek. Lagi-lagi kak Rio tersenyum menatap wajahku yang
begitu malu.
“Selamat datang ya di rumahku.
Maaf ya kalo seandainya rumah kakak jelek di matamu.” Ucap kak Rio dengan suara
yang lembut
“Oh, e, i..iya. Rumah ka..kak
bagus k..kok.”
Aku di ajak masuk ke dalam rumah
kak Rio. Kak Alvin menyusulku dari belakang sana. Aku terheran-heran. Ada apa
ya ini? Kok aku di ajak kesini? Ada masalah apa? Kak Alvin datang dan langsung
duduk di sampingku.
“Ada apa kak? Kok Ify di ajak
kesini?”
Kak Alvin hanya tersenyum saja.
“Kan hanya sekedar berkunjung saja.”
Aku agak kesal. Aku mengira kalau
kak Rio ingin membicarakan sesuatu padaku dan aku langsung menerimanya. “Duh
fy, jangan begitu dong, kamu hanya gadis biasa. Tidak cocok bersanding dengan
cowok tampan sepert kak Rio. Mungkin saja kak Rio sudah punya pacar. Masa’
cowok se-ganteng dia belum juga punya pacar?” Kataku dalam hati.
Puas aku berada di rumah kak Rio,
aku dan kak Alvin pamit untuk pulang. Sebelum pulang, aku melihat kak Alvin
membisikkan sesuatu kepada kak Rio yang tak mungkin bisa ku dengar.
“Bagaimana Yo dengan adikku?”
Rio menggangguk pelan.”Aku setuju
kok Vin.”
Aku cemberut karna kak Alvin
melarangku untuk mendengar bisikan yang ia sampaikan kepada kak Rio. “Nanti
kamu akan tau.” Bisiknya ke telingaku. Aku mengangguk dan masih penasaran apa
yang di bisikkan kakakku itu. Tapi biarlah. Suatu hari nanti, aku pasti
mengetahuinya. Sesuai janji kak Alvin.
*****
Pagi hari yang cerah. Baru
beberapa minggu saja, aku sudah aktif di sekolah baruku. Aku juga banyak
mendapatkan teman baru yang tak kalah ramahnya dari Sivia. Aku mengikuti
ekskull vocal group karna aku pandai menyanyi. Suaraku bagus kata
teman-temanku.
Ada satu sahabatku yang dekat
denganku selain Sivia. Namanya Mia. Cewek itu juga cantik. Rambutnya panjang
melebihi pingganggnya. Mia sering di olok Rapunzel oleh teman-temannya. Apalagi
yang cowok.
“Heh, gue laper nih. Ke kantin
yuk? Ajak tuh Rapunzel.” Kata Sivia
“Iya deh,”
Aku menuruti ajakan Sivia.
Lagipula perutku sudah mulai kelaparan. Aku memanggil Mia yang daritadi
tersenyum aneh. Kenapa tuh anak? Dari tadi senyum-senyum melulu? Mia
mendekatiku sambil tersenyum bahagia. Senyuman yang membuatku penasaran. Aku
memang ciri-ciri orang yang penasaran.
“Kenapa sih Lo ini? Senyam-senyum
dari tadi?”
Lagi-lagi Mia tertawa kecil.
“Hahaha,, nanti gue kasi tau. Ada apa Lo manggil gue?”
“Ikut ke kantin yuk ma gue n’
Sivia.”
Mia mengangguk. Malahan, Mia
berjanji akan mentraktirku juga Sivia. “Wah-wah, bener-bener cewek aneh.
Padahal gue yang ajak eh malah dianya yang mentraktir gue.”
“Hus..Ini keberuntungan kita lho.
Jarang banget Mia berbuat baik ke kita-kita.” Kata Sivia
Mia hanya tertawa lagi. Aku
bingung sikap tuh cewek. Nanti juga gue akan tau. Aku, Sivia, dan Mia langsung
berjalan menuju kantin.
*****
“Lo mau pesan apa?” Tanya Mia
kepadaku
“Mie gorena sama juice orange aja
deh.”
“kalo Lo Siv, mau pesan apa?”
“Bakso sama juice strawberry.”
“Oke, gue yang pesenin. Kalian
berdua nunggu aja ya.”
Aku dan Sivia menggangguk. Nggak
biasanya Mia bersifat kayak gitu. Biasanya, kalau mau di ajak ke kantin, dia
sering nolak. Aku makin penasaran. Ku lihat Sivia hanya biasa-biasa saja. Tidak
terlalu penasaran seperti aku.
Beberapa menit kemudian, pesanan
datang. “Tumben Lo beli soto. Biasanya, Lo nggak demen soto.” Kata Sivia kepada
Mia
Mia hanya tersenyum kecil dan
langsung memakan soto tanpa menjawab pertanyaan Sivia. Sivia kesal pada Mia.
“Kalian pengen tau kenapa sikap
gue berubah 180 derajat?” Tanya Mia
“Pengen-pengen.” Jawabku
“Denger baik-baik ya cerita gue.
Kalian kenal nggak sama Ary?”
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku
tanda tidak tau. Tapi Sivia tau. Aku kan baru disini, mana kenal yang namanya
Ary. Teman sekelas ku saja belum semuanya yang aku kenal.
“Emang ada apa dengan cowok
pujaan hati Lo itu? Ooo, gue tau, pasti Lo di tembak kan sama Ary? Ayo
nagku-ayo ngaku, makanya hari ini Lo bahagia.” Kata Sivia
Muka Mia memerah. Benar apa yang
dikatakan sama Sivia. Memang benar Ary, pujaan hati Mia telah menembak Mia dua
hari yang lalu.
“Ah Lo Siv, Lo tau aja, gue
jadinya malu nih.”
Aku hanya diam mendengar
perkataan Sivia dan Mia. Seketika itu juga aku mengingat Kak Rio. Ya, dia telah
menjadi pujaan hatiku. Andai saja diriku seperti Mia. Tentu saja aku senang,
ditembak cowok yang menjadi sang pujaan hati.
“Gue..gue juga punya pujaan hati.
Dia gaaanteeengg banget. Maaaniiiisss banget. Tapi, gue nggak tau apa pujaan
hati gue itu suka sama gue.” Aku berkata dihadapan kedua sahabatku ini secara
tak sengaja. Aku juga nggak tau mengapa tiba-tiba kalimat itu yang aku ucapkan
pada kedua sahabatku.
“Hemm, sapa namanya? Kok gue baru
tau sih? Anak mana dia?” Tanya Mia
“RAHASIA. Pokoknya, dia nggak
sekolah disini dan dia udah tamat SMA. Dia sekarang sedang kuliah sama kakak
gue.”
Sivia dan Mia tertawa
terbahak-bahak. Aku terheran-heran. Apanya yang lucu? Apa kata-kataku tadi
tidak cocok untuk di keluarkan sehingga menjadi lelucon ria di kedua sahabatku
ini?
“Hahaha, anak kuliahan? Nggak
cocok ah. Lo itu masih kecil.” Kata Mia
“Emang kenapa? Gue liat, cowok
pujaan hati gue itu masih kayak anak-anak SMA kok. Nggak tua-tua gitu kayak
papi Lo.”
“Alah Lo ini, papi gue itu masih
muda tau dibanding papi Lo.”
“Sudah-sudah. Kok malah ngomongin
papi papi segala. Ya udah deh Ify ku yang manis, mudahan aja cinta Lo itu akan
terwujud. Bagaimanapun orangnya. Gue tetep seneng kok.” Kata Sivia. Perkataan
Sivia itulah yang membuat hatiku sejuk dan ingin berusaha untuk mendapatkan
cowok inpianku. Harus!
*****
Dear Diary
Aku senang sekarang karna aku
telah bertemu dengannya. Dulu, aku hanya membayangkan sosoknya saja. Tapi
sekarang, aku nyata bertemu dengannya. Aku telah berusaha memberikan senyuman
terindah yang hanya untuknya, dan aku berhasil.
Hari itu, tanggal 24 April, hari
yang bersejarah bagiku. Hari yang selalu kuingat dalam hidupku. Hari dimana aku
telah bertemu dengannya. Hari dimana aku dapat memberikan senyuman untuknya,
dan dia hanya tersipu malu melihat senyumanku. Apa aku ini terlau gombal?
Tuhan,Kau telah memberikanku
sebuah cinta. Aku sudah merasakan apa itu cinta. Tapi Tuhan, izinkanlah aku
untuk bersamanya. Aku ingin sekali bersamanya. Dalam suka dan duka. Aku ingin
cepat-cepat pergi ke rumahnya dan langsung memberikannya bunga mawar merah yang
paling indah.
Apakah aku mampu bertahan hidup
di dunia ini? Apakah aku mampu bertahan menjalani cobaan berat ini? Beberapa
Tahun yang lalu, tanggal 16 Agustus, hari itu adalah hari yang paling
menyedihkan dalam hidupku. Aku divonis menderita penyakit jantung. Penyakit
yang sungguh-sungguh mengerikan dalam hidupku.
Waktu itu, aku masih SMA kelas 2.
Aku masih seceria seperti anak remaja lainnya. Tiba-tiba, tubuhku melemah.
Dadaku nyeri. Aku pingsan. Untung saja aku sedang berada di rumah Tanteku yang
ada di Surabaya. Waktu itu aku liburan semester.
Aku tersadar beberapa saat.
Melihat tempat sekelilingku. Aku melihat Tanteku yang sedari tadi sedang
menangis. Hatiku iba. Tanteku sangat bersedih. Aku menyadari kalau aku
menderita penyakit jantung. Aku seperti ingin pergi dari dunia ini. Tapi aku
tidak tega. Melihat mama dan papaku menangis tersedu-sedu, karna aku anak
tunggal. Ya, aku anak tunggal.
Aku berusaha menenangkan Tanteku.
Akhirnya, dia tenang juga. Aku berusaha semampuku untuk berbicara. Walaupun
kondisiku sangat lemah. “Tante, apakah mama dan papa tau kalau aku menderita
penyakit ini?” Tanteku menjawab dengan sedih. “Belum.” Oh, syukurlah , batinku.
“Tante, plis ya jangan kasih tau penyakitku ini pada mama dan papa. Bilang aja
kalau aku terkena penyakit tifus.” Tanteku hanya menggangguk pelan. Tanpa
bertanya sedikitpun.
Dann..sampai saat ini kedua
orangtuaku tidak mengetahui kalau aku terkena penyakit jantung. Hanya aku,
Tanteku dan Tuhan yang mengetahui penyakit ini. Tapi aku masih bersyukur diberi
kesempatan oleh Tuhan untuk dapat menghirup udara segar di dunia. Hari itu,
tanggal 1 September, dokter mengatakan kalau jantungku baik-baik saja. Tapi,
tidak selamanya. Dokter mengatakan, “Suatu saat nanti jantungmu akan terasa
sakit serta tidak berfungsi lagi, maka kamu perlu mencari donor jantung supaya
kamu selamat.”
Tuhan, mengapa Engkau memberikan
cobaan yang berat ini padaku? Apa sebenarnya salahku sampai-sampai aku
menderita penyakit ini? Kau tidak boleh begitu. Kau harus bersyukur pada Tuhan
karna saat ini jantungmu tidak terjadi apa-apa.
Harapanku untuk-Mu Tuhan, semoga
aku diberi umur yang panjang setidaknya ketika aku sudah memberi bunga mawar
kepada orang yang ku cintai. Aku ingin melihatnya tersenyum padaku. Aku cinta
dia Tuhan. Aku sayang dia Tuhan. Semoga Engkau mengirim cintaku padanya, di
dalam mimpi indahnya.
Maafkan aku ya kalau aku banyak
salah sama kalian, seandainya aku telah tiada, ku harap kalian tidak terlalu
sedih memikirkanku. Anggap saja aku tidak pernah berada di dunia ini. Selesai.
*****
Angin berhembus kencang. Memasuki
jendela kamarku yang belum ku tutup tadi. Aku beranjak menutup jendela. Tak
sengaja aku melihat gugusan bintang di langit. Bintang yang bertebaran dengan
indahnya di langit. Perlahan, aku menutup jendela kamarku. Tiba-tiba, ada pesan
masuk di HP ku.
Malam!
Lo udah kerjain PR dari bu
Syifa nggak?????
Aku lupa. Aku belum mengerjakan
PR yang diberikan oleh bu Syifa lusa lalu. Cepat-cepat aku membalas pesan
Sivia.
Belum,,, kelupaan.
Ya udh deh, gue mo kerjain skrg.
Mumpung gue blm ngantuk.
Aku mengambil buku paket
matematika dan langsung mengerjakannya dengan teliti. Tak ku duga, ternyata kak
Alvin datang ke kamarku. Ia melihatku sedang mengerjakan tugas.
“Bisa kakak bantu?”
“Nggak deh kak.”
Aku mengerjakan tugasku dengan
teliti. Tiba-tiba bayangan wajah kak Rio hadir di dalam pikiranku. Aku
tersenyum sendiri. Ingin rasanya aku menulis surat kepada kak Rio agar ia tau
sebagaimana perasaanku terhadapnya.
“Lo kok senyum sendiri sih?”
“Ada deh pokoknya.”
“Lagi mikirin cowok ya?”
Aku kaget dengan pertanyaan
kakakku. Lagi mikirin cowok? Kok dia bisa tau? Aku tidak berani berkomentar
apa-apa tentang pertanyaan kakakku.
“Hehehe, pasti mikirin Gabriel
kan? Udah dah fy, jangan pikirin dia lagi. Pikirkan saja masa depanmu. Jangan
mikirin cowokmu itu aja.”
Idih, kakakku yang sok tau.
Sejujurnya aku hampir melupakan Gabriel. Kini, bayangan Gabriel telah
tergantikan oleh sosok kak Rio yang dari tadi hinggap di pikiranku. Tapi jika
dipikir-pikir, kasian juga Gabriel. Dia menangis ketika aku berpisah dengannya.
Apalagi kalau dia tau bahwa aku telah jatuh cinta kepada cowok lain. Pasti
hatinya sakit.
Kak Alvin lelah menunggu
jawabanku, dan dia langsung pergi meninggalkan kamarku. Hatiku lega. Aku paling
nggak suka ngomongin cowok di hadapan kakakku.
Akhirnya selesai juga tugas dari
bu Syifa. Rasa kantukku tiba-tiba datang begitu saja. Aku bergegas merapikan
alat tulisku dan langsung merebahkan tubuhku di kasur. Bayangan kak Rio hadir
lagi di pikiranku bersamaan dengan bayangan Gabriel. Dua orang yang amat ku
cintai. Aku bingung mau pilih yang mana.
*****
Aneh. Tumben Bu Siska memanggilku
ke ruangannya. Tanpa ba-bi-bu, aku segera menuju ruangan Bu Siska. Bu Siska
tersenyum ketika melihat kedatanganku. Aku jadi terheran-heran.
“Ada apa Bu?”
Bu Siska menghela nafasnya.
“Minggu depan, ada acara penting di Taman Budaya. Sekolah kita di undang untuk
memeriahkan acara itu. Ibu ingin kamu tampil di acara itu. Kamu kan pinter
nyanyi.”
Aku diam sesaat. Mau tidak mau
aku harus tampil di acara itu. Aku kan ikut paduan suara? Ya wajiblah aku
tampil di acara itu.
“Baik Bu.” Jawanku singkat. Tanpa
ada beban sedikitpun.
Bu Siska tersenyum bahagia.”Ya
udah deh. Mudah-mudahan nantinya kamu tampil dengan bagus. Tanpa ada
kesalahan.”
“Baik Bu.”
Aku minta izin keluar dari
ruangan Bu Siska. Aku berfikir keras. Inilah kesempatanku untuk menyanyikan
lagu favoritku. “PILIHAN HATIKU” kepada orang yang ku cintai, dan aku berharap
pula supaya kak Rio hadir di acara itu. Aku berlari-lari riang menuju kelasku.
“Ada apa Fy? Wah, apa Lo udah di
tembak sama Mr. Rahasia itu?” canda Mia
“Enggak juga kok, gue disuruh Bu
Siska untuk hadir di Taman Budaya. Katanya disana ada acara, dan gue disuruh
nyanyi disana.”
“Hebat dong, gue nanti boleh
nonton ya?” kata Sivia
“Iya Siviaku…”
Aku mencubit pipi Sivia. “Aw.”
Jeritnya. Aku dan Mia tertawa. Sivia mengelus-ngelus pipinya yang kesakitan.
“Boleh tau, Lo mau nyanyi lagu
apa?” Tanya Sivia
“Geisha, pilihan hatiku.”
“Pasti Lo mau nyanyiin lagu itu
ke pujaan hati Lo ya? Hahaha..” kata Mia
Aku tidak menjawab pertanyaan
Mia. Aku hanya tersenyum girang saja. Mia dan Sivia menatapku dengan tatapan
penasaran. Nanti mereka akan tau, pikirku.
*****
“Lagi apa ya dia sekarang?”
pikirku dalam hati sambil menggoyang-goyangkan pulpen merah mudaku. Aku sedang
menulis surat untuk kak Rio ku tercinta. Semoga saja dengan surat itu, kak Rio
mengerti perasaanku terhadapnya. Tapi jika dipikir-pikir, aku sangat malu jika
menulis namaku di surat itu. Yeah, jangan ditulis aja.
Akhirnya, suratku jadi juga. Ku
lipatkan surat itu ke dalam amplop putih. Aku bisa membayangkan wajah kak Rio
yang sedang tersenyum manis padaku.
“Lo mau kemana fy?” Tanya kak
Alvin menghadangku
“Eee, ke rumah teman. Ify pergi
dulu ya..”
“Ya udah. Ohya, kata mama, Lo mau
tampil ya di taman budaya?”
Aku menggangguk pelan. “Hehehe,
nanti gue pasti datang bareng sahabat gue.”
“Siapa?”Tanya aku penasaran
“Rio lah, siapa lagi selain
Rio..”
Hatiku terasa bahagia. Kak Rio,
ternyata akan datang juga. Apa reaksinya ya kalau ia melihatku menyanyi di
panggung? Aku bergegas pergi meninggalkan kak Alvin. Rumah kak Rio tidak
terlalu jauh dari rumahku. Jadi, aku hanya berjalan kaki saja sambil memandangi
sepucuk surat kecilku.
*****
Aku melihatnya. Aku benar-benar
melihatnya sekarang dengan kedua bola mataku sendiri. Dia, kak Rio, dia sedang
bermain basket di halaman rumahnya yang cukup lebar. Caranya bermain bagus
sekali. Aku sudah tau kalau kak Rio sering menang lomba bermain basket.
Bunyi pantulan basket memasuki
telingaku. Sudah sepuluh menit lebih aku melihatnya bermain basket. Aku
berfikir sejenak. Bagaimana cara aku memberi surat ini? Apa aku lempar saja di
pagarnya? Yap, itu harus. Tidak ada cara lain selain itu.
Oh tidak! Dia melirikku. Aku
cepat-cepat memalingkan wajahku ke arah lain. Betapa malunya diriku. Jantungku
sampai berdetak tak menentu. Tapi syukurlah, ia tidak mempedulikanku. Ia masih
saja bermain basket dengan riang.
Tanpa berfikir panjang lagi,
cepat-cepat aku menaruh surat itu di dekat pagar kak Rio dan berharap supaya
surat itu di baca oleh kak Rio, meskipun namaku tidak terpampang disana.
“Selamat membaca ya Kak Rio.” Ucapku dalam hati. Sebenarnya, aku masih betah
melihat kak Rio bermain basket. Tapi aku harus cepat-cepat pergi dari tempat
itu.
*****
Untuk
Orang Yang Ku cinta, ‘RIO’
Apa kabar Yo?
Semoga kau panjang umur dan sehat selalu. Aku disini baik-baik saja. Ku harap,
kamu juga begitu. Kamu pasti tidak suka datangnya surat ini ya? karna aku tidak
bisa menulis surat ini dengan baik. Aku akui itu.
Yo, aku ingin
memberimu sebuah lirik lagu. Baca ya:
Berdiri ku
disini hanya untukmu
Dan yakinkan ku
untuk memilihmu
Dalam hati
kecilku inginkan kamu
Berharap untuk
dapat bersamamu
Aku kan ada
untuk dirimu
Dan selalu tuk
mu
Terlukis indah
raut
Wajahmu dalam
benakku
Berikan ku
cinta terindah
Yang hanya
untukmu
Tertulis indah
puisi cinta
Dalam hatiku
Dan aku yakin
kau memang
Pilihan hatiku
Kau tau
sebagaimana perasaanku kepadamu? Yo, jujur aku akui, aku sangat sayang padamu,
aku sangat cinta padamu, dan aku BERHARAP UNTUK DAPAT BERSAMAMU.
Intinya dari
surat pendek ini, aku ingin mengungkapkan rasaku padamu bahwa aku SANGAT
MENCINTAIMU.
Itu saja surat
pendek dan jelek dariku, maaf kalo ada suatu kesalahan, oh ya, jangan lupa
datang hari sabtu sore di Taman Budaya, disana ada AKU yang siap menungguimu.
Love u Rio :D
From: Orang
yang tidak kamu ketahui
Rio menatap lembaran surat
itu. Hatinya tidak tergerak sedikitpun pada surat itu. Biasanya, jika ada orang
yang suka padanya, orang itu langsung mengungkapkan perasaan cintanya, bukan
melalui sebuah surat.
Tunggu, acara di Taman Budaya?
Bukannya Alvin akan mengajaknya datang kesana? Benar. Alvin mengajaknya kesana
di waktu yang sama pula dengan surat itu.
Rio menutup surat pendek itu dan
menyimpannya di laci mejanya. Ia membayangkan, kalau seandainya orang yang ia
cintai mengirim surat itu, betapa malunya dirinya. Seharusnya, ia yang harus
menyampaikan perasaannya duluan kepada orang yang dicintainya.
“Tenang ya Yo, Kamu harus bisa
mengungkapkan perasaan cintamu kepadanya, orang yang selama ini kamu cintai,
sebelum waktuku di dunia habis.” Ungkap Rio dalam hati. Ia tak tau mengapa
kata-kata itu hadir di dalam pikirannya. Apakah ini tanda-tanda ia akan
meninggalkan dunia?
*****
Hari yang di tunggu-tunggu telah
tiba. Kini saatnya aku akan tampil di acara Taman Budaya. Hatiku berdebar-debar
jika nantinya aku akan menyanyikan lagu ku itu. Lagu yang ku khususkan untuk
Kak Rio, dan lebih mendebar-debarkan lagi, kak Rio akan menumpang mobil kak Alvin
sekarang ini juga. Jadi, aku dapat melihatnya lagi untuk yang ketiga kalinya.
Sampailah aku di rumah kak Rio.
Kak Alvin memanggil kak Rio keras-keras. Akhirnya Rio membuka pintu dan
langsung menemui aku dan kakakku. Aku menatap wajah kak Rio dengan gemetar.
Timbul pertanyaan di dalam pikiranku. Sudahkah ia membaca suratku?
“Hai Fy!” Sapa kak Rio dengan
penuh senyuman yang manis
“Hai juga kak!” Balasku apa
adanya
Jantungku berdebar-debar sekali.
Tidak seperti tadi, sebelum kak Rio datang di mobil ini. “Kau harus bisa Fy,
jangan malu gitu!” ucapku dalam hati. Ya, aku memang malu. Mukaku saja sudah
sangat pucat. Apalagi nanti sewaktu aku tampil. Tuhan, kuatkanlah hamba-Mu ini!
*****
Tak terasa aku sudah sampai di
Taman Budaya. Jantungku kian bertambah berdebar-debar lagi. Mukaku kian pucat.
Kak Alvin menatapku dengan khawatir.
“Lo nggak apa-apa Fy?”
“Oo, nggak apa-apa kok kak.”
Aku berbohong kepada kakakku.
Kini, tiba saatnya aku bersiap tampil di muka umum. Dengan jantung yang
berdebar-debar, aku menaiki panggung sambil menghela nafas panjang. Dari jauh,
aku melihat teman-temanku termasuk Sivia dan Mia. Mereka sedang bertepuk
tangan. Aku tersenyum tipis. Tiba-tiba jantungku berdebar-debar lagi karna kak
Alvin dan kak Rio menduduki kursi yang paling depan.
“Fy, kamu pasti bisa. Ini demi
kak Rio.”Ucapku dalam hati
Alunan musik kini berbunyi. Aku
berusaha semampuku untuk bisa menyanyi dengan sebaik mungkin. “Lagu ini
kupersembahkan untuk orang yang aku sayangi dan dia sedang melirikku sekarang
dengan senyuman yang manis.” Gila? Darimana aku mendapat kata-kata aneh itu?
Secara tidak sadar aku mengucapkan kalimat itu. “Oke Fy, kita mulai.” Ucapku
dalam hati.
Berdiri ku disini hanya untukmu
Dan yakinkan ku untuk memilihmu
Dalam hati kecilku inginkan kamu
Berharap untuk dapat bersamamu
Aku kan ada untuk dirimu
Dan selalu tuk mu
Terlukis indah raut
Wajahmu dalam benakku
Berikan ku cinta terindah
Yang hanya untukmu
Tertulis indah puisi cinta
Dalam hatiku
Dan aku yakin kau memang
Pilihan hatiku
Aku menyanyikan lagu itu sebisaku
sambil menitikkan air mata. Aku berhasil menyanyikan lagu itu dihadapan orang
yang ku cinta. Ya, aku berhasil. Semua yang hadir di tempat itu bertepuk tangan
padaku. Terutama kakakku.
Seseorang melihat wajahku tanpa
sepengetahuanku. Tak terasa dia bersedih mendengar lagu itu. Air matanya tak
berhenti menetes. Ia ingat surat itu yang didapatkannya beberapa hari yang
lalu. Di dalam surat itu ada sebuah lagu yang sama persis dinyanyikan oleh Ify.
“Apakah Ify yang mengirimkan surat itu padaku?” Oh, kalau saja benar, betapa
bahagia hidupnya. Orang yang ia cintai telah mencintainya pula. Apakah ini yang
dinamakan dengan cinta sejati?
“Owh.” Dadanya terasa sakit
sekali. Ia menjerit kesakitan. Tapi, ia usahakan untuk tidak menjerit supaya orang-orang
tidak tau bahwa ia mederita penyakit mengerikan, yang menyangkut nyawanya.
“Tuhan, jantungku, kenapa sakit begini? Apakah aku akan mati?”Ucapnya dalam
hati
“Eh Yo, Lo kenapa?” Tanya
sahabatku, Alvin
“Nggak apa-apa kok Vin.” Ia
berusaha untuk tersenyum. Sakitnya tidak terlalu parah. Mungkin Tuhan
memberinya izin untuk segera mengungkapkan perasaan cintanya pada orang yang ia
cinta.
*****
Ia menatap wajahnya sekilas di
depan cermin nan bening. Wajahnya begitu tampan. Sangat tampan. Disamping
tampan, ada gambaran pucat di wajahnya. Kini hidupnya di dunia tinggal sebentar
lagi, ia sudah merasakannya. Tiba-tiba, air matanya yang bening membasahi
pipinya secara perlahan-lahan.
“Tuhan, mengapa aku ditakdirkan
untuk menerima penyakit ini? Mengapa? Seandainya ada pertukaran nasib, jika Kau
ingin wajahku menjadi jelek tapi penyakit jantungku sembuh, aku menerimanya.
Aku tidak ingin meninggalkan dunia ini. Kasian mama dan papaku, mereka
sendirian di rumah mungil ini, tanpa kehadiranku.”
“Rio..???” Ada suara lembut
memanggil namaku
“Ya ma?”
“Kok mukamu pucat sih? Ada apa?”
“Rio Cuma kelelahan saja. Soalnya
tugas kuliah Rio banyak sekali.” Katanya berbohong
“Kalau ada masalah, beritahu mama
ya.”
Aku mengangguk pelan. Mamaku
tersenyum manis padaku. “Oh, aku tidak ingin meninggalkan mama, dan senyumannya
yang sangat manis, Tuhan, sembuhkanlah penyakitku ini.”
Ia mengambil surat kecil di
lacinya. Itu pasti surat dari ify, pikinya. “Aku harus mengungkapkan perasaan
cintaku kepadanya. Harus. Sebelum waktuku di dunia habis.” Tekadnya.
Cepat-cepat ia mengambil jaket
abu-abunya dan langsung pergi ke toko bunga. Hari ini cuaca sangat tidak
mendukung. Angin berhembus kencang. Dadanya terasa sesak ketika angin berhembus
ke tubuhnya. Tapi demi cintanya, ia harus pergi ke toko bunga. Walaupun badai
kencang melawannya.
*****
Ia memegang setangkai bunga mawar
merah. Baunya sangat harum. Walaupun bukan bunga asli, tetapi baunya tetap
harum baginya. “Owh.” Rintihnya seketika. Dadanya terasa sakit. Bahakan terasa
lebih sakit dari sebelumnya. Kepalanya juga terasa pusing. Tiba-tiba ia
terjatuh.
“Adik tidak apa-apa?” Tanya
penjual bunga
“Bunga, aku harus memberinya
bunga.” Katanya secara tidak sadar. “Tuhan, jangan sekarang, jangan sekarang,
berilah aku sedikit waktu saja.” Rintihnya dalam hati.
Matanya kini tertutup rapat. Tapi
ia masih memegang setangkai bunga mawar itu. Benar, bunga mawar itu masih ada
di tangannya.
*****
“Oh tidak!”
Aku bermimpi buruk, sampai-sampai
keringatku bercucuran membasahi sekujur tubuhku yang ketakutan. Mimipiku sangat
mengerikan. Entah dalam mimpi itu aku melihat kak Rio sedang dililit ular cobra
yang ganas. Ular itu meremas-remas tubuhnya sampai hancur. Apa ini ada
kaitannya dengan kak Rio?
Sore ini terasa sangat aneh
bagiku. Cuaca tidak mendukung. Di rumah sangat sepi. Semuanya menghilang entah
kemana. Hanya Bi Ima saja yang masih ada di rumah.
“Bi, dimana kak Alvin?” Tanyaku
panik
“Tadi dia kasih tau bibi, dia mau
pergi ke rumah sakit. Katanya ada temannya yang sakit.”
Deg. Hatiku terasa sakit sekali.
Walaupun aku belum tau siapa teman kak Alvin yang sakit. Cepat-cepat aku
menelpon kak Alvin.
“Halo kak, kakak ada dimana?”
“Di rumah sakit Lisa.”
“Si..siapa yang s..sakit?”
“Rio.. kakak ada di ruang 8F.”
Suara bantingan HP ku terasa
keras. Aku memang tak sengaja menjatuhkan HP ku ketika mendengar jawaban kak
Alvin yang menusuk-nusuk jantungku. Untung saja aku tidak pingsan. Dengan hati
yang tertusuk-tusuk, aku segera pergi ke rumah sakit. Menemui orang yang sangat
ku cintai.
*****
Aku melihatnya terbaring lemah di
ranjang rumah sakit. Matanya masih mengatup. Tapi, wajahnya masih saja terlihat
tampan. Walau tak seperti biasanya. Aku mendekati kak Alvin dan seorang wanita
setengah baya yang kini menangis tersedu-sedu. Mungkin wanita itu mamanya kak
Rio. Tak terasa air mataku ikut terjatuh.
“Oh tidak! Kak Rio!”
Hatiku bak bawang yang
teriris-iris dengan pisau yang lancip. Air mataku mengalir dengan derasnya,
seperti air hujan yang tidak pernah berhenti turun. Aku memegang tangan kak Rio
yang sangat lemas dan dingin. Air mataku jatuh di tangannya.
“Kak, kenapa kakak sakit? Kenapa?
Ify nggak rela kak. Ify nggak bisa hidup tanpa kehadiran kakak, karna, Ify
sayang sama kakak. Sadar kak, sadar, Ify mohon supaya kakak sadar.”
Aku mengis tersedu-sedu. Hanya
Tuhan yang dapat membangunkannya. Ajaib. Tuhan mengabulkan doaku. Kedua bola
matanya kini terbuka secara perlahan-lahan. Mulutnya seperti ingin membicarakan
sesuatu.
“Fy..” ucapnya lembut. Dadaku
berdesir.
“K..kak Ri..Rio..?”
“Kamu disini? A..aku ingin
mem..memberimu se..sesuatu.”
Dengan bersusah payah, kak Rio
mengambil setangkai bunga mawar merah di samping ranjangnya. Sungguh indah
bunganya. Ia memberikan kepadaku. Hatiku terpaku. Aku tak dapat bicara
sedikitpun.
“Ambil bunga ini Fy, bunga ini
hanya untukmu. Sebenarnya, ha..hari ini ak..aku ingin me..menembakmu,
tapi..tapi usiaku di dunia ki..kini sudah ha..habis. Aku tak mampu lagi
hi..hidup di dunia ini,aku..aku beruntung karna Tuhan masih mem..memberiku izin
untuk bi..bisa mem..memberikan setangkai bu..bunga mawar ini pa..padamu, jadi,
te..terimalah bunga ini..”
Dadaku terasa sesak. Aku menerima
bunga itu dengan hati yang teriris-iris. Tak mampu lagi mulutku untuk
mengeluarkan sepatah kata. Ternyata, kak Rio begitu mencintaiku, dan aku baru
menyadarinya sekarang.
“Kak, Ify juga ingin bilang kak.
Kalo Ify yang memberikan surat itu kak…”
“Kau Fy ya..yang memberi surat
itu..?”
Aku mengangguk pelan, dan ia pun
tersenyum.
“Fy, aku ju..ga sa..sayang
k..kamu..” Suaranya kian melemah dan semakin melemah hingga kedua bola matanya
yang indah tertutup pelan secara perlahan bersama senyuman yang manis. Senyuman
yang makin lama makin pudar. Aku tak tahan ingin berteriak keras.
“Jangan tinggalin Ify kak
Yo..jangan..Ify nggak bisa hidup tanpa kak Yo..Kalo kak Yo cinta sama Ify, kenapa
baru sekarang kak Yo kasi tau ke Ify? Kak Yo, Ify sayang sama Kak Yo…”
Percuma saja aku berteriak
keras.Tetap saja kak Rio menutup mata. Aku tak tega melihatnya seperti itu.
Tittt… aku melihat suatu alat yang tak ku ketahui namanya. Tapi aku mengerti. Mulai
sekarang, dia akan meninggalkan dunia ini. Berjalan menuju dunia lain yang tak
kukeahui bagaimana rupanya. Air mataku menetes deras. Aku tak percaya dia telah
tiada.
“Kak.. Jangan pergi..” Teriakku
keras. Kak Alvin memeluk tubuhku dengan erat. Mencoba untuk menenangkanku. Tapi
tetap saja aku menangis, dan aku ingat setangkai bunga mawar tadi. “Ya, aku
harus menjaga bunga ini..” Kataku dalam hati sambil mencium bunga mawar itu.
*****
Hari ini berbeda dari hari
sebelumnya. Aku merasakan perbedaan yang sangat berbeda. Air mataku tetap saja
mengalir, walau tak sebanyak tangisanku kemarin. Kini, tiada lagi senyuman,
canda, tawa, dari kak Rio. Yang tersisa hanya kesedihan yang luar biasa, perih
di hatiku, juga setangkai bunga terakhir darinya. Bunga itu membuat diriku kuat
memulai kehidupan baru. Tanpa adanya sosok pemberi bunga itu.
Tak terasa sudah hampir setahun
aku berada di kota Malang. Namun, kesedihan masih saja menghantuiku. Aku
mencoba mencari orang lain sebagai pengganti kak Rio. Tapi, tak ada satupun
orang yang cocok menggantinya.
Pernah ada rasa cinta antara kita
kini tinggal kenangan
Ingin kulupakan semua tentang
dirimu
Namun tak lagi kan seperti dirimu
oh kekasih…
Tit… HP ku bordering keras. Aku
kaget. Pagi-pagi buta sudah ada yang menelponku. Ku ambil HP ku yang berada di
meja belajar. Hatiku bergetar. Ternyata itu suara Tante Rifa. Tumben dia telpon
aku. Nomornya baru lagi, dan aku sangat rindu pada tante yang satu ini.
“Apa kabar Tan?”
“Baik, kalau kamu sendiri
gimana?”
“Baik juga Tan, kok ganti nove
sih?”
“Iya, soalnya HP tante yang dulu
rusak. Fy, tante ingin memberitahu hal penting padamu. Sesuatu yang harus kau
pilih dengan hati nuranimu. Tapi lewat sms aja ya?”
“Baik tante..”
Wuih, cepat banget dia memutuskan
sambungan. Sebenarnya, aku ingin berbicara banyak tentang dirinya,
teman-temanku yang ada di Bandung, tapi ya sudahlah. Toh aku bisa telpon dia
lagi. Kaya’ nggak ada waktu saja. Ya, hatiku sangat gembira pula. Sudah lama
aku tidak mendengar suara lembut tante Rifa. Perlahan-lahan, aku rindu kota
kelahiranku. Rindu akan kenangan-kenangan manis dari kota itu.
Tit..Tit..Tit..Tit.. Ada pesan
masuk di HPku. Aku yakin itu dari tante Rifa. Benar juga. Itu dari Tante Rifa.
Hatiku berdebar-debar karna ingin tau apa yang akan disampaikan oleh tante
Rifa.
Baca ya sms tante. Smoga km tdk
kberatn mmbca psn sngkt ini
Fy, sdh lama tante tdk mlht wjhmu
yg cantik. Hmpr sethn pnh tante blm mlht snyumn manismu. Tante ksepian di rmh
tnpa kehadiranmu. Sbnrnya, tante ingin km tnggal di rmh tante. Tp oratuamu melarang.
Ya bgaimanapun jg tante tdk bsa mncegahmu lg. Tp, tante sdh bicara dg orgtuamu
akn keinginan tante supaya km tnggal di rmh tante n’ orgtuamu setuju. Mngkn sj
skrg km sdh dewasa, bsa bertanggung jwb sndiri. Skrg, tante memohon kpdmu agar
km tnggal di rmh tante. Ceriakanlah hari2 tante, bahagiakanlah tante..
Gtu sj dri tante, mav yak lo ada
kata2 yg tdk baik dari tante.
Ya benar. Tante Rifa tinggal
sendiri. Suaminya sudah meninggal kira-kira sewaktu aku masih SD. Sudah sangat
lama bukan? Dan tante Rifa belum juga memiliki anak. Kasian juga dia.. Aku
sudah menganggap tante Rifa sebagai ibu kandungku sendiri. Hah, aku bingung mau
jawab apa. Lebih baik, aku musyawarahan saja bersama keluargaku. Agar pilihanku
tidak aku sesalkan.
Nnti dh Ify jwb yya…
Love tan…
Jawaban yang sederhana. Jika
seandainya aku menerima keinginan tante, aku yakin kalau aku tak akan bisa
kuliah di brawjaya. Ah sudahlah. Tapi sejujurnya aku ingin tinggal dengannya.
Tak peduli aku akan bersekolah dimana. Cepat-cepat aku berlari menemui
orangtuaku.
****
Yeah, aku sudah menceritakan
keinginan tante Rifa kepada kedua orangtuaku yang tertunya pasti sudah tau dari
dulu sebelum aku mengetahui masalah itu. Orangtuaku menyuruh aku tinggal
disana, menemani hari-hari tante Rifa. Disini kan masih ada kak Alvin dan deva
yang menemani orangtuaku.
Setelah difikir-fikir secara
matang, aku menerima tawaran tante Rifa. Ya, tante Rifa sangat senang mendengar
jawaban dariku. Dia tak kesepian lagi. So, selamat tinggal Kota Malang! Akan ku
kenang selalu tempat ini. Terutama…terutama…tiba-tiba air mataku jatuh lagi.
Aku teringat kak Rio. Mana mungkin aku bisa hadir di pemakamannya, sedangkan
aku kini akan tinggal di Bandung. Hah, sabar Fy. Masih ada bunga mawar merah
yang menemanimu, dimanapun kamu berada, dan aku yakin kak Rio pasti bahagia,
karna aku bahagia. Begitu pula sebaliknya, jika aku sedih, tentu saja kak Rio
akan sedih.
Akhirnya, sampailah aku di
bandara Husein Sastranegara. Aku tak percaya. Sungguh tak percaya. Sekarang,
hari ini, mulai saat ini, aku akan tinggal di kota kelahiranku. Tak ku sadari,
ada seseorang wanita dari jauh memanggilku cukup keras. Itu.. tante Rifa!
Aku bergegas menuju tante Rifa. Perasaan rindu, kangen, haru, dan bahagia kini
bercampur menjadi satu. Tante Rifa memeluk tubuhku dengan sangat erat. Lebih
erat dari pelukan mamaku sendiri. Kak Alvin yang menantarku kemari juga sangat
terharu karna pertemuan ini. Setelah lama berpelukan, tante Rifa mencium
keningku.
“Fy,kau makin cantik saja.”
pujinya membuat pipiku memerah
“Ah tante ini..”
“Lha ini bang Alvin to? Guanteng
banget.” Pujinya lagi kearah kakakku
“Makasih tan..”
“Ayo-ayo, tante bawa mobil
sendiri kok. Tante akan ngajak kalian berdua ke rumah tante.”
Aku dan kak Alvin mengangguk
girang. Baru kali ini aku melihat tante Rifa kegirangan. Biasanya dia suka
bersedih dan murung. Gak tau kenapa. Atau mungkin karna dia sendirian hidup di
rumah. Kedatanganku kemari adalah obat penyembuh kesedihan tante Rifa.
“Fy, ada seseorang yang sangat
merindukanmu.”
“Siapa tan?”
“Nanti kamu akan tau. Orang itu
menungu kedatanganmu, dan dia berada di rumah tante.”
Wah, rasa penasaranku kambuh
lagi. Aku sangat penasaran dengan orang yang dibicarakan tante Rifa. Apa
mungkin Nova ya? Sudah lama sekali aku tidak melihat wajahnya. Apa dia masih
senarsis dulu? Banyak pertanyaan yang hadir dalam kepalaku. Membuatku ingin
cepat sampai di rumah tante Rifa.
*****
Sampailah aku di depan pintu
rumah tante Rifa. Rumahnya benar-benar tak berubah. Tembok rumahnya masih
berwarna hijau, gerbangnya pun masih berwarna hitam. Begitu pula rumah pohon
yang sering dinaiki sama anak-anak jahil. Hihihi, aku selalu terkekeh mengingat
masa-masa itu.
“Ayo masuk!” ajak tante Rifa
Kami bertiga masuk ke dalam
rumah.Tak tau mengapa hatiku sedaritadi berdebar-debar hebat. Aku masih
penasaran siapa orang yang diceritakan tante Rifa.
“Masuk ke dalam kamar ini Fy.
Disana ada seseorang yang menunggui kedatanganmu.”
Aku masuk dengan hati deg-degkan
plus pertanyaan. Perlahan-lahan aku membuka pintu kamar. Hatiku berdesir. Aku
melihatnya sekarang. Ia sedang tersenyum memandangi wajahku, senyuman yang
sangat aku rindukan. Wajahnya, suaranya dan sifatnya yang sangat aku rindukan
pula. Ia melihatku dengan linangan air mata. Tak terasa air mataku jatuh. Oh,
sudah lama aku berpisah dengannya. Tuhan, Engkau telah menjabah do’aku, agar
suatu hari aku bisa bertemu dengannya, dan sekarang, aku sedang berhadapan
dihadapannya.
Dengan perasaan rindu yang
dahsyat, aku berlari menuju tempatnya. Dia terlihat bahagia, dan… dia langsung
memeluk tubuhku dengan erat. Pelukan yang membuat hatiku terasa bahagia. Aku
menangis bahagia di pundaknya, membasahi baju kuningny yang terlihat kering.
Tuhan, aku tidak ingin menangis, tapi mengapa aku menangis?
“Ify…” Lirihnya. Aku tak sanggup
untuk berbicara. Tubuhku masih berada di pelukannya. Sungguh, aku tak ingin
melepas pelukan hangat darinya.
“Fy, aku…aku rindu kamu..”
Hatiku bergetar hebat ketika
mendengar suaranya. Tubuhnya makin kurus saja. Dulu, saat terakhir aku
melihatnya, tubuhnya tidak kurus seperti ini. Aah, berapa kali sehari ia makan?
Aku terkekeh sendiri. Dia heran melihat tingkahku dan langsung melepas
pelukannya dari tubuhku. Kini, saatnya aku untuk berbicara. Memanggil namanya
yang hampir aku lupakan. Diaa….
“Gab..bri..el..???” Lirihku.
Sudah lama aku merindukan nama itu. Gabriel mengelus-ngelus rambutku dan
menyeka air mataku dengan tangan yang bergemetar. Senang rasanya hari ini. Aku
tersenyum melihat wajahnya.
“Fy..? Tanyanya
“I..iya..” Jawabku
“Aku…aku ingin bilang sesuatu
kepadamu.”
“A..apa itu?”
“Aku..aku cinta kamu Fy, maukah
kamu menjadi pacar aku?”
Aku kaget mendengar perkataannya.
Perasaan bingung kian menghampiriku. Aku benar-benar bingung mau menjawab apa.
Sejujurnya aku…aku masih mencintai kak Rio. Aku tak ingin mencintai oranglain
selain kak Rio. Gabriel melirik wajahku yang tertunduk lesu.
“Fy, maaf ya perkataanku tadi…”
Aku tetap diam seribu bahasa.
Sangat sulit berkata ‘iya’ maupun berkata ‘tidak’. Sangat sulit menerima
ataupun menolak. Oh tidak! Ada sesuatu yang aku lupakan. Bunga itu, bunga dari
kak Rio tertinggal di Malang, aku lupa membawanya kemari. Betapa bodohnya aku.
“Fy, sabar ya, jangan menangis lagi, kau harus melupalan bunga itu, kau harus
memilih Gabriel sebagai pilihan hatimu sekarang.” Hati nuraniku berkata
kepadaku. Aku bingung sekali.
“Gab, e…kapan-kapan aja ya aku
jawab.” Jawabku
Mungkin, perkataanku tadi
membuatnya lesu. Aku kasian pada Gabriel. Sudah sangat lama ia merindukan
diriku. Sudah sangat lama ia menunggui kedatanganku hanya untuk berkata,”Fy aku
cinta kamu, maukah kamu menjadi pacar aku?” Tapi, aku belum bisa menjawab
pertanyaan darinya. Oh, betapa jahatnya diriku.
“Aku permisi dulu ya. Oya, entar
lagi Nova mau kesini, katanya dia kangen sama kamu.”
Aku mengangguk pelan. Melihat
kepergiannya dari rumah ini. Andai kata aku dapat kembali ke Malang, just for
take the flower from him… Tiba-tiba dunia terasa gelap.
*****
Hari ini, detik ini, tahun
ini, hatiku benar-benar kuat untuk bisa melupakan kak Rio. Terutama bunga mawar
darinya yang masih berada di Malang. Hatiku harus mantap untuk memilih Gabriel.
“Duaaarrr…!”
Duh, aku cemberut sekali. Cowok
itu mengangetkanku. Ya, cowok itu adalah Gabriel, dan dialah yang menemani
hari-hariku disini, walaupun aku belum menjawab pertanyaan darinya. Mungkin
saja dia sudah lupa.
“Fy, entar lagi kan liburan
semester, gimana kalo pas liburan gue ajak Lo pergi ke Malang? Gimana? Ajak tuh
tante Lo biar seru.”
Perkataan Gabriel tadi membuat
hatiku bahagia. Aku rindu mama, papa, kak Alvin dan Deva. Aku rindu Sivia, Mia
dan seluruh orang yang pernah aku kenal di Malang. Tentu saja aku menjawab
‘iya’.
*****
Aku, Gabriel, sekarang berada di
pemakaman Kak Rio. Aneh. Menapa Gabriel mengajakku ke tempat ini? Bukannya
Gabriel tidak mengenal kak Rio? Atau mungkin saja ia kenal.
“Gab, Lo kenal kak Rio?” Tanyaku.
Gabriel hanya tersenyum melihatku
“Gue kenal sama kak Rio dari kak
Alvin. Dulu, kak Alvin sering cerita ke gue tentang kak Rio. Kebaikannya,
perilakunya, kesopanannya, semua tentang kak Rio sudah diceritakan oleh kak
Alvin. Nggak tau juga ya kenapa gue merasa dekat sama kak Rio, meskipun gue
belum ketemu langsung dengannya. Fy, kak Alvin juga udah cerita ke gue kalo Lo
itu suka sama kak Rio. Tapi kak Rio meninggal. Sejujurnya gue sedih mendengar
kabar kak Rio meninggal. Gue ngerasa ada sesuatu di hidup gue yang hilang. Fy,
seandainya kak Rio masih ada, gue rela kok Lo pacaran sama kak Rio, gue rela Fy
karna kak Rio lebih baik dari gue, lebih dewasa gitu dibanding gue. Ya sudahlah
Fy, jangan bahas dia lagi. Apa Lo sedih Fy?”
Aku terdiam sesaat. Sama sekali
tak percaya dengan penjelasan Gabriel. Tapi aku yakin kalau penjelasannya
benar. Selama aku mengenal Gabriel, dia tidak pernah membohongiku. Yeah, yang
sudah biarlah sudah. Aku tak boleh sesedih dulu. Ingat Fy, masih banyak orang
yang menyayangimu, termasuk Gabriel.
“Gue nggak sedih kok.”
Gabriel tersenyum lega. Ia
membuka tas ransel hitamnya.Aku melihatnya dengan seksama. Apa? Bukannya itu
bunga mawar pemberian kak Rio? Kok bisa ada di tangan Gabriel?
“Masih inget nggak bunga ini?”
“Ya, itu bunga dari kak Rio.
Darimana Lo dapat bunga itu?”
Gabriel menghela nafas sesaat dan
mulai bercerita. “Gue dapat bunga ini di kamar Lo. Gue iseng aja ambil bunga
ini, tepatnya di meja belajar Lo. Gue yakin ini bunga mawar yang pernah
diceritakan kak Alvin. Jadinya, gue ambil aja bunga ini. Fy, kenapa Lo
tinggalin bunga ini? Kan kasian Fy. Apa Lo nggak sayang lagi sama kak Rio?”
Hatiku tiba-tiba sedih mengingat
bunga itu. Entah air mataku kembali menetes secara perlahan-lahan. “Gab, gue
masih sayang sama kak Rio, dan gue lupa bawa bunga ini ke Bandung. Sejujurnya,
gue mau ambil bunga ini, tapi..tapi gue nggak enak sama Lo. Gue kasian ngeliat
Lo kalo gue jatuh cinta sama cowok lain, makanya gue harus lupain bunga ini dan
gue harus…harus nerima permintaan Lo yang dulu Lo kasih ke gue dan sampai saaat
ini gue belum menjawabnya. Gab, gue mau kok jadi pacar Lo, tapi..tapi gue masih
sayang sama kak Rio..”
“Fy, gue senang kalo Lo berdua
sama kak Rio, kan gue udah bilang tadi, gue rela Lo pacaran sama Rio. Fy, gue senang
juga kalo Lo jadi pacar gue, Lo boleh cinta sama gue sekaligus sayang sama kak
Rio. Lo juga harus menjaga setangkai bunga mawar ini, sebagai tanda sayang Lo
pada kak Rio, gue senang Fy..senang…”
“Lo nggak iri sama kak Rio?”
Gabriel tertawa geli mendengar
ucapanku. “Ify..Ify…gue nggak akan iri sama kak Rio, omongan Lo tadi lucu
banget..lucu…walaupun kak Rio masih ada maupun tidak ada, gue nggak akan iri
dengannya. Justru gue malah senang kalo Lo makin sayang sama kak Rio..”
Aku tersenyum. Benar juga yang
dikatakan Gabriel tadi. Aku harus mencintai dua kekasihku yaitu Gabriel dan kak
Rio. Dua orang lelaki yang sama-sama menjadi pilihan hatiku. Aku mengambil
bunga mawar dari tangan Gabriel. Bunga itu terlihat agak kusam. Tapi tak
apalah, bunga ini masih terlihat cantik seperti dulu. Saat kak Rio memberi
bunga ini untukku.
“Okelah Gab, gue mau jadi pacar
Lo sekaligus terus sayang sama kak Rio, meskipun gue dan dia ada di dunia
berbeda, gue yakin kak Rio pasti bahagia, karna gue bahagia..”
“Nah gitu dong!” Gabriel
merangkulku. Ia juga terlihat bahagia di depan makam kak Rio. Oh, hari ini
sungguh indah. Aku bersyukur mempunyai pacar seperti Gabriel. Jarang ada cowok
sebaik Gabriel.
“Fy, balik yuk?” ajaknya menarik
tanganku
“Tunggu! Pliss, Lo berdiri
disini, sebentar aja. Gue mau pergi ke pohon kecil itu.”
Gabriel menuruti kemauaku. Aku
berlari kecil menuju pohon kecil itu. Di kelopak mataku, aku membayangkan sosok
‘Rio’ disamping Gabriel, dan benar! Aku melihatnya berdiri disamping tubuh
Gabriel. Sesosok cowok yang sangat manis. Dia adalah kak Rio. Ia tersenyum
melihatku. Hatiku berdebar-debar hebat. Entah apakah itu hanya imajinasiku
saja, atau mungkin…mungkin saja itu bayangan kak Rio yang nyata. Mungkin saja
kak Rio diciptakan kembali untuk bertemu denganku atau hanya untuk memberikan
senyuman termanis yang dimilikinya.
Dalam hatiku yang terdalam, aku
menyanyikan sebuah lagu.Lagu yang sama persis aku nyanyikan di acara Taman
Budaya. Lagu khusus untuk kak Rio. Tapi sekarang, lagu itu ku khususkan hanya
kepada kak Rio dan juga kepada Gabriel. Dua sosok yang sekarang sedang
tersenyum manis ke arahku.
Berdiri ku disini hanya untukmu
Dan yakinkan ku untuk memilihmu
Dalam hati kecilku inginkan kamu
Berharap untuk dapat bersamamu
Aku kan ada untuk dirimu
Dan selalu tuk mu
Terlukis indah raut
Wajahmu dalam benakku
Berikan ku cinta terindah
Yang hanya untukmu
Tertulis indah puisi cinta
Dalam hatiku
Dan aku yakin kau memang
Pilihan hatiku
________________________________END______________________________________________________________________________________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar