Seorang gadis sedang memandangi gelapnya malam hari. Sang
purnama mengintipnya dari balik jendela kamarnya yang bening. Gadis itu
berkhayal ingin memiliki sesosok pangeran yang selalu menyayanginya apa adanya.
Angin berhembus kencang. Gadis itu semakin kedinginan. Ia tau cuaca malam ini
tidak bersahabat. Ditutupnya jendela kamarnya secara perlahan.
Besok adalah hari Senin. Ia ingat. Besok adalah hari
ulang tahunnya. Ia tidak peduli apa yang akan dilakukan teman-temannya di saat
ia ulang tahun. Apakah ia akan dilempar dengan
tepung? Ataukah dengan telur? Yang jelas ia tidak peduli. Sekarang, ia harus
berkonsentrasi belajar karena besok ada ulangan biologi.
_________________________________
Jam weker menunjukkan hampir pukul tujuh pagi. Via, gadis manis itu
cepat-cepat turun dari kasurnya dan segera menuju ke kamar mandi. Sial banget gue
hari ini. Gerutunya dalam hati. Tiba-tiba, kakaknya yang bernama Ulfa langsung
mencegatnya.
“Happy birtday ya adekku yang cantik.”
Via hanya tersenyum lalu pergi tanpa menjawab ucapan selamat dari kak Ulfa.
Di dalam kamar mandi, Via sibuk menghafal pelajaran biologinya. Untung saja Via
pintar dan semua pelajaran yang ia pelajari masuk ke otaknya.
__________________________________
Pintu gerbang hampir saja ditutup oleh satpam berkumis tebal itu. Tapi Via
masih bersyukur karena satpam itu memberinya izin untuk masuk. Cepat-cepat Via
berlari menuju ruang kelasnya. Dalam perjalanan, Via tak sengaja menabrak
seorang cowok. Akibatnya, tubuh Via terjatuh ke tanah. Cowok yang ditabraknya
itu langsung menolongnya untuk berdiri.
“Hei, Lo nggak apa-apa?.”
“Nggak apa-apa kok.”
Wajah cowok itu kelihatan manis. Pipi Via merona merah. Hanya masalah cowok
saja pipinya langsung memerah. Via bangkit dan langsung berterimakasih kepada
cowok yang menolongnya itu.
“Makasih ya.”
“Iya sama-sama. Lo siapa?.”
“Aku Via. Kalau Lo?.”
“Aku Ezza. Senang ketemu dengan Lo ya. Oya, gue pergi dulu yaa.”
Via mengangguk pelan melihat kepergian Ezza. Ah, cowok itu sudah memikat
hatinya. Kenapa juga ia jatuh cinta pada cowok ganteng itu? Via berhenti
berpikir. Ia langsung berlari menuju kelasnya.
_____________________________
Jam istirahat tiba. Via beserta ketiga temannya pergi menuju kantin. Setiap
hari, mereka pergi ke kantin demi membeli nasi goreng buatan Pak Sobi yang
lezat itu.
“Hai Via!” Sapa seseorang.
“Oh, elo Van. Hai juga!” Balas Via sambil tersenyum.
Benar. Irvan. Cowok itu juga sering memikat hatinya. Irvan sering
mengajaknya jalan-jalan ke Taman menggunakan mobilnya yang keren itu.
“Emm, Lo ada waktu nggak nanti sore?.”
“Ada kok, emangnya ada apa?.”
“Nanti gue ajak Lo pergi ke tempat yang indah. Mau kan?.”
“Iya deh.”
Irvan langsung berlalu dihadapan Via. Sesaat, Via berpikir. Mau apa ya si
Irvan ngajak gue ke tempat yang indah? Pasti ada sesuatu nih yang pengen dia
bicarakan ke gue?
________________________________
Cowok itu tersenyum bahagia sejak kejadian tadi pagi. Ah Via. Lo cantik
banget. Pujinya dalam hati. Ezza benar-benar telah jatuh cinta pada Via. Ia
yakin sekali. Tiba-tiba pintu terbuka. Heem, ternyata ada Irvan. Sepupunya.
“Ada apa Van?.”
“Emm, gue sedih dih.”
“Sedih kenapa?”
Irvan menghela nafas panjang. Ia lalu menceritakan kejadiannya tadi sore.
Sebenarnya, ia ingin menembak Via, cewek impiannya. Tapi Via menolaknya dengan
halus. Katanya, Via belum siap untuk pacaran. Via juga bilang kalau dia sayang
sama Irvan dan cinta sama Irvan. Aneh kan? Kalau sudah cinta, kenapa nggak
terima aja cinta dari Irvan?
“Via siapa?.”
“Alivia Nirmala. Cewek itu aneh. Padahal, dia cinta sama gue, tapi kok dia
nggak mau ya jadi pacar gue?.”
“Ya, mana gue tau.”
Via? Heem. Mudahan saja bukan Via yang dikenalnya tadi pagi. Cewek cantik
yang telah menghiasi hidupnya.
__________________________
Bukannya itu Via dan Ezza? Tanya Irvan dalam hati. Dari jauh, Irvan melihat
Via dan Ezza sedang duduk berdua. Pasti gara-gara Ezza, Via menolak cintanya.
“Hai Via! Hai Ezza!”
“Emm, hai ju..juga.” Balas Via gugup
“Za, Lo kenal ya sama Via?.”
“Kenallah Van.” Jawab Ezza enteng
“Via, gue sekarang tau kalo Lo nggak nerima cinta gue gara-gara Lo suka
sama Ezza kan? Via, Lo harus tau, kalo gue itu sudah cinta dari dulu sejak kita
masuk SMA. Sedangkan Ezza, Lo baru kenal kan sama dia?.”
Via diam tidak menjawab. Dalam hati kecilnya, ia cinta sama Irvan. Tapi, ia
juga cinta sama Ezza. Dua lelaki yang kini menakluki hatinya. Sekarang, yang
mana yang akan ia pilih? Irvan ataukah Ezza?
“Maafin gue Van. Gue cinta sama elo, tapi gue juga cinta sama Ezza.” Via
menangis dan pergi meninggalkan tempat itu.
“Sejak kapan Lo kenal Via?.” Tanya Irvan
“Kemaren. Ternyata, Via yang Lo maksud adalah Via yang gue cintai.”
“Apa? Lo juga cinta sama Via?.”
Ezza mengangguk.
“Za, diantara kita berdua harus mengalah. Kasia Via.”
“Gue nggak bisa. Gue cinta sama Via Van. Gue nggak bisa lupain Via.”
Ezza pun pergi meninggalkan Irvan. Hah, Irvan terdiam sesaat. Ia tak
percaya kalau Ezza juga cinta sama Via. Jadilah cinta segitiga antara ia, Ezza
dan Irvan.
______________________________
Di malam sunyi ini, Via memainkan gitarnya. Suaranya yang merdu menyayikan
lagu favoritnya yang berjudul Kau dan dia. Via tidak bisa memilih antara Ezza atau
Irvan. Mereka berdua sama-sama pintar, cakep, dan baik.
Malam semakin gelap. Kedua mata Via menutup. Ia yakin. Mimpilah yang akan
menjawab pertanyaannya saat ini.
____________________________
Di sekolah, Irvan berlari mencari Via dengan muka yang agak sedih. Via
kaget melihat Irvan yang berlari aneh menuju hadapannya.
“Ada apa Van?.”
“Via, gue...gue rela kok ngasih Ezza ke elo, gue tau kalo Lo lebih sayang
sama Ezza.”
Setelah Irvan mengucapkan perkataan itu, Irvan langsung pergi begitu saja.
Via memandang punggung Irvan yang semakin lama semakin menghilang. Menit
kemudian, datang Ezza menenagkan Via.
“Vi, Irva nyuruh gue untuk jadi pacar Lo. Lo mau kan?.”
Via tak menjawab. Tapi kepalanya diangguk secara perlahan. Ezza tersenyum
melihat Via, lalu diajaknya Via menuju kantin.
_________________________
“Eh Vi, Irvan kok nggak pernah keliatan ya?.” Tanya Ezza saat ia dan Via
sedang bersantai di taman.
“Gue nggak tau.”
“Kata Mamanya, sudah lima hari Irvan belum pulang ke rumahnya. Kemana aja
dia?.”
Spontan Via kaget mendengar penjelasan Ezza. Jadi Irvan menghilang selama
lima hari? Apa itu tidak
buruk? Via kira, Irvan hanya sakit saja lalu tidak masuk ke sekolah.
___________________________
Seorang
cowok tengah berbaring di pantai bersama seorang cewek yang sebaya dengannya. Cowok
itu memandangi lautan tanpa mengedipkan matanya. Cewek yang disampignya itu
memerhatikan cowok itu dengan perasaan kasian.
“Hei Van, sebaiknya Lo pulang aja deh. Kasian Mama Papa
Lo.”
“Hmm, nanti dah Zev gue pikirin.”
Sudah lima hari Irvan tinggal di rumah teman SDnya yang
bernama Zeva. Walaupun Zeva cewek, tapi Irvan tetap
mengingat Zeva.
“Pikirin
dong sekarang.”
“Tapi, gue cemburu ngeliat Via bersama Ezza.”
“Hah, Lo ini. Gini aja, gue aja yang jadi pacar Lo. Gue
akan berusaha untuk hilangin rasa cinta Lo sama Via, gimana?.”
Irvan tengah berpikir. “Ya udah deh. Nanti gue balik ke
rumah. Lo ikut ya?.”
Zeva mengangguk pelan. Dirangkulnya Irvan dengan rasa
sayang sebagai seorang sahabat. Bukan pacar. Zeva sebenarnya nggak suka
pacaran. Tapi demi menghilagkan rasa cinta Irvan ke Via, Zeva rela melakukan
apa saja demi sahabatnya itu.
_______________________________
“Via, gue mau ngomong sama elo.”
“Ada apa Za?.”
“Gue mau putus sama Lo. Ternyata, gue sadar kalo Lo itu
lebih cocok sama Irvan. Gue janji Vi akan nyari Irvan sampai ketemu.”
Via diam tidak menjawab. Ezza sepertinya tak peduli
dengan jawaban Via. Ia langsung pergi saja meninggalkan Via seorang diri.
_________________________________
Hati ini semakin sepi. Hidup ini semakin rapuh. Sore ini,
Via melihat Ezza jalan berdua dengan Iza. Mungkin itu pacarnya. Saatnya, Via
sudah menemukan jawaban dari cinta segitiganya. Yaitu Irvan. Irvan lah yang
harus ia pilih karena Irvan yang lebih dahulu mengenalnya. Irvan
lah yang selalu ada untuknya.
Sore
ini terlihat agak mendung. Via
berjalan seorang diri di pinggir jalan raya. Tiba-tiba matanya tertuju pada
seseorang yang dikenalnya. Malah yang dicintainya. Irvan! Sedang apa ia disana?
Bermesraan sama cewek? Hati Via semakin sedih. Ia berlari dan berlari sampai
tidak sadar kalau ada mobil yang menabraknya
dengan keras. Irvan mengetahui hal itu dan langsung berlari menuju Via
yang sedang terbaring lemah di aspal dipenuhi darah merah yang segar. Mobil
yang menabrak Via tadi pergi tanpa bertanggung jawab dengan kesalahannya.
Dari jauh, ada mobil Xenia datang menemui Irvan yang
tengah menangis. Ezza! Ezza yang mengemudikan mobil Xenia itu. Via dibawa ke
rumah sakit terdekat.
_________________________
Semua keluarga Via menagis melihat Via yang terbaring
lemah di ranjang rumah sakit. Irvan menatap wajah pucat Via dengan rasa
bersalah.
“Via, bangun Via, gue mau jadi pacar Lo..”
Tiba-tiba, tangan putih Via bergerak memegang tangan
Irvan. Semua orang berdesir melihat kejadian
itu.
“Via, akhirnya Lo bangun juga.”
Via tersenyum. Rasanya, senyuman itu adalah senyuman
terakhir yang ia berikan kepada orang-orang yang dicintainya.
“Irvan…Ezza..”
Suara lemah Via memanggil dua nama lelaki yang
dicintainya itu.
“Gue sayang sama kalian berdua. Kalianlah cinta pertama
gue. Maafin gue ya kalo gue banyak salah sama kalian. Untuk Iza, jadilah cinta
sejati Ezza. Dan untuk Zeva, jadilah yang terbaik buat Irvan. Gue..gue
senang ngeliat kalian berempat bahagia. Hiduplah dengan damai walau gue nggak
ada..”
Setelah Via mengucapka kalimat itu, matanya pun tertutup.
Tangannya berhenti bergerak. Senyum indahnya semakin
lama semakin menghilang. Semua orang yang melihat Via menangis terisak-isak
melihat kepergian seorang Via yang mereka cintai dan mereka sayangi.
Semoga Tuhan menerima amal perbuatan yang dilakukan Via
selama ia hidup di dunia ini.
Amiin…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar